Cari uang di internet

Mau beriklan?

Your Ad Here

HUBUNGI, KAMI SIAP ANTAR!

Sehat-Sinergis secara herbal, membangun kesehatan dan kesejahteraan bersama secara sehat sinergis. Bekerjasama dengan Synergy WordWide (Independent Distributor from United State of America) untuk selengkapnya untuk pembelian atau pemesanan dengan perjanjian hubungi Ibu Liong di nomor: 021-33431704 Hubungi kami di email: sehat.sinergis@gmail.com. Ada uang baru barang diantar. Carilah lebih dulu kesehatan, baru yang lainnya.

Kamis, 19 Juni 2014

Sembelit Bukan Cuma karena Kurang Serat

Banyak orang menyangka kurang makan serat sebagai penyebab sembelit. Padahal, ada banyak pemicu sembelit, misalnya saja gaya hidup kurang bergerak, obat-obatan, stres, hingga hormonal.

Sembelit merupakan kondisi yang ditandai dengan kesulitan BAB, frekuensi BAB kurang dari 3 kali seminggu, feses keras, keluarnya tinja berbentuk bulat-bulat kecil, atau perasaan tidak tuntas saat BAB.

"Proses terjadinya buang air besar terjadi karena tiga faktor, ada feses yang bergerak menuju bagian kolon karena ada air. Ada serat yang membentuk feses, dan juga pergerakan usus," kata dr.Ari Fahrial Syam, Sp.PD (K), dalam acara peluncuran situs bebassembelit.com di Jakarta (18/6/14).

Karena itu, agar BAB lancar kita bukan cuma perlu rajin mengonsumsi makanan mengandung serat, tapi juga perlu cukup air dan aktif bergerak.

Selain itu, ada faktor lain yang bisa menyebabkan sembelit. Antara lain faktor hormonal pada wanita, kehamilan, terlalu banyak daging dan kurang serat.

"Obat-obatan tertentu juga bisa menyebabkan efek samping sembelit, misalnya obat hipertensi, antidepresi, suplemen kalsium, atau suplemen zat besi," papar Ari.

Penyakit kronik seperti diabetes melitus, stroke, parkinson, tumor pada saluran cerna, dan riwayat pelecehan seksual juga bisa membuat proses buang air besar terhambat.

"Tak sedikit pasien yang datang karena keluhan sembelit meski sudah banyak makan serat dan minum air. Setelah diteropong pun ususnya normal. Ternyata pemicunya karena stres. Jadi semua faktor harus diperiksa," katanya.

Sementara itu, meski kita perlu mengasup serat 25 gram setiap harinya, namun sebaiknya kita memenuhinya dari sumber alami seperti sayur, buah, atau sumber serelia utuh. "Idealnya serat berasal dari sayur dan buah, minum suplemen serat sebaiknya hanya jika diperlukan saja, bukan untuk setiap hari. Selain itu jika minum suplemen serat harus diimbangi dengan banyak minum air," tandasnya.


Sumber: http://m.kompas.com/health/read/2014/06/19/1648518/Sembelit.Bukan.Cuma.karena
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Selasa, 17 Juni 2014

7 Manfaat Menguasai Bahasa Asing bagi Otak

Menguasai bahasa asing kini sudah menjadi keharusan jika kita ingin bersaing di dunia kerja dan pendidikan. Mahir berbahasa asing juga sangat membantu hobi berwisata ke mancanegara.

Namun selain alasan-alasan tersebut, beberapa penelitian menunjukkan bahwa berbicara lebih dari satu bahasa sebenarnya menyehatkan, terutama untuk bagian otak. Ketahui apa saja manfaatnya.

1. Kelenturan kognitif
Orang dewasa yang bisa berbicara dua bahasa sejak masih anak-anak diketahui memiliki fleksibilitas kognitif yang lebih baik. Ini berarti, mereka lebih mampu beradaptasi di lingkungan baru atau yang tak terduga.

2. Otak lebih tajam
Manfaat ini juga dirasakan oleh mereka yang belajar bahasa asing pada usia dewasa. Mereka yang menguasai dua atau lebih bahasa asing memiliki kemampuan yang lebih baik dalam membaca dan juga kecerdasan.

