Cari uang di internet

HUBUNGI, KAMI SIAP ANTAR!

Sehat-Sinergis secara herbal, membangun kesehatan dan kesejahteraan bersama secara sehat sinergis. Bekerjasama dengan Synergy WordWide (Independent Distributor from United State of America) untuk selengkapnya untuk pembelian atau pemesanan dengan perjanjian hubungi Ibu Liong di nomor: 021-33431704 Hubungi kami di email: sehat.sinergis@gmail.com. Ada uang baru barang diantar. Carilah lebih dulu kesehatan, baru yang lainnya.

Selasa, 28 April 2015

Berjuang Menerapkan Pola Gizi Seimbang (F ISTIYATMININGSIH)

Pola makan merupakan perilaku terpenting yang dapat memengaruhi keadaan gizi. Kuantitas dan kualitas makanan dan minuman yang dikonsumsi seseorang akan menentukan asupan gizi yang masuk dalam tubuh sehingga memengaruhi kesehatan individu dan masyarakat secara keseluruhan. Informasi ini mungkin sudah menjadi pengetahuan umum, tetapi belum menjadi pola hidup sehari-hari.
Buah-buahan impor   dijual di gerai pasar swalayan di mal Kota Kasablanka, Jakarta, beberapa waktu lalu. Konsumsi sayuran dan buah yang cukup berperan dalam menjaga kenormalan tekanan darah, kadar gula, dan kolesterol darah serta mengurangi risiko kegemukan.
KOMPAS/IWAN SETIYAWANBuah-buahan impor dijual di gerai pasar swalayan di mal Kota Kasablanka, Jakarta, beberapa waktu lalu. Konsumsi sayuran dan buah yang cukup berperan dalam menjaga kenormalan tekanan darah, kadar gula, dan kolesterol darah serta mengurangi risiko kegemukan.

Tubuh yang sehat dan tidak mudah sakit akan terbentuk apabila pola konsumsi seseorang atau masyarakat mengarah pada pola konsumsi gizi seimbang. Gizi seimbang adalah susunan makanan sehari-hari yang mengandung zat gizi dalam jenis dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh, serta memerhatikan prinsip keanekaragaman atau variasi makanan, aktivitas fisik, kebersihan, dan berat badan ideal.

Dalam pola konsumsi gizi seimbang, air, sayuran, dan buah mendapat perhatian khusus. Air menyediakan aneka mineral yang diperlukan tubuh. Air juga membentuk sel dan cairan tubuh, mengatur suhu tubuh, melarutkan zat-zat gizi lain dan membantu proses pencernaan makanan.

Konsumsi sayuran dan buah yang cukup berperan dalam menjaga kenormalan tekanan darah, kadar gula, kolesterol darah, dan mengurangi risiko kegemukan. Artinya, sayuran dan buah turut berperan dalam pencegahan penyakit tidak menular, seperti penyakit jantung koroner dan diabetes, serta membantu mempertahankan berat badan normal.

Perbandingan antarkelompok

Litbang Kompas mencoba meneropong pengetahuan dan pola konsumsi sebagian warga di 12 kota besar di Indonesia pada 22-24 April lalu. Hasil survei menunjukkan masih rendahnya konsumsi sayur dan buah di kalangan responden. Baru 3 dari 5 responden yang selalu mengonsumsi sayur dan buah setiap kali makan. Padahal, sayuran dan buah-buahan, selain sebagai sumber vitamin, mineral, dan serat, juga menyediakan antioksidan.

Begitu pula asupan air yang minimal 8 gelas per hari. Tiga sampai empat dari 10 responden tidak mengonsumsi air sebanyak itu atau tidak pernah memerhatikan jumlah air yang mereka minum.

Kurangnya perhatian pada jumlah air yang diminum terutama menonjol pada kelompok responden berpendidikan rendah (mengaku tidak sekolah). Hanya 2 dari 5 responden dari kelompok itu yang yakin mengonsumsi air minimal 8 gelas sehari.

Apabila dilakukan perbandingan antarkota, hanya responden di Medan (76,2 persen) dan Banjarmasin (86,7 persen) yang memberi perhatian pada kecukupan konsumsi air. Di antara 12 kota besar yang disurvei, responden di Manado yang paling tidak memberi perhatian pada masalah ini. Sebanyak 4 dari 5 responden di Manado tidak memerhatikan soal jumlah air yang diminum.

content

Survei Kementerian Kesehatan memberikan hasil tak jauh berbeda. Masyarakat Indonesia masih sangat kurang mengonsumsi sayuran dan buah-buahan. Sebaliknya, masyarakat kita lebih menyukai makanan dan minuman kaya energi, kaya lemak jenuh, gula, dan garam. Penganan seperti itu biasanya lebih diterima di lidah. Hal ini sejalan dengan pengakuan responden survei, yakni mereka menyukai makanan atau minuman tertentu karena rasanya (57,3 persen). Hanya 37,8 persen responden yang menyukai makanan tertentu dengan alasan kandungan nutrisi di dalamnya diperlukan oleh tubuh.

Sayuran    dari pemasok di daerah  baru tiba di Pasar Induk Kramatjati, Jakarta.  Konsumsi sayuran dan buah yang cukup berperan dalam menjaga kenormalan tekanan darah, kadar gula, dan kolesterol darah serta dan mengurangi risiko kegemukan.
KOMPAS/IWAN SETIYAWAN
Tomat  dijual di pasar swalayan di Lebak Bulus, Jakarta, beberapa waktu lalu. Konsumsi sayuran dan buah yang cukup berperan dalam menjaga kenormalan tekanan darah, kadar gula, dan kolesterol darah serta mengurangi risiko kegemukan.
KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN

Prinsip lain dalam konsumsi gizi seimbang adalah keanekaragaman makanan. Kelompok responden berpendidikan SD ke bawah cenderung kurang memerhatikan keanekaragaman makanan yang mereka makan. Makin tinggi tingkat pendidikan responden, semakin tinggi pula perhatian mereka terhadap komposisi makanan yang mereka makan.

