HUBUNGI, KAMI SIAP ANTAR!

Sehat-Sinergis secara herbal, membangun kesehatan dan kesejahteraan bersama secara sehat sinergis. Bekerjasama dengan Synergy WordWide (Independent Distributor from United State of America) untuk selengkapnya untuk pembelian atau pemesanan dengan perjanjian hubungi Ibu Liong di nomor: 021-33431704 Hubungi kami di email: sehat.sinergis@gmail.com. Ada uang baru barang diantar. Carilah lebih dulu kesehatan, baru yang lainnya.

Minggu, 16 April 2017

PSIKOLOGI: Keadilan, Kepedulian, dan Rancangan KUHP (KRISTI POERWANDARI)

Bunga (14), nama samaran, menjadi korban pemerkosaan lima pemuda di desanya hingga hamil delapan bulan. Kasus akhirnya ditangani Polres Sidoarjo. Setelah tidak dapat menyembunyikan kehamilannya, baru ia berani bercerita telah diperkosa oleh 5 laki-laki, 2 di antaranya berusia anak.

"Ia disetubuhi oleh lima orang secara bergiliran saat berangkat mengaji. Anak saya mengaku disekap di kamar. Setelah kejadian itu, anak saya diancam akan dibunuh jika mengadu," kata Ibu Bunga. Sejak tetangga mengetahui ia menjadi korban pemerkosaan, Bunga dan keluarganya malah dikucilkan dan diusir dari lingkungan sekitar. Beruntung mereka masih mendapatkan izin untuk tinggal di bekas kandang bebek yang terbuat dari anyaman bambu. (Dipadatkan secara bebas dari beritajatim.com, 21 Mei 2016).

Bagaimanakah cara pikir dan perilaku kita (masyarakat) diatur oleh hukum? Apakah hukum dimaksudkan untuk membalas dendam, menebarkan rasa takut, ataukah menghadirkan kepedulian dan memberikan rasa keadilan bagi semua pihak? Apakah hukum peduli dan dapat melindungi semua? Atau hukum ternyata menguntungkan pihak-pihak tertentu dan merentankan posisi pihak-pihak lain?

Tindak pidana kesusilaan

Saat ini, sedang didiskusikan Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang baru, untuk menggantikan KUHP warisan pemerintahan Hindia-Belanda yang berlaku hingga saat ini. Bagaimanakah napas dan isi Rancangan KUHP yang menjadi salah satu prioritas bahasan untuk segera diundangkan itu?

Kita mendapati bahwa kasus kekerasan seksual itu merupakan fenomena gunung es. Yang terjadi signifikan lebih banyak daripada yang teridentifikasi atau dilaporkan. Jika pun dilaporkan, cukup banyak laporan yang kemudian dicabut oleh korban atau keluarganya karena takut dipersalahkan atau tidak mampu membela diri ketika disudutkan. Korban paham bahwa bersaksi menjelaskan kekerasan seksual yang dialami bukan perkara mudah. Stres pascatrauma menyulitkan mereka bercerita dengan jelas dan runut, serta bercerita berulang-ulang dapat menyebabkan munculnya kembali berbagai ingatan dan bayangan visual yang menyakitkan soal kejadian.

Sementara itu, pelaku—apalagi yang "profesional", paham mengenai posisi tawarnya yang lebih berkuasa, atau paham hukum—mungkin justru dapat bercerita dengan lebih sistematis dan runut. Mereka mencari lubang-lubang dan kerentanan dari sisi korban untuk dapat merekayasa cerita yang lebih meyakinkan di benak masyarakat umum dan penegak hukum, bahwa kesalahannya ada pada korban.

Sama seperti KUHP yang sekarang berlaku, Rancangan KUHP yang baru menempatkan pemerkosaan dan bentuk-bentuk kejahatan seksual dalam bagian "Tindak Pidana Kesusilaan". Ada bias pemahaman dari para penyusunnya, seolah-olah kekerasan seksual tidak berdampak pada korban dan menjadi tindak pidana "sekadar" karena ada perilaku yang tidak sesuai dengan kesusilaan.

Pemerkosaan adalah kejahatan yang dapat sangat merugikan korban, mulai dari menderita luka fisik, menghayati trauma psikologis, mendapat stigma negatif dari masyarakat, terkena infeksi menular seksual, hingga tiba-tiba mengalami kehamilan tidak dikehendaki yang mengubah seluruh hidup korban. Dengan menggolongkan kekerasan seksual dalam "tindak pidana kesusilaan", orang tidak terbantu untuk peduli pada korban yang dapat mengalami berbagai dampak sangat menyakitkan.