3. Melihat kata secara berbeda
Orang yang menguasai dua bahasa akan memproses beberapa kata dengan lebih cepat, terutama dua kata yang punya arti sama dalam dua bahasa itu.

4. Menunda penyakit Alzheimer
Walau tidak membuat kita imun terhadap penyakit Alzheimer, tetapi orang yang bilingual ternyata penyakitnya lebih lama muncul dibanding orang yang bicara satu bahasa.

5. Kemampuan memecahkan masalah
Anak-anak yang menguasai dua bahasa juga memiliki hasil tes memecahkan masalah yang lebih baik. Dalam studi yang melibatkan 121 anak ini, mereka diminta mengerjakan pengulangan angka, soal matematika, serta membuat pola balok berwarna.

6. Otak lebih cepat saat berpindah
Anak-anak yang mempelajari lebih dari satu bahasa ternyata lebih cepat mengganti atau beralih perhatiannya saat tugas-tugas diberikan.

7. Pengambil keputusan yang baik
Orang yang berpikir dalam bahasa lain ternyata cenderung membuat keputusan yang rasional. Orang yang melakukan proses berpikir dalam bahasa lain juga tidak terlalu menggunakan emosi saat membuat keputusan.

Sumber: http://m.kompas.com/health/read/2014/06/17/1535246/7.Manfaat.Menguasai.Bahasa
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Minggu, 15 Juni 2014

6 Alasan Mengapa Perut Gampang Kembung

Bukan hanya menyebabkan rasa tidak nyaman, perut kembung dan bergas juga terkadang memalukan. Perut kembung bisa disebabkan karena kita makan terlalu rakus tapi juga karena tubuh tidak mampu memecah gas.

Jika udara di dalam perut tidak bisa dilepaskan, udara akan menumpuk di perut dan saluran cerna sehingga membuat perut terasa "begah" seperti balon.

Ketahui apa saja penyebab mengapa perut mudah kembung.

1. Stres
Ketika kita sedang menghadapi stres berat, terkadang tubuh memberikan reaksi dengan mengalirkan darah menjauh dari proses di bagian saluran cerna. Akibatnya, kita bisa mengalami kembung, sulit BAB, diare, atau perut terasa mulas.

Selain stres itu sendiri menyebabkan kembung, terkadang kebiasaan kita saat menghadapi stres atau cemas, seperti mengunyah permen karet, minum softdrink, dan lain sebagainya, malah memperburuk kondisi perut. Kebiasaan itu mendorong lebih banyak udara ke perut.

2. Obat-obatan
Obat-obatan bisa menyebabkan berbagai efek samping, termasuk perut kembung. Obat yang mengandung laktulosa atau sorbitol, atau obat diabetes, sering menyebabkan perut kembung.

3. Makan kebanyakan
Makan terlalu banyak, mengunyah cepat-cepat, atau kebiasaan minum dari sedotan, juga dapat memicu udara berkumpul di perut. Selain itu, proses mengunyah yang tidak sempurna juga akan mengurangi kemampuan tubuh mencerna karbohidrat. Ini bisa membentuk lebih banyak gas di perut sehingga kita merasa tidak nyaman.

4. Dehidrasi
Seperti halnya ketika kita menjalani diet ketat dan tubuh menahan lemak akibat mengira kita kelaparan, saat dehidrasi tubuh juga akan menahan cairan. Jika Anda merasa tubuh menahan cairan, yang antara lain ditandai dengan perut kembung dan jarang pipis, ini bisa jadi pertanda untuk minum lebih banyak lagi. Hindari minuman mengandung soda.

5. Makanan mengandung gas
Beberapa jenis makanan memang menyebabkan gas, misalnya saja brokoli, kol, kale, buah apel, dan juga alpukat. Mengonsumsi kebanyakan garam juga menyebabkan tubuh menahan cairan sehingga kita merasa perut membesar. Mengonsumsi serat, terutama dari suplemen, tanpa cukup minum juga akan memicu perut lebih bergas.

6. Kondisi medis
Ada banyak gangguan medis yang berkaitan dengan pencernaan, seperti penyakit caliac, kanker, atau stres pada usus, kerap kali menyebabkan gejala perut kembung.