Perbedaan pola konsumsi juga terlihat antara kelompok perempuan dan laki-laki. Perempuan yang selalu mengonsumsi sayur dan buah setiap kali makan cenderung lebih banyak daripada laki-laki (66,7 persen berbanding 52,7 persen). Perempuan pun lebih memerhatikan keanekaragaman pangan daripada laki-laki (73,5 persen berbanding 57,1 persen).

Berat badan merupakan aspek lain yang juga diperhatikan oleh responden perempuan. Berbeda dengan laki-laki (51,8 persen), kaum hawa lebih rajin memantau berat badan mereka (60,9 persen). Bagi kelompok responden perempuan, tampaknya tampilan tubuh merupakan aspek penting yang perlu diperhatikan.

Salah satu indikator penerapan pola konsumsi gizi seimbang adalah berat badan masuk kategori "normal". Berat badan ini biasanya berkaitan dengan pola konsumsi, terutama sayuran dan buah-buahan, dan aktivitas fisik. Sekalipun responden perempuan lebih menaruh perhatian pada bobot tubuh, hanya 3 dari 10 responden yang mengaku berolahraga secara rutin (minimal 3 kali seminggu setidaknya 30 menit setiap kali olahraga). Sementara 1 dari 2 responden laki-laki rutin berolahraga.

Apabila melihat proporsi makanan yang dimakan, karbohidrat merupakan porsi terbesar bagi 1 dari 2 responden laki-laki. Sementara responden perempuan yang mengonsumsi karbohidrat atau sayuran sebagai porsi terbesar relatif berimbang (36,1 persen dan 33,9 persen).

Pola konsumsi sebagian warga di 12 kota besar belum sepenuhnya mengikuti pola konsumsi gizi seimbang. Hal ini tidak sejalan dengan pengetahuan yang responden miliki. Hampir 7 dari 10 responden mengakui bahwa konsumsi sayuran sebaiknya lebih banyak dari buah. Hampir 9 dari 10 responden setuju bahwa konsumsi sayur dan buah ikut berperan dalam pencegahan penyakit tidak menular.

Pengetahuan seseorang tentang kesehatan bisa saja lengkap, tetapi penerapan dari pengetahuan yang dimiliki merupakan tantangan tersendiri.

(LITBANG KOMPAS)

Sumber:


‎http://print.kompas.com/baca/2015/04/28/Berjuang-Menerapkan-Pola-Gizi-Seimbang 
Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Minggu, 26 April 2015

Detoksifikasi (pembuangan racun) dalam tubuh manusia

Detoxsifikasi merupakan pembuangan racun dari dalam tubuh. Secara alami, tubuh sudah melakukan detoxsifikasi ringan spt buang air kecil maupun besar. Tubuh juga melakukan detoxsifikasi di MALAM HARI. Jadi, HINDARI TIDUR TERLALU MALAM DAN BANGUN TERLALU SIANG, karena bisa mberi kontribusi buruk dalam proses pembuangan racun tubuh. (dr. Lily G. Karmel MA).
Berikut jadwal biologis tubuh melakukan detoxsifikasi.

21.00-23.00  de-toxsin pada sistem antibodi (kelenjar getah bening). Sangat penting untk menangkal berbagai macam penyakit. Jika tubuh masih bekerja berat, belajar, nonton TV, hal ini berdampak negatif pada tubuh. Dalam jangka waktu panjang, tubuh akan mudah terserang penyakit karena system antibodi penuh bertumpuk racun. Lalui hari dengan tenang dan segeralah tidur.

23.00-01.00  Proses de-toxsin di organ hati, harus dalam keadaan tidur. Hal ini untk membantu hati dlm keadaan bersih shg racun2 yang disaring dapat diproses keluar melalui urine.

01.00-03.00 Proses de -toxsin di empedu dalam keadaan tidur pulas. Menguras sisa racun yang diproses di hati.

03.00-05.00  Proses de-toxsin di paru2. Tiba2 terjadi batuk2. Akan terjadi batuk hebat bagi penderita batuk dan perokok. Pembersihan telah mencapai saluran pernafasan. Hindari obat batuk agar tidak merintangi proses pembuangan kotoran.

05.00-07.00 De-toxsin usus besar harus membuang kotoran melalui buang air besar. Usahakan minum segelas air putih untuk membantu membersihkan usus besar.

07.00-09.00  Waktunya penyerapan gizi makanan bagi usus kecil, jadi sebaiknya HARUS SARAPAN. Sarapan yang bernutrisi lengkap mengandung karbohidrat, protein, mineral dan vitamin...
Good luck...

Via BBM

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Kamis, 23 April 2015

Formalin Picu Berbagai Kanker

Formaldehida Juga Banyak Ditemukan di Alam


Meski sudah berlangsung lama, penyalahgunaan formalin menjadi pengawet makanan di Indonesia tidak pernah tuntas diatasi. Padahal, kandungan berlebih formaldehida, senyawa aktif dalam formalin, dalam tubuh bisa memicu berbagai penyakit, mulai dari peradangan saluran cerna hingga berbagai jenis kanker.

Menurut ahli kimia pangan dari Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan Institut Pertanian Bogor, Nuri Andarwulan, dihubungi dari Jakarta, Kamis (23/4), formalin ialah larutan formaldehida dengan konsentrasi 37 persen. Selain cair, formaldehida bisa berbentuk gas atau serbuk.

Formaldehida ialah bahan penting dalam industri. Peranannya sulit digantikan. Senyawa aktif itu digunakan sebagai perekat kayu lapis, pengawet kayu, pembunuh kuman, bahan baku plastik, bahan cat, bahan bangunan, dan bahan komponen mobil.

"Masalahnya, formaldehida di Indonesia disalahgunakan jadi pengawet makanan," ujarnya. Penyalahgunaan serupa ditemukan di sejumlah negara berkembang. Beberapa bahan makanan yang kerap ditemukan mengandung formalin ialah mi basah, tahu, bakso, ikan, hingga roti.

