HUBUNGI, KAMI SIAP ANTAR!

Sehat-Sinergis secara herbal, membangun kesehatan dan kesejahteraan bersama secara sehat sinergis. Bekerjasama dengan Synergy WordWide (Independent Distributor from United State of America) untuk selengkapnya untuk pembelian atau pemesanan dengan perjanjian hubungi Ibu Liong di nomor: 021-33431704 Hubungi kami di email: sehat.sinergis@gmail.com. Ada uang baru barang diantar. Carilah lebih dulu kesehatan, baru yang lainnya.

Minggu, 07 Mei 2017

PSIKOLOGI: Titik Tengah (KRISTI POERWANDARI)

Dunia saat ini tampaknya sedang enggan mencari titik tengah. Yang keras suaranya dan lebih mendominasi adalah yang me-lain-kan dan meminggirkan yang berbeda. Melihat yang lain atau yang berbeda buruk, lebih rendah, perlu disingkirkan, bahkan dihukum. Di Amerika Serikat ada Donald Trump yang bahkan sebelum dilantik pun sudah menuai banyak protes untuk sejumlah pemikirannya yang kontroversial dan me-lain-kan yang berbeda. Di Perancis ada Marine Le Pen yang berjuang untuk dapat menjadi pemimpin puncak. Di negara-negara lain juga ada. Di Indonesia hadir politisasi identitas dan SARA dalam pilkada, bahkan wacana yang mulai mengaitkannya dengan Pemilu 2019.

Mayoritas-minoritas

Politisasi identitas dan SARA membuat hidup menjadi tidak nyaman untuk semua. Yang merasa mayoritas (dalam jumlah), "lebih asli" (entah dalam hal kemurnian agama, atau ke-pribumi-an), lebih berjasa, atau lebih benar (dalam pandangan agama dan moral) dipanas-panaskan hatinya. Diingat-ingatkan bahwa mereka mayoritas agar merasa terganggu oleh kehadiran kelompok yang dianggap minoritas atau tidak normatif. Yang "berbeda" atau diwacanakan "berbeda" dituntut menyesuaikan, tahu diri, dan menerima untuk ditempatkan dalam posisi inferior. Mereka dianggap sekadar numpang, lebih rendah posisinya dan harus dibatasi haknya.

Kelompok yang diposisikan minoritas, apa pun dasar penggolongan itu, merasa lebih tidak nyaman lagi. Ada perasaan kecil hati atau marah karena diperlakukan tidak adil. Juga rasa takut kalau-kalau jadi sasaran kebencian. Politik yang menekan-nekankan perbedaan membuat yang berbeda lebih rentan menjadi korban diskriminasi dan kekerasan. Sejarah sudah menunjukkan hal itu di berbagai belahan dunia.

Sekilas mungkin kita setuju bahwa yang mayoritas dalam hal jumlah, wajar atau harus diberi hak lebih besar. Dan yang minoritas perlu tahu diri dan menerima posisinya yang tidak seberuntung yang mayoritas. Benarkah demikian?

Kita membaca jajak pendapat yang belum lama dilakukan Reuters bahwa penduduk Amerika Serikat yang menyetujui kebijakan Trump menghalangi masuknya imigran berjumlah lebih besar daripada yang menentangnya. Dan imigran, bagaimanapun, adalah kelompok minoritas.

Tetap di batin kita ada perasaan bahwa hal tersebut bukan kebijakan baik, bukan kebijakan benar, bukan kebijakan adil. Bukan sekadar karena yang ditolak untuk masuk Amerika Serikat itu kebetulan memiliki kesamaan-kesamaan dengan kita (misal, dari sisi ras atau agama). Namun, karena prasangka sosial dan sikap diskriminatif akan memecah belah. Karena ada nilai-nilai universal yang harus dijunjung tinggi, yakni penghormatan akan hak-hak manusiawi setiap orang siapa pun ia.

Menjaga titik tengah

Menentang populisme di negara lain, tetapi membiarkannya atau bahkan mengadvokasikannya di negara sendiri, merefleksikan inkonsistensi berpikir dan kurangnya integritas. Menjadi praktik politik yang tidak bertanggung jawab dan berbahaya.

Politik yang mempertajam perbedaan menghadirkan penghayatan individu dan psikologi massa yang sangat berpotensi membawa banyak masalah. Segala sesuatu-termasuk yang sebelumnya tidak terlihat ada hubungannya-akhirnya dapat dan dicari-cari kaitannya. Makin kuatlah sikap memperlawankan "kita" (mayoritas, yang normatif, yang benar, yang harus dilindungi) versus "mereka" (minoritas, tidak asli, menentang norma, salah, harus disingkirkan).