Sumber: http://m.kompas.com/health/read/2014/06/13/0817446/6.Alasan.Mengapa.Perut
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Rabu, 11 Juni 2014

Sering Kantongi Ponsel, Pria Bisa Sulit Punya Anak

Banyak pria yang memilih menaruh ponsel di saku celana mereka demi alasan kepraktisan. Namun, siapa yang sangka kebiasaan tersebut justru dapat merusak sperma dan mengurangi kesuburan.

Tim peneliti melakukan analisis temuan yang dikumpulkan dari 10 studi tentang dampak paparan ponsel terhadap fertilitas pria. Dibandingkan dengan pria yang tak sering mengantongi ponsel, pada pria yang hobi menaruh ponsel di saku sekitar 50-85 persen dari sel spermanya mengalami abnormalitas untuk bergerak ke depan menuju sel telur.

Menurut studi yang dipublikasi dalam jurnal Environmental International tersebut, efek serupa juga terlihat pada viablitas sperma, atau proporsi sperma yang hidup. Sementara efek pada konsentrasi sperma belum jelas.

Peneliti mengatakan, kebanyakan orang dewasa di seluruh dunia memiliki ponsel dan sekitar 14 persen pasangan di negara maju maupun berkembang mengalami kesulitan untuk punya anak. Mereka mencatat, studi sebelumnya menyatakan radiasi elektromagnetik frekuensi radio yang dikeluarkan ponsel dapat merusak sperma.

"Mengingat betapa besarnya skala penggunaan ponsel di seluruh dunia, dampak paparannya perlu diklarifikasi," ujar ketua penelitian Fiona Mathews, dari departemen biosains di University of Exeter di Inggris.

Ia mengatakan, studi ini secara kuat menunjukkan bahwa paparan radiasi elektromagnetik frekuensi radio dari menaruh ponsel di saku celana dapat berakibat negatif pada kualitas sperma. Menurutnya, ini merupakan peringatan penting bagi pria khususnya terkait kesuburan.

"Penelitian lanjutan perlu dilakukan untuk menentukan implikasi klinis secara keseluruhan pada populasi umum," ujarnya.

Meski begitu, studi tidak membuktikan hubungan sebab-akibat dari kebiasaan meletakkan ponsel di saku celana dengan kemandulan.

Sumber: http://m.kompas.com/health/read/2014/06/11/1600372/Sering.Kantongi.Ponsel.Pria.Bisa.Sulit.Punya.Anak
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Selasa, 10 Juni 2014

Mengapa Demam Berdarah Bisa Mematikan?

Dengan risiko kematian mencapai 0,9 persen, penyakit demam berdarah jelas bukanlah penyakit yang bisa diremehkan. Apalagi kasus penyakit ini mencapai 140.000 setiap tahunnya.
 
"Kalikan saja 0,9 persen dengan 140.000, sudah 1.400 dalam setahun. Sehingga dalam sebulan paling tidak rata-rata ada 100 kematian karena DBD di Indonesia," kata dr.Leonard Nainggolan, Sp.PD, dalam diskusi kesehatan SOHO #BetterU bertajuk Waspadai Kebocoran Plasma Saat DBD pada Selasa (10/6/2014) di Jakarta.
 
Ia menjelaskan, DBD bisa menyebabkan kematian jika pasien tidak bisa melewati fase kritis dengan baik. Pada fase kritis, virus dengue penyebab DBD mulai beraksi merusak celah antarsel di pembuluh darah.
 
Ketika celah antarsel ini melebar, maka cairan pada darah akan keluar melalui celah ini. Diketahui, darah terdiri dari dua komponen yaitu plasma yang berupa cairan dan sel darah. Meski plasma darah bisa keluar, namun celah tidak cukup besar untuk sel darah untuk keluar.
 
"Jika plasma darah keluar, maka darah akan menjadi lebih kental, karena konsentrasi sel darah berbanding dengan plasma akan lebih banyak dari yang biasanya," tutur dia.
 