Formaldehida termasuk bahan kimia berbahaya dan beracun. Oleh karena itu, formaldehida tidak boleh dipakai di industri makanan. "Jika formalin untuk pengawetan makanan, itu jelas menyalahi aturan," kata Direktur Jenderal Standardisasi dan Perlindungan Konsumen Kementerian Perdagangan Widodo.

Meski demikian, lanjut Nuri, formaldehida banyak ditemukan di alam. Formaldehida dihasilkan dari proses metabolisme semua makhluk hidup. Oleh karena itu, kandungan formaldehida banyak ditemui pada beragam jenis sayur, buah, daging, produk susu, hingga ikan laut.

Beberapa produk pertanian dengan kandungan formaldehida tinggi ialah jamur shiitake kering yang punya 100-406 miligram formaldehida per kilogram dan buah pir 38,7-60 miligram/kilogram. Selain itu, ada kembang kol dengan kandungan formaldehida 26,9 miligram/kilogram, anggur 22,4 miligram/kilogram, dan kentang 19,5 miligram/kilogram.

Penyalahgunaan bahan kimia formaldehida untuk pengawet akan membuat kandungan formaldehida dalam sejumlah bahan pangan itu kian tinggi.

Selain makanan, paparan formaldehida pada manusia bisa berasal dari bahan bangunan dan perabot di rumah ataupun mobil. Paparan juga bisa bersumber dari udara sekitar. Formaldehida pada udara berasal dari rokok, pembangkit listrik, gas buang kendaraan, atau industri.

Mekanisme alami

Namun, tubuh manusia punya mekanisme alami mendetoksifikasi formaldehida dalam jumlah tertentu. Setiap menit, liver mengonversi 22 miligram formaldehida menjadi karbon dioksida.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan, asupan harian yang bisa ditoleransi (TDI) untuk formaldehida dalam air minum ialah 150 mikrogram per kilogram berat badan.

Dokter spesialis gizi klinik di Rumah Sakit MRCCC Siloam Jakarta, AR Inge Permadhi, mengatakan, konsumsi makanan yang mengandung formaldehida tinggi akan menimbulkan gangguan pada sistem pencernaan. Akibatnya, muncul mual, muntah, dan diare. Jika masuk dalam darah, formaldehida menyebabkan pusing.

Persoalannya, sedikit kandungan formaldehida pada makanan akan sulit dideteksi karena tak banyak mengubah tekstur ataupun aroma makanan. Dalam jangka panjang, bahan kimia tersebut tertimbun dalam tubuh dan sulit dimetabolisme tubuh. Hal itu mengakibatkan formaldehida dalam tubuh akan masuk ke inti sel dan memicu mutasi genetik hingga menimbulkan berbagai jenis kanker.

Badan Riset Kanker Internasional (IARC) WHO menyebut ada hubungan antara formaldehida yang terhirup dan munculnya kanker nasofaring (faring atau tekak adalah daerah antara rongga hidung, mulut, dan kerongkongan) dan leukemia (kanker darah). Paparan formaldehida juga dikaitkan kanker mulut, saluran pernapasan, paru-paru, otak, hingga pankreas.

Inge menambahkan, kandungan formalin tinggi pada bahan makanan bisa dideteksi dari aromanya yang seperti mengandung bahan obat. Sementara dari penampilannya, makanan berformalin biasanya lebih kenyal, tidak mudah rusak, dan tidak dihinggapi lalat.(DNA/HEN/MZW)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 24 April 2015, di halaman 13 dengan judul "Formalin Picu Berbagai Kanker".

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Kurang Gerak Hambat Tumbuh Kembang Anak

Permainan Perlu Mendorong Aktivitas Fisik dan di Luar Ruang

Data survei, lebih dari separuh populasi anak di Indonesia kurang beraktivitas fisik. Selain mengganggu tumbuh kembang, itu bisa memicu penyakit degeneratif saat dewasa, seperti diabetes, jantung, dan osteoporosis. Untuk itu, kesehatan tubuh sebaiknya dibentuk sejak dini dengan aktivitas gerak yang tepat.

Hasil Survei Gizi Asia Tenggara (South East Asian Nutrition Survey/SEANUTS) 2011, bekerja sama dengan Perhimpunan Pakar Gizi dan Pangan Indonesia (Pergizi), menyebutkan, sebanyak 57,3 persen anak usia 6-12,9 tahun kurang beraktivitas fisik.

Peneliti ahli dari Pergizi, Heryudarini Harahap, memaparkan hal itu dalam seminar "Pola Aktivitas Gerak dan Gizi Seimbang untuk Tumbuh Kembang Anak yang Optimal", Kamis (23/4), di Jakarta. Acara tersebut juga dihadiri Ketua Unit Kerja Nutrisi dan Penyakit Metabolik Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Jaya Conny Tanjung serta dokter spesialis kedokteran olahraga dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Shopia Hage.

Conny menjelaskan, kurang aktivitas gerak pada anak menyebabkan obesitas atau kegemukan. Namun, kelebihan gerak bisa mengakibatkan anak menjadi kurus dan pendek. "Aktivitas gerak harus seimbang dengan asupan gizi bagi tubuh," ujarnya.

Kegemukan terjadi karena tak terjadi pembakaran kalori pada tubuh yang kelebihan nutrisi. Itu mempercepat munculnya penyakit degeneratif, seperti hepatitis, diabetes, penyakit jantung, dan stroke, saat dewasa.

Selain itu, kurang gerak meningkatkan risiko gangguan kesehatan tulang seperti tulang lemah dan cepat kaku. Hal tersebut menghambat aktivitas fisik dan rentan cedera serta saat dewasa berpotensi terkena osteoporosis atau keropos tulang.

Pola permainan

Kurangnya aktivitas fisik pada anak, menurut SEANUTS, disebabkan perubahan pola bermain pada anak, dari permainan tradisional bergeser ke permainan modern, seperti gawai dan televisi. Itu menyebabkan tingginya angka anak kurang gerak di perkotaan dan anak dari keluarga mapan. Data tersebut juga menunjukkan 62,8 persen anak kurang gerak adalah anak laki-laki.