Lebih lanjut, masyarakat diajak untuk melihat kekerasan seksual sekadar sebagai "aktivitas seksual tidak susila", dan ini memudahkan pemindahan penyalahan kepada korban. Korban dianggap menikmati, mengundang karena berjalan sendiri pada malam hari atau berpakaian kurang tertutup. Korban dapat dituduh sebagai "tidak susila" karena sudah tidak perawan, berasal dari keluarga yang "tidak benar", dan karena itu malah lebih dihakimi daripada sang pelaku kekerasan seksual.

Memastikan kepedulian

Selain persoalan kekerasan seksual, ada beberapa aturan yang sebelumnya tidak ada dalam KUHP dan masuk dalam Rancangan KUHP yang baru. Hal itu misalnya mengenai pemidanaan hubungan seksual (hidup bersama sebagai suami-istri) di luar pernikahan sah. Ini memungkinkan orang mengadukan pihak lain yang hidup bersama di luar pernikahan yang sah, termasuk istri/suaminya yang berselingkuh.

Apakah pasal tersebut memang sungguh diperlukan ataukah kehadirannya justru dapat menghadirkan berbagai permasalahan baru? Orang per orang dan komunitas berbeda dapat menjalankan praktik hidup berbeda dan kita dapat saja secara moral tidak setuju tindakan orang lain (misal: berhubungan seksual di luar nikah). Akan tetapi, menganggap itu tindak kriminal dan memidanakannya dapat menghadirkan berbagai persoalan baru, termasuk merentankan posisi kelompok lain. Bagaimana dengan penghayat kepercayaan yang "tidak diakui negara" dan tidak tercatat perkawinannya?

Terkait kasus suami/istri yang berselingkuh dan kemudian dilaporkan melakukan tindak pidana, apakah motif yang melaporkan sungguh ingin meninggikan kesucian perkawinan, ataukah ingin membalas dendam dan menghukum? Jika hukum pidana dimaksudkan menjadi solusi yang sungguh-sungguh paling akhir, dari perspektif psikologi menghukum untuk membalas dendam justru menghadirkan berbagai persoalan baru. Standar ganda seksualitas yang menuntut kesetiaan dan kesucian dari perempuan juga akan membuat perempuan lebih rentan menjadi terhukum dari pasal ini.

Dalam rancangan yang baru, ada klausul yang menyatakan perlunya keseimbangan berbagai hal, termasuk antara hukum tertulis dan hukum yang hidup dalam masyarakat. Bagaimanakah memastikan bahwa hukum sungguh dapat melindungi korban tindak pidana, khususnya korban kekerasan seksual? Kita tidak mau lagi ada korban yang sudah menderita dibuat makin menderita, seperti dikawinkan dengan pemerkosanya, atau dikucilkan atas nama "praktik kebiasaan dan hukum yang hidup dalam masyarakat". Tampaknya kita perlu ikut mempelajari pasal-pasal dalam Rancangan KUHP yang baru untuk memastikan bahwa KUHP baru yang akan disahkan sungguh dapat menghadirkan kepedulian dan keadilan bagi semua.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 15 April 2017, di halaman 25 dengan judul "Keadilan, Kepedulian, dan Rancangan KUHP".

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Tidak ada komentar:

Related Posts with Thumbnails

Synergy Worldwide, Andalkan Vital 3!

Synergy Worldwide, Andalkan Vital 3!
Synergy Worldwide, Andalkan Vital 3!

Skincare: The Revolution in Anti-Aging

Skincare: The Revolution in Anti-Aging
Dokumen Sehat Sinergis

Pilihan Investasi

Pilihan Investasi
Ada dua pilihan: jika Ikut Menjadi Member Bisnis Synergy

Hubungi, kami siap melayani anda:

Untuk info lanjut
hubungi:

Ibu Liong (021-33431704)


Sertifikasi Produk Synergy WorldWide

Produk -produk Synergy / NSP di Indonesia telah terdaftar pada Departemen Kesehatan RI dan memiliki izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM), serta memperoleh sertifikat Halal dari IFANCA (The Islamic Food and Nutrition Council of America) yang disahkan oleh LP POM MUI.