Ia menganalogikan dengan cairan gula. Bila satu sendok gula biasa dilarutkan dalam satu gelas air, larutan gula akan lebih pekat bila gula hanya dilarutkan dalam setengah gelas air.
 
Nah, komplikasi pengentalan darah inilah yang berakibat fatal. Leonard menjelaskan, darah yang lebih kental akan lebih sulit dialirkan ke seluruh tubuh. Lama kelamaan organ-organ tubuh akan kekurangan pasokan oksigen dari darah.
 
Kurangnya oksigen pada organ akan menganggu fungsinya. Jika dibiarkan, pasien akan mengalami kegagalan multiorgan dan meninggal.

Sumber: http://m.kompas.com/health/read/2014/06/11/0755002/Mengapa.Demam.Berdarah.Bisa.Mematikan.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Jumat, 06 Juni 2014

Awas Maut... Ini Serangan Jantung, Bukan Masuk Angin!

Banyak orang mengenal serangan jantung seperti yang digambarkan dalam film atau sinetron, yakni mata mendelik, dada sesak, dan tangan memegangi dada ketika pingsan. Padahal, adakalanya rasa sakit tidak mengikuti pola tertentu, bahkan tanpa diikuti rasa nyeri dada.

Simak kisah serangan jantung seperti yang dialami M Latief (38). Jurnalis yang memiliki hobi naik gunung ini mengalami serangan jantung ringan dengan gejala mirip masuk angin. Inilah pengalamannya.

Serasa baru selesai joging jarak jauh, keringat seketika mengucur deras dari kening, leher, dan sebagian badan saya. Anehnya, itu keringat dingin, bukan hangat. Dingin sekali.

Sedetik keringat menderas, tiba-tiba dada juga terasa sesak, diikuti tengkuk hingga bahu yang menegang. Fun City, tempat permainan anak Margo City, Depok, tempat saya berdiri itu, seperti pelan-pelan menyempit, mengimpit.

Pikiran saya mulai kalut. Maklum, baru kali ini mendadak kondisi badan drop secepat itu dengan tanda-tanda yang aneh, tak biasanya.

Ketika itu, rasa sesak di dada semakin menjadi. Awalnya memang sesak biasa, tetapi perlahan-lahan makin terasa nyeri, seperti diremas-remas dengan keras, bahkan lebih dari itu, seperti diinjak-injak. Napas makin sulit.

"Aneh, kok begini," batin saya.

Maklum, perubahan kondisi tubuh mendadak seperti ini baru saya alami. Rasanya seperti masuk angin, tetapi anehnya bukan seperti masuk angin biasa. Lebih dari masuk angin.

Pelan-pelan saya coba bernapas. Keringat makin deras. Kaki juga mulai lemas.

Ada sekitar hampir tiga menit perubahan aneh itu berlangsung pada diri saya. Saya lalu panggil kedua anak saya.

"Abang, adik, ayo udahan dulu mainnya. Dada ayah sesak, ayah mau ke dokter sekarang. Nanti kalau ketemu ibu, kamu bilang ke ibu ya, Bang, dada ayah sesak dan keluar keringat dingin," kata saya kepada kedua putra saya, Azka (9) dan Azzam (5).

Sebelum kejadian itu, istri saya memang izin pergi sejenak ke toilet. Hanya saya yang menemani kedua anak saya di tempat hiburan di lantai dasar pusat belanja tersebut. Namun, tak sampai lima menit istri saya pergi, kejadian itu berlangsung.

Saya dan kedua anak saya pun bergegas ke lantai satu, menyusul istri saya. Prinsip saya, jalan pelan-pelan dan usahakan tetap sadar atau tidak pingsan. Otak saya hanya memerintah untuk selekasnya ke rumah sakit.

Hanya dituntun dua bocah berumur belum genap 10 tahun, saya cuma bisa pasrah. Sambil menahan sesak, saya berjalan pelan-pelan dituntun kedua anak saya. Azka di kiri, Azzam memegang tangan kanan.

Saya tak menghiraukan ramainya pusat belanja ini. Meskipun kepala tidak terasa pusing, kaki saya lemas sehingga saya harus pelan-pelan mengikuti langkah kedua anak saya. Bahkan, dengan berusaha tetap tenang, kami bisa melewati eskalator menuju lantai satu.