Menurut Shopia, aktivitas fisik pada anak membantu melatih kesehatan otot, paru-paru, dan jantung anak sejak dini. Aktivitas fisik juga memengaruhi tumbuh kembang dan kecerdasan anak.

Aktivitas fisik sederhana pada anak usia 6-12 tahun bisa berbentuk permainan yang mengfungsikan gerak tubuh, seperti jalan, lari, menari, dan bersepeda. Aktivitas itu bisa dilakukan secara bertahap dengan total waktu 60 menit per hari secara rutin minimal tiga kali seminggu.

"Idealnya, aktivitas fisik dilakukan di ruang terbuka, memungkinkan kena sinar matahari," kata Shopia. Sinar matahari pagi sebelum pukul 10 mengandung vitamin D yang bermanfaat bagi kesehatan tulang. Sinar matahari juga mengurangi risiko penyakit degeneratif.

"Mutu aktivitas dianjurkan sedang dan berat, dengan asupan gizi cukup," ujarnya. (B11)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 24 April 2015, di halaman 14 dengan judul "Kurang Gerak Hambat Tumbuh Kembang Anak".

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

DUDUK PERKARA Perang Ribuan Tahun Bakteri Versus Antibiotika (SUBUR TJAHJONO)

Sebuah penelitian mikrobiologi terbaru menambah pengetahuan atas pandangan umum bahwa resistensi bakteri disebabkan oleh penggunaan obat-obatan antibotika yang tidak terkontrol. Sekelompok peneliti Amerika Serikat dan Venezuela menemukan bahwa gen bakteri flora dapat resisten terhadap obat-obatan antibiotika pada orang yang belum pernah mengonsumsi obat-obatan antibiotika.
Dalam  foto yang diambil pada 7 September 2012 tampak suku   Yanomami  menari di desa mereka, Irotatheri, di  wilayah Amazon, Venezuela.
AP PHOTO/ARIANA CUBILLOSDalam foto yang diambil pada 7 September 2012 tampak suku Yanomami menari di desa mereka, Irotatheri, di wilayah Amazon, Venezuela.

Temuan dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa bakteri pada tubuh manusia punya kemampuan melawan antibiotika jauh sebelum obat-obatan antibiotika modern digunakan untuk menyembuhkan penyakit.

Penelitian tersebut resmi dipublikasikan di jurnal Science Advances. Laman Universitas Washington di St Louis pada 17 April 2015 juga memberitakan hal itu. (https://news.wustl.edu/news/Pages/Bacterial-flora-of-remote-tribespeople-carries-antibiotic-resistance-genes.aspx). Hasil penelitian juga dipublikasikan di sciencedaily.com (http://www.sciencedaily.com/releases/2015/04/150417145023.htm). Kantor berita Reuters memberitakan, Jumat pekan lalu.

Selain Fakultas Kedokteran Universitas Washington, penelitian juga melibatkan FK Universitas New York, Lembaga Penelitian Ilmiah Venezuela, dan sejumlah lembaga lain.

Penelitian dilakukan di pegunungan selatan Venezuela pada anggota suku Yanomami Ameridian, yang merupakan suku terasing di hutan hujan Amazon. Suku ini adalah suku pengumpul dan pemburu semi-nomadik.

Para peneliti menemukan bahwa suku Yanomami Ameridian terisolasi lebih dari 11.000 tahun dari masyarakat sekitarnya. Karena keterisolasian tersebut, populasi bakteri di tubuh suku terpencil ini berbeda dengan bakteri yang ditemukan di Amerika Serikat dan Eropa.

"Ini kesempatan yang ideal untuk mempelajari bagaimana hubungan antara mikroba dan manusia terjadi ketika mereka terbebas dari pengaruh masyarakat modern. Pengaruh itu termasuk perjalanan lintas negara dan paparan antibiotika," ujar Prof Gautam Dantas, Guru Besar Patologi dan Imunologi Universitas Washington, yang menjadi salah satu peneliti.

Mahasiswi pascasarjana Erica Pehrsson menganalisis bakteri-bakteri tersebut di laboratorium Dantas. Bakteri-bakteri itu diambil dari bagian kulit, mulut, dan kotoran 34 orang dari 54 anggota suku Yanomami. Ia menemukan gen pada bakteri tersebut yang resisten terhadap antibiotika.

Peneliti juga membandingkan contoh bakteri di tubuh suku Yanomami dengan kelompok orang di Amerika Serikat; suku asli Amazon Venezuela, Guahibo; dan penduduk pedesaan Malawi di selatan Afrika.

Dalam  foto yang diambil pada 7 September  2012 tampak seorang anak lelaki suku  Yanomami di kawasan Amazonas di Venezuela selatan.
AFP PHOTO/LEO RAMIREZ
OSCAR NOYA-ALARCON

"Orang-orang (Yanomami) ini tidak terpapar antibiotika modern. Satu-satunya antibiotika yang potensial masuk melalui bakteri tanah yang tertelan yang secara alami membentuk obat-obatan ini," kata Pehrsson.

Antibiotika alami

Ribuan tahun sebelum manusia menggunakan antibiotika modern, bakteri tanah memproduksi antibiotika alami untuk membunuh saingan mereka. Mikroba-mikroba tersebut mengembangkan mekanisme pembelaan diri dari antibiotika yang dibentuk mikroba lain dengan cara membentuk gen resisten melalui transfer gen horizontal.

Beberapa tahun belakangan, melimpahnya penggunaan antibiotika dalam dunia medis dan pertanian-terutama peternakan-mempercepat proses resistensi, merangsang perkembangan dan penyebaran gen-gen yang membantu bakteri tahan terhadap paparan antibiotika. Konsekuensinya, muncul galur penyakit manusia yang lebih sulit disembuhkan.