Satu contoh saja, mengejutkan bahwa belum lama ini mendadak ada perguruan tinggi negeri, yang mengumumkan dalam lamannya, calon mahasiswa harus menandatangani surat pernyataan bahwa ia bukan LGBT dan bersedia dikeluarkan apabila pernyataannya tidak benar.

Para pemimpinnya lupa bahwa konstitusi negara menjamin hak yang sama bagi siapa pun juga untuk memperoleh pendidikan. Kaum terpelajar kehilangan kemampuan berpikir kritis, gagal bersikap jujur, dan tak mampu menetapkan prioritas yang lebih penting dalam menjalankan tugasnya membangun pengetahuan. Tidak ikut menyelesaikan malah menambah persoalan sosial.

Di tingkat individu, orang makin merasa takut dan terancam sebagai kelompok minoritas. Atau sebaliknya, makin jemawa sebagai bagian dari kelompok mayoritas yang merasa "lebih bermoral". Di tingkat hubungan interpersonal dan sosial akan makin banyak gesekan yang susul-menyusul karena kemarahan, prasangka, dan perbedaan pendapat dari kelompok-kelompok berbeda.

Menarik membaca penelitian dari Lin, Lin, Huang, dan Chen (2016) dalamJournal of Happiness Studies. Mereka menemukan bahwa individu yang lebih mampu melihat diri dan orang lain sebagai sesama (menghayati "ke-kita-an" bersama orang- orang lainnya) akan lebih nyaman dan sehat mental hidup dalam berbagai perbedaan. Akan berkompromi mencari titik-titik tengah persamaan dalam pergaulan hidupnya.

Dalam hidup berbangsa, politisasi identitas dan SARA adalah persoalan sangat serius. Saya jadi teringat akan disertasi guru saya, Prof Fuad Hassan (alm), yang bicara mengenai perlunya kita memperkuat penghayatan ke-kita-an daripada ke-kami-an yang memisah-misahkan kelompok-kelompok berbeda. Politik "ke-kami-an" menghadirkan berbagai emosi dan tindak negatif, perpecahan, pembenaran kekerasan, legitimasi tindakan-tindakan intoleran, serta penghalalan cara demi tujuan.

Pancasila bukan sekadar kompromi, melainkan titik tengah yang sangat indah. Dalam berbagai perbedaan, kita mencari persamaan-persamaan dan menjunjung tinggi kemanusiaan. Barangkali saja ia pernah dimanfaatkan untuk kepentingan penguasa. Namun, dalam dirinya sendiri, Pancasila membawa nilai-nilai universal yang melindungi dan menumbuhkan semua. Bahkan, relevan untuk konteks di luar Indonesia.

Kita bersyukur dianugerahi titik tengah yang sangat indah. Mari mengingat kembali, mengucapkan kembali, mengajarkan maknanya kepada anak-anak kita. Bersama menjaga dan menghidupkannya dalam perasaan, pikiran, sikap hidup, dan perbuatan nyata.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 6 Mei 2017, di halaman 25 dengan judul "Titik Tengah".

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Tidak ada komentar:

Related Posts with Thumbnails

Synergy Worldwide, Andalkan Vital 3!

Synergy Worldwide, Andalkan Vital 3!
Synergy Worldwide, Andalkan Vital 3!

Skincare: The Revolution in Anti-Aging

Skincare: The Revolution in Anti-Aging
Dokumen Sehat Sinergis

Pilihan Investasi

Pilihan Investasi
Ada dua pilihan: jika Ikut Menjadi Member Bisnis Synergy
Word of the Day

Article of the Day

This Day in History

Today's Birthday

In the News

Quote of the Day

Spelling Bee
difficulty level:
score: -
please wait...
 
spell the word:

Match Up
Match each word in the left column with its synonym on the right. When finished, click Answer to see the results. Good luck!

 

Hangman

Hubungi, kami siap melayani anda:

Untuk info lanjut
hubungi:

Ibu Liong (021-33431704)


Sertifikasi Produk Synergy WorldWide

Produk -produk Synergy / NSP di Indonesia telah terdaftar pada Departemen Kesehatan RI dan memiliki izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM), serta memperoleh sertifikat Halal dari IFANCA (The Islamic Food and Nutrition Council of America) yang disahkan oleh LP POM MUI.