"Lho, kamu kenapa? Kok dingin banget? Kamu masuk angin nih kayaknya," kata istri saya, setelah kami bertemu dengannya.

Azka, anak saya yang nomor satu memotong. "Dada ayah sesak, keringatnya dingin Bu, ayah minta ke dokter," ujar Azka.

Saya masih sadar, tetapi saya memang sudah tak mau bicara apa-apa. Dada saya makin sesak. Karena itu, saya biarkan anak saya yang bicara untuk menghemat energi supaya tidak pingsan.

"Kamu masuk angin nih. Ya sudah, kita pulang sekarang saja ya," kata istri saya.

"Enggak, ini aneh. Rumah sakit... ke rumah sakit sekarang," kata saya.

"Kok ke rumah sakit. Pulang aja ya. Kamu tunggu dan duduk di sini, aku beli minyak angin dulu," jawab istri saya.

Nyaris, marah saya meledak. Tetapi saya sadar, marah hanya akan menguras energi. Jadi, saya acuhkan ucapan istri saya.

Saya juga tak mau duduk, tetapi tetap berdiri sembari berpegangan pada dinding mal. Pikir saya, duduk hanya akan bikin sesak di dada semakin parah.

Setengah berlari, istri saya kembali menghampiri. Dia baru selesai dari apotek.

"Kamu masuk angin nih, sini aku olesin dada kamu. Punggungnya juga sini," kata istri saya.

Saya diamkan istri saya berbuat demikian. Tetapi, hati saya makin kuat bahwa ini bukan masuk angin. Entah, feeling saya bilang lain.

"Sekarang ke rumah sakit. Cari taksi sekarang. Ini jantung, jantung," bentak saya.

Tanpa banyak cakap, kami berempat bergegas ke luar pusat belanja. Dari tempat kami berdiri, gerbang mal ini masih sekitar 200 meter.

Rasanya, sudah lebih dari lima menit perubahan aneh pada kondisi badan saya ini berlangsung. Saya sadari itu. Maka, pelan-pelan kami berjalan melewati kerumunan. Saya dituntun kedua anak saya di kiri dan kanan. Istri saya berjalan di belakang untuk menahan punggung saya.

"Itu taksi," kata istri saya, beberapa meter di pintu gerbang.

"Pak, ke rumah sakit ya, yang paling dekat," ujar istri saya.

Taksi langsung meluncur. Namun, baru sesaat masuk ke jalan raya, panik mulai melanda. Bukan apa-apa, dada saya makin sesak. Dashboard taksi ini seperti mengimpit. Badan saya juga makin lama semakin lemas.

"Tuhan... saya ingin sampai lebih dulu ke rumah sakit, jangan dulu biarkan saya mati," batin saya terus berkata demikian di antara istigfar saya di mulut.

Doa saya terkabul. Saya sadari itu meskipun mata saya terpejam menahan sakit di dada. Pasalnya, Jalan Margonda Raya yang biasanya macet pada hari libur, siang itu nyaris lengang. Hari itu, Kamis, 29 Mei 2014, adalah hari libur Kenaikan Isa Almasih.

Tak sampai 10 menit, saking ngebutnya, taksi sudah berbelok ke Rumah Sakit Mitra Keluarga, tak jauh dari Terminal Depok.

Tiba di UGD, semangat saya kembali muncul. Saya keluar dari taksi sendiri tanpa dibantu sopir taksi. Saya berjalan pelan-pelan, dan tetap diapit kedua anak saya serta istri saya yang menahan bahu saya dari belakang.

"Dada sesak, keringat dingin," ujar istri saya ke petugas UGD yang datang membuka pintu sembari menyorongkan tempat tidur.

Saya ingat betul, saat itu saya langsung diminta duduk di tepi tempat tidur dan diminta diam sebentar.

"Angkat lidahnya, Pak, telan ini dan habiskan," ujar seorang petugas sembari memasukkan obat berbentuk bubuk ke balik lidah saya.

Sekonyong-konyong, selesai melumat obat tersebut, nyeri di dada saya perlahan menghilang. Petugas pun meminta saya berbaring, dan kemudian memasangkan selang oksigen ke hidung saya. Tangan kiri saya pun lantas diberi cairan infus.