Gautam Dantas, PhD
ARSIP NEWS.WUSTL.EDU
 Peneliti  senior M Gloria Dominguez-Bello dari University Langone Medical Center New York (kanan) dan  koleganya, Oscar Noya-Alarcon dari  University of Central Venezuela, di Sungai  Amazon di Venezuela selatan.
M GLORIA DOMINGUEZ-BELLO

"Kita telah kehabisan obat untuk menyembuhkan infeksi yang resisten terhadap bermacam-macam antibiotika," ujar Dantas.

Seorang peneliti, M Gloria Dominguez-Bello, mengemukakan, ada hubungan antara antibiotika modern, diet dari negara-negara industri, dan berkurangnya keragaman mikrobioma-yaitu komunitas bakteri-di tubuh manusia. Ada triliunan bakteri di tubuh manusia yang bisa menjadi petunjuk kesehatan.

Dantas mengatakan, mikrobioma pada manusia di negara-negara industri kurang beragam 40 persen dibandingkan dengan mikrobioma pada suku Yanomami yang tidak pernah terpapar antibiotika.

Dalam penelitian ini, peneliti curiga bahwa bakteri dari suku terasing ini membawa gen antibiotika resisten secara diam yang dapat aktif ketika terpapar dengan antibiotika. Para peneliti mencoba mengaktifkan gen-gen ini dan kecurigaan itu terbukti. Contoh-contoh bakteri yang mengandung gen resisten tersebut tahan terhadap banyak antibiotika modern.

Penemuan antibiotika modern

Antibiotika modern ditandai dengan penemuan oleh Paul Ehrlich dan Alexander Fleming. Disebut modern karena penemuan antibiotika tersebut dilakukan dengan cara ilmiah modern.

Sejak tahun 1904, dokter Jerman, Paul Ehrlich, bersama ahli kimia Alfred Bertheim dan ahli bakteri Sahachiro Hata mencari obat penyakit kelamin sifilis yang disebabkan bakteri Treponema pallidum. Obatnya dinamakan salvarsan. Pada 3 September 1928, farmakolog Skotlandia, Inggris, Alexander Fleming, menemukan aktivitas antimikroba dari kapang Penicillium sp dan bahan kimianya dinamakan penisilin.

Namun, sebenarnya antibiotika sudah ada jauh sebelum itu seperti ditemukan di Venezuela tersebut. Catatan sejarah antibiotika itu antara lain ditulis peneliti Universitas Aberdeen, Inggris, Rustam I Aminov, dalam "A Brief History of the Antibiotic Era: Lessons Learned and Challenges for the Future"http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3109405/, diakses Selasa, 21 April 2015, 19.25).

Jejak-jejak tetrasiklin, misalnya, ternyata ditemukan di tulang belulang manusia di Nubia (sekarang Sudan) tahun 350-550 Masehi. Bangsa Tiongkok sudah ribuan tahun menggunakan tanaman Artemisiauntuk mengobati berbagai penyakit, termasuk malaria. Kandungan antibiotika tanaman Artemisia baru diekstrak tahun 1970-an. Zat itu dinamakan artemisin.

Sejarah panjang penggunaan antibiotika diduga ikut berkontribusi atas mulai munculnya resistensi bakteri terhadap antibiotika. Namun, Alexander Fleming dianggap orang yang pertama kali mengemukakan potensi resistensi bakteri terhadap penisilin jika digunakan terlalu sedikit atau waktu pemakaiannya terlalu singkat.

Sekarang, resistensi bakteri terhadap antibiotika telah menjadi perhatian global yang penting. Pertanyaannya, bagaimana dengan masa depan penggunaan antibiotika untuk membunuh bakteri?

Saat ini, kematian yang timbul karena resistensi bakteri itu cukup tinggi. Menurut Aminov, setiap tahun sekitar 25.000 pasien di Eropa meninggal karena infeksi bakteri yang resisten terhadap beragam antibiotika. Bahkan, di Amerika Serikat, kematian pasien mencapai lebih dari 63.000 orang per tahun.

Selain kegagalan pengobatan juga muncul kerugian ekonomi. Aminov memperkirakan, kerugian akibat resistensi bakteri sedikitnya 1,5 miliar dollar AS (setara Rp 19,4 triliun) per tahun. Kerugian itu diestimasi dari biaya kesehatan dan hilangnya produktivitas penderita. Belum lagi biaya yang dikeluarkan rumah sakit untuk pengobatan.

Menurut Aminov, tantangan untuk mengatasi resistensi bakteri harus melibatkan banyak pihak, mulai dari mikrobiolog, ekolog, dokter, pendidik, pembuat kebijakan, anggota legislatif, pekerja pertanian dan farmasi, serta masyarakat pengguna antibiotika.

Di Indonesia, Menteri Kesehatan sudah membuat Pedoman Umum Penggunaan Antibiotika yang terbit tahun 2011. Namun sudah menjadi rahasia umum bahwa masyarakat dapat dengan mudah membeli antibiotika di apotek atau toko obat. Salah satu "pasar bebas" antibiotika adalah Pasar Pramuka di Jalan Pramuka, Jakarta Timur.

Pemakaian oleh penderita juga sering tidak sesuai aturan dokter. Sebaliknya, dokter juga mudah memberi antibiotika hanya untuk penyakit ringan seperti batuk pilek. Berbeda dengan Jepang, misalnya, yang menerapkan pemberian antibiotika sangat terbatas di rumah sakit.

Resistensi bakteri juga disumbang oleh dunia kedokteran hewan dan peternakan karena beberapa bakteri penyebab dan antibiotika untuk hewan sama dengan untuk manusia. Hal itu antara lain dilaporkan Peter Collignon dan kawan-kawan dalam "Clinical Impotance of Antimicrobial Drugs in Human Health" (dalam buku Guide to Antimicrobial Use in Animal, Blackwell Publishing, 2008).

Contohnya Escherichia coli, penyebab infeksi perut dan saluran kencing, yang telah resisten terhadap aminopenisilin. Bakteri E coli yang banyak terdapat di peternakan ayam ini sering menulari manusia.