Memang, meskipun rasa sesak di dada belum hilang, nyerinya sedikit berkurang. Untuk itulah, saya diminta lagi untuk menghabiskan obat yang juga sudah disiapkan oleh seorang suster.

Ada tujuh butir obat disorongkan suster itu kepada saya. Sambil membawa segelas air, dia meminta saya selekasnya minum obat tersebut.

"Habiskan, Pak," ujarnya.

Hanya lima menit seusai menenggak habis ketujuh obat itu, nyeri di dada saya hilang seketika. Tak ada lagi sesak, apalagi nyeri. Suhu tubuh saya pun mulai berubah menjadi hangat.

Seorang dokter muda, dokter jaga di UGD, tampak menghampiri saya. Ia bilang, tujuh obat itu adalah obat jantung.

"Bapak kena serangan jantung ringan. Terlambat lima menit saja, mungkin Bapak sudah enggak ada lagi. Baiklah, Bapak kami rawat di sini ya," ujar dokter muda tersebut.

Saya cuma mengangguk lemah. Dari balik pintu UGD, saya lihat Azka dan Azzam, melambai-lambaikan tangan ke arah saya sembari tersenyum. Kedua "pahlawan" saya itu tidak diizinkan masuk ke dalam ruangan, termasuk istri saya yang repot ke sana kemari mengurus perawatan selanjutnya.

Pembengkakan jantung

Hari ini, Kamis (5/6/2014), tepat seminggu lalu serangan jantung ringan itu terjadi, kondisi saya sudah berangsur pulih dan semakin baik setelah dirawat selama enam hari di RS Mitra Keluarga. Vonis dokter, saya harus mengurai kembali pola hidup sehat agar kejadian itu tak lagi terulang.

Saya tak punya riwayat jantung. Saya pun suka berolahraga, terutama joging, meskipun hanya dua kali seminggu. Bahkan, pada umur 38 tahun ini saya masih menyalurkan hobi saya mendaki gunung.

Ya, dua pekan sebelum kejadian ini, saya juga baru pulang mendaki Gunung Gede, Jawa Barat, bersama teman-teman. Saya rutin mendaki gunung setahun satu atau dua kali.

"Bapak memang kelihatan sehat dan banyak orang terkena serangan jantung juga dalam kondisi sehat. Tapi, kemarin itu, saat serangan datang, jantung bapak lemah untuk memompa oksigen. Sekarang, kondisi Bapak sudah membaik, meskipun masih ada pembengkakan. Bapak harus mengubah pola makan dan stop merokok," kata Dr Bona Dwiramajaya H, SpJP, FIHA, yang merawat saya.

Beruntung, penanganan ketika terjadi serangan itu bisa dilakukan secara cepat dan tepat, terutama berkat bantuan istri dan kedua anak saya. Biasanya, dengan gejala umum seperti keringat dingin yang berlebihan, dada sesak dan nyeri, serta tengkuk dan bahu tegang bukan main, waktu-waktu krisis (golden time) kala serangan itu datang, orang masih belum ngeh bahwa itu serangan jantung ringan. Lazimnya, orang berpikir itu adalah masuk angin.

Memang, tak bisa dimungkiri, gejalanya seperti masuk angin, yang dalam bahasa Betawi, sudah kedalon atau akut. Orang sering kali menganggapnya demikian. Bedanya, datangnya sangat tiba-tiba dan berbarengan, mulai dari keringat dingin berlebihan, dada sesak dan lebih nyeri, terasa tegang atau pegal mulai sekitar tengkuk hingga bahu.

Di situlah feeling yang kuat perlu Anda gunakan jika sewaktu-waktu gejala itu menimpa Anda. Pasalnya, Anda sendiri yang merasakannya, bukan orang-orang di sekitar Anda. Maka, camkan bahwa itu bukan masuk angin biasa....

Sumber: http://m.kompas.com/health/read/2014/06/06/1052596/Awas.Maut.Ini.Serangan.Jantung.Bukan.Masuk.Angin.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Kamis, 22 Mei 2014

5 Makanan Penunjang Tumbuh Kembang Anak

Menghadapi anak yang pemilih dalam hal makanan memang kerap membuat pusing orangtua. Karena itu dari pada anak tidak makan, orangtua biasanya mengabulkan keinginan anak untuk mengasup makanan yang mereka sukai saja.

Namun, menyajikan makanan yang itu-itu saja bisa membuat anak kekurangan beberapa zat gizi esensial yang perlu didapat dari variasi makanan.

 
Menurut pakar nutrisi asal Amerika Serikat Jacqueline Silvestri Banks, anak-anak sejatinya membutuhkan zat gizi lebih banyak dari orang dewasa karena mereka masih dalam masa pertumbuhan. "Mereka membutuhkan makanan yang padat gizi dan lemak sehat guna menunjang pertumbuhan badan dan otaknya," jelas dia.
 
Orangtua pun perlu pintar-pintar menyiasati penyajian makanan anak. Inilah lima makanan yang bisa jadi inspirasi untuk dimasukkan ke dalam menu makanan anak.
 
1. Kuning telur.
Kuning telur mengandung lemak sehat dan kolesterol yang dibutuhkan untuk perkembangan otak dan sistem saraf, seperti kolin, asam amino dan vitamin A. Faktanya, vitamin banyak ditemukan pada kuning telur daripada putihnya.
 
2. Hati
Hati kaya akan vitamin A yang merupakan nutrisi penting dalam menunjang pertumbuhan bayi dan anak-anak. Hati juga merupakan sumber zat besi dan vitamin B12 yang baik. Tak hanya itu, hati juga mengandung kolin dan kolesterol yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan otak.
 
3. Telur ikan salmon
Telur ikan salmon merupakan salah satu sumber asam lemak omega-3 yang terbaik, bahkan lebih baik daripada daging salmon sendiri. Telur ikan salmon juga kaya antioksidan dan vitamin larut lemak, serta seng dan yodium.
 
4. Daging sapi
Bahan pangan satu ini merupakan sumber zat besi, seng, dan vitamin B yang baik untuk menunjang perkembangan yang sehat. Penelitian menunjukkan, daging sapi khususnya dari sapi pemakan rumput, mengandung lebih sedikit lemak jenuh, tetapi asam lemak omega-3 yang lebih tinggi.
 
5. Produk-produk kelapa
Minyak kelapa, kelapa parut tanpa gula, krim kelapa, atau susu kelapa memberikan nutrisi yang tinggi meski dalam sajian kecil. Meskipun produk kelapa mengandung lemak jenuh yang tinggi, namun tidak mengandung lemak trans. Produk kelapa juga diketahui kaya akan asam laurik, senyawa yang memperkuat sistem imun yang juga ditemukan dalam ASI. 

Sumber: http://m.kompas.com/health/read/2014/05/22/1605309/5.Makanan.Penunjang.Tumbuh.Kembang.Anak
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Related Posts with Thumbnails

Synergy Worldwide, Andalkan Vital 3!

Synergy Worldwide, Andalkan Vital 3!
Synergy Worldwide, Andalkan Vital 3!

Skincare: The Revolution in Anti-Aging

Skincare: The Revolution in Anti-Aging
Dokumen Sehat Sinergis

Pilihan Investasi

Pilihan Investasi
Ada dua pilihan: jika Ikut Menjadi Member Bisnis Synergy

Produk Synergy WorldWide

Loading...
Word of the Day

Article of the Day

This Day in History

Today's Birthday

In the News

Quote of the Day

Spelling Bee
difficulty level:
score: -
please wait...
 
spell the word:

Match Up
Match each word in the left column with its synonym on the right. When finished, click Answer to see the results. Good luck!

 

Hangman

Hubungi, kami siap melayani anda:

Untuk info lanjut
hubungi:

Ibu Liong (021-33431704)


Sertifikasi Produk Synergy WorldWide

Produk -produk Synergy / NSP di Indonesia telah terdaftar pada Departemen Kesehatan RI dan memiliki izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM), serta memperoleh sertifikat Halal dari IFANCA (The Islamic Food and Nutrition Council of America) yang disahkan oleh LP POM MUI.