Peternakan, terutama peternakan ayam, masih memakai antibiotika untuk meningkatkan pertumbuhan ayam. Penggunaan antibiotika oleh orang selain dokter hewan-seperti mantri hewan, paramedis veteriner, pengembang biak hewan-yang tidak sesuai dosis dan jangka waktu pemberian turut menyumbang timbulnya resistensi bakteri terhadap antibiotika.

Batasi antibiotika

Pemecahan masalah dapat dimulai dari pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat dengan membuat undang-undang yang membatasi penggunaan antibiotika. Dengan demikian, kedudukan hukumnya lebih kuat dari surat keputusan menteri kesehatan. Kalaupun tidak melalui undang-undang, pembatasan antibiotika dapat diatur melalui peraturan presiden.

Selain pembatasan penjualan antibiotika, undang-undang atau peraturan presiden itu antara lain mengatur dokter dan dokter hewan hanya boleh memberi antibiotika jika terlebih dahulu dilakukan uji sensitivitas. Dengan demikian, diketahui dengan pasti antibiotika yang tepat untuk bakteri penyebab penyakit infeksi tertentu.

Penegakan hukum atas penerapan undang-undang juga penting. Edukasi kepada pihak-pihak yang terkait dengan penggunaan antibiotika serta masyarakat umum perlu dilakukan.

Tanpa upaya yang radikal, "peperangan" ribuan tahun antara bakteri dan antibiotika masih akan dimenangi bakteri. Masyarakat Indonesia akan semakin sulit disembuhkan jika menderita penyakit infeksi yang mematikan.

Sumber: ‎http://print.kompas.com/baca/2015/04/23/Perang-Ribuan-Tahun-Bakteri-Versus-Antibiotika 


Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Selasa, 21 April 2015

SUDUT PANDANG: Obesitas dan Ancaman Ekonomi Global (ROBERT ADHI KSP)

Obesitas kini menjadi masalah kesehatan publik yang lebih besar dibandingkan kelaparan. Lebih dari 2,1 miliar penduduk dunia atau hampir 30 persen dari populasi global mengalami kelebihan berat badan atau obesitas. Menurut Global Burden of Disease Study yang dipublikasikan dalam jurnal kesehatan Inggris, The Lancet, jumlah itu hampir dua setengah kali jumlah orang dewasa dan anak-anak yang kekurangan gizi.
Obesitas sudah  menjadi salah satu persoalan besar bagi banyak negara di dunia. Indonesia berada di urutan ke-10 dunia dalam jumlah penduduk yang mengalami kegemukan.
AFP PHOTO/LOIC VENANCEObesitas sudah menjadi salah satu persoalan besar bagi banyak negara di dunia. Indonesia berada di urutan ke-10 dunia dalam jumlah penduduk yang mengalami kegemukan.

Obesitas menyumbang angka 5 persen penyebab kematian di seluruh dunia karena obesitas meningkatkan risiko penyakit diabetes, jantung, stroke, dan kanker. Pada 2010, kelebihan berat badan dan obesitas telah menyebabkan 3,4 juta orang meninggal.

Krisis ini tidak hanya merupakan tekanan besar bagi dunia kesehatan, tetapi juga merupakan ancaman bagi ekonomi global. Menurut penelitian terbaru McKinsey Global Institute (MGI), dampak obesitas terhadap ekonomi secara keseluruhan mencapai 2 triliun dollar AS per tahun atau sekitar 2,8 persen dari produk domestik bruto dunia. Ini setara dengan kerusakan ekonomi yang disebabkan oleh kebiasaan merokok atau kekerasan bersenjata, perang, dan terorisme (How the world could better fight obesity, McKinsey & Company, November 2014).

Problem ini akan makin memburuk terutama jika kecenderungan ini terus berlanjut. Hampir setengah dari populasi orang dewasa di dunia akan mengalami kelebihan berat badan atau obesitas pada 2030. Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) Margaret Chan menyatakan, "Tak satu pun negara yang berhasil mengatasi epidemi obesitas di semua kelompok umur."

Studi The Lancet menunjukkan, di seluruh dunia proporsi indeks massa tubuh (body mass index/BMI) orang dewasa meningkat pada periode 1980-2013 dari 28,8 persen menjadi 36,9 persen untuk laki-laki dan dari 29,8 persen menjadi 38 persen untuk perempuan. Padahal, indeks massa tubuh normal antara 18,5 persen dan 25 persen.

Di Indonesia, lebih dari 40 juta orang dewasa mengalami obesitas. Modernisasi telah membuat asupan kalori penduduk Indonesia tidak seimbang, demikian kata Direktur Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan Ekowati Rahajeng (Kompas, 2 Juni 2014).

Tingkat obesitas penduduk Indonesia, menurut BBC, berada di urutan ke-10 dunia, setelah Amerika Serikat, Tiongkok, India, Rusia, Brasil, Meksiko, Mesir, Jerman, dan Pakistan.

content

Diatasi secara komprehensif

Menurut Organisasi untuk Kerja Sama dan Pengembangan Ekonomi (Organization for Economic Cooperation and Development/OECD), epidemi global ini tidak terbatas pada negara maju. Di negara berkembang yang sebagian penduduknya baru keluar dari kemiskinan, kegemukan menjadi masalah baru. Lebih dari 60 persen penderita obesitas di dunia hidup di negara berkembang. Industrialisasi dan urbanisasi yang pesat meningkatkan pendapatan dan asupan kalori penduduk. Di India dan Tiongkok, misalnya, prevalensi obesitas di kota-kota 3-4 kali lebih tinggi dibandingkan di desa-desa.

Sampai tahun 1980, satu dari 10 orang mengalami obesitas di negara-negara yang tergabung dalam OECD. Tiga dekade kemudian, angka ini naik dua-tiga kali lipat.

Penelitian terbaru OECD menyebutkan, pada 2014, satu dari lima anak mengalami kelebihan berat badan atau obesitas di negara-negara di wilayah OECD. Epidemi obesitas menyebar dalam lima tahun terakhir, meningkat 2 persen-3 persen di Australia, Kanada, Perancis, Meksiko, Spanyol, dan Swiss. Namun, angka obesitas mulai relatif stabil di Inggris, Italia, Korea Selatan, dan Amerika Serikat.

Makin banyak negara yang mengadopsi kebijakan untuk mencegah obesitas agar tidak meluas, dengan melibatkan semua pemangku kepentingan, mulai dari pebisnis sampai masyarakat sipil untuk mengembangkan kebijakan kesehatan masyarakat.

Salah satunya Meksiko. Pada 2013, Meksiko meluncurkan strategi komprehensif mengatasi masalah ini dengan meningkatkan kesadaran rakyat akan hidup sehat, memberikan perawatan kesehatan, serta mengeluarkan peraturan dan kebijakan fiskal. Pada Januari 2014, Meksiko memberlakukan pajak 8 persen untuk makanan yang mengandung energi melebihi 275 kcal per 100 gram dan 1 peso (0,06 euro) untuk satu liter minuman bergula. Pendapatan dari hasil ini untuk mendukung program kesehatan masyarakat. Denmark, Filandia, Hongaria, dan Perancis sudah menerapkan pajak lebih tinggi untuk makanan dan minuman yang berpotensi menyebabkan kegemukan.

Inggris juga sudah berupaya melakukan berbagai langkah strategis untuk mengurangi jumlah penduduk yang kegemukan di negeri itu, mulai dari pengendalian porsi, reformulasi produk-produk makanan, ketersediaan makanan berkalori tinggi, pengelolaan berat badan, pendidikan dari orangtua dan lewat kurikulum sekolah, penyediaan makanan sehat, pelabelan makanan, promosi harga, pengenaan pajak 10 persen untuk produk yang mengandung kadar gula tinggi atau produk-produkhigh-fat, penyediaan tempat-tempat kebugaran, serta kampanye kesehatan publik.

Sebuah makalah baru dari MGI berjudul "Mengatasi Obesitas: Sebuah Analisis Ekonomi Awal" berusaha membedah persoalan ini. MGI memfokuskan diri pada pemahaman yang dibutuhkan untuk mengatasi obesitas melalui penyesuaian kebiasaan makan atau aktivitas fisik.

Di Indonesia, sudah mulai banyak perusahaan yang menyadari pentingnya edukasi hidup sehat bagi karyawannya. "Lebih baik mengeluarkan biaya untuk acara edukatif tentang kebugaran dan kesehatan bagi karyawan daripada harus mengeluarkan biaya rutin pembelian obat kolesterol dan sejenisnya," kata CEO Kompas Gramedia Agung Adiprasetyo. Karyawan Kompas Gramedia yang kelebihan berat badan dan obesitas serta memiliki kolesterol tinggi ditantang untuk menurunkan berat badan dan mengurangi kolesterol dalam waktu 66 hari. Cukup banyak karyawan yang berhasil mengubah hidup mereka menjadi lebih sehat melalui pola makan sehat dan berolahraga rutin.

Namun, persoalan obesitas ini tentu saja tidak dapat diatasi sendirian, tetapi harus dilakukan oleh berbagai pihak. Dibutuhkan langkah bersama untuk mengatasi persoalan ini.

Pemerintah perlu mengeluarkan kebijakan terpadu, seperti menaikkan pajak makanan dan minuman yang berpotensi memicu kegemukan. Perusahaan produk makanan dan minuman perlu memberi label jumlah kalori dalam setiap produk mereka. Demikian juga pengusaha restoran dan rumah makan wajib memberi label yang sama agar calon pembeli tahu jumlah kalori makanan dan minuman.

Perusahaan perlu menyediakan tempat berolahraga bagi karyawannya agar mereka selalu bugar. Pemerintah juga wajib menyediakan sarana olahraga gratis di taman-taman kota bagi warganya. Komunitas-komunitas olahraga perlu menggelar banyak acara olahraga yang melibatkan banyak peserta. Media-media juga perlu memperbanyak artikel yang mengajak masyarakat untuk hidup sehat.

Perusahaan-perusahaan wajib menyediakan hidangan sehat dalam menu rapat. Sekolah-sekolah di semua tingkatan harus mengedukasi para siswanya untuk tidak makan junk fooddan sejenisnya. Ibu rumah tangga sudah waktunya menyediakan makanan sehat untuk keluarga tercinta.

Banyak cara bisa dilakukan agar rakyat tidak terjebak dalam gaya hidup dan pola makan yang tidak sehat. Kita meyakini kebenaran pepatah lama, "di dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang sehat". Bila rakyat sehat, negara semakin kuat.

robert.adhiksp@kompas.com

Sumber: ‎http://print.kompas.com/baca/2015/04/21/Obesitas-dan-Ancaman-Ekonomi-Global 

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Rabu, 15 April 2015

JAJAK PENDAPAT "KOMPAS": Ancaman Saat Tubuh Menua (ANTONIUS PURWANTO)

Perubahan gaya hidup dan pola makan membuat penyakit degeneratif, yang dulu diidentikkan dengan orang tua, kini banyak diderita orang muda usia produktif. Menjaga keseimbangan aktivitas fisik, mengatur diet, dan menghindari faktor risiko penting untuk mencegah penyakit degeneratif sejak dini.

Secara medis, penyakit degeneratif dipahami sebagai penyakit akibat proses kemunduran fungsi sel tubuh karena berjalannya usia, faktor genetik, dan gaya hidup tak sehat. Sejumlah contoh penyakit degeneratif ialah diabetes melitus, hipertensi, stroke, jantung koroner, kardiovaskular, dan kanker.

Semula penyakit itu berkorelasi kuat dengan bertambahnya usia. Namun, seiring perkembangan zaman dan berubahnya pola hidup masyarakat, penyakit degeneratif mulai banyak menyerang kelompok usia produktif, yaitu 30-40 tahun.

Hasil jajak pendapat harian Kompasbeberapa waktu lalu mengungkap, banyak responden menyatakan memiliki anggota keluarga pengidap salah satu penyakit degeneratif itu. Empat dari 10 responden mengaku dalam keluarga mereka punya riwayat penyakit degeneratif.

Jantung dan diabetes

Dari sekitar 50 jenis penyakit degeneratif, ada lima penyakit yang dinilai paling mengkhawatirkan oleh responden. Urutan pertama ialah penyakit jantung. Tiga dari 10 responden menyatakan hal tersebut. Kekhawatiran seiring meningkatnya jumlah penderita penyakit jantung di Indonesia ataupun dunia.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, pada 2015 kematian akibat penyakit jantung bakal mencapai 20 juta orang. Proporsi kematian yang disebabkan penyakit tersebut sekitar 30 persen dari total kematian. Di Indonesia, jumlah penderita penyakit jantung dan pembuluh darah terus bertambah serta akan memberi beban kesakitan, kecacatan, dan beban sosial ekonomi bagi keluarga penderita, masyarakat, dan negara.

Di urutan kedua adalah diabetes melitus. Menurut Federasi Diabetes Internasional (IDF), jumlah kasus diabetes naik dari 371 juta orang pada 2012 menjadi 382 juta pada 2013. Bahkan, IDF memprediksi jumlah kasus diabetes melonjak 55 persen, menjadi 592 juta pada 2035. Prevalensi diabetes di Indonesia pada 2013 adalah 2,1 persen.

Urutan berikutnya adalah kanker. Kementerian Kesehatan mencatat, prevalensi kanker 1,4 per 1.000 penduduk pada 2013. Secara global, tiap tahun diperkirakan ada 12 juta penderita kanker, dengan 7,6 juta di antaranya meninggal. Sementara WHO memprediksi pada 2030 jumlah kasus kanker mencapai 26 juta orang, dengan 17 juta di antaranya meninggal dunia.

content
,,

Jika dilihat dari jenis kelamin, secara umum responden perempuan relatif lebih merasa khawatir dirinya akan terkena penyakit degeneratif dibandingkan dengan responden pria. Bahkan, bagi tujuh dari 10 responden perempuan, kanker paling ditakuti daripada jenis penyakit degeneratif lain.

Data WHO menunjukkan, setiap tahun, di Indonesia ditemukan sedikitnya 15.000 kasus kanker serviks. Itu membuat kanker serviks sebagai pembunuh perempuan nomor satu di negeri ini. Bahkan, WHO menempatkan Indonesia sebagai negara dengan jumlah kasus kanker serviks terbanyak dunia.

Stroke dan hipertensi juga dipandang publik sebagai penyakit paling mengkhawatirkan. Kementerian Kesehatan memperkirakan jumlah pengidap stroke di Indonesia pada 2015 meningkat hingga lebih dari 100 persen atau 25-35 orang tiap 1.000 penduduk. Jumlah itu melonjak dari 12,1 pengidap per 1.000 penduduk pada 2013. Sementara kematian akibat hipertensi atau tekanan darah tinggi 7 juta orang per tahun.

Pola makan

Tingginya aktivitas masyarakat perkotaan dipandang sebagai salah satu pemicu penuaan lebih dini dan berdampak pada kemunduran fungsi sel tubuh. Itu memicu pola makan tak sehat dan perubahan gaya hidup akibat modernisasi dan kemajuan teknologi.

Terkait pola makan tak sehat, hasil jajak pendapat menunjukkan minimnya kesadaran sebagian responden dalam memilih makanan sehat. Salah satunya adalah gemar mengudap makanan tinggi lemak, karbohidrat, dan protein yang banyak terdapat pada menu cepat saji. Tujuh dari 10 responden mengakui hal tersebut. Bahkan, satu di antaranya mengaku sekali seminggu makan di tempat itu. Selain alasan gaya hidup, makanan serbainstan tersebut amat mudah diakses. Bahkan gerai-gerai penjualan makanan cepat saji menawarkan jasa pesan antar.

Di mata ahli gizi, jenis makanan itu dinilai kurang sehat karena mengandung lemak jenuh, garam dan gula, serta beragam zat seperti monosodium glutamate dantartrazine dengan kadar tinggi. Makanan cepat saji hampir tidak mengandung protein, vitamin, dan serat yang amat dibutuhkan tubuh.

Meski mayoritas responden menyadari pentingnya olahraga, hanya separuh responden menyatakan berolahraga rutin lebih dari sekali dalam sepekan. Tiga dari 10 responden mengaku tak berolahraga. Alasannya antara lain tak punya waktu berolahraga, malas, hingga sakit.

Pola hidup lain yang tak sehat ialah kebiasaan merokok. Hampir 40 persen responden punya kebiasaan merokok. Meski promosi kesadaran untuk berhenti merokok terus digaungkan sejumlah pihak, hingga kini jumlah perokok di Indonesia masih tinggi. Data Riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan tahun 2010 menunjukkan angka perokok Indonesia terus naik. Bahkan, perokok Indonesia berusia di atas 15 tahun 36,3 persen. Rokok jadi penyebab utama penyakit degeneratif.

Pencegahan

Beragam upaya ditempuh masyarakat untuk mencegah penyakit degeneratif. Upaya-upaya itu ialah rutin memeriksakan diri ke dokter, mengatur pola makan, diet makanan tertentu, dan berolahraga teratur. Empat dari 10 responden mengaku rutin periksa ke dokter. Hanya dua dari 10 responden yang mengatur pola makan seimbang.

Para responden menyadari konsekuensi ekonomi jika sakit. Oleh karena itu, selain bertindak preventif, beragam cara ditempuh responden demi menyiasati mahalnya biaya kesehatan. Sebagian responden mengaku ikut program Jaminan Kesehatan Nasional, sebagian lain ikut asuransi kesehatan ataupun mengandalkan tunjangan kesehatan dari tempat kerja. Mayoritas responden menyatakan pentingnya ikut asuransi kesehatan. (LITBANG KOMPAS)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 16 April 2015, di halaman 14 dengan judul "Ancaman Saat Tubuh Menua".

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.
Related Posts with Thumbnails

Synergy Worldwide, Andalkan Vital 3!

Synergy Worldwide, Andalkan Vital 3!
Synergy Worldwide, Andalkan Vital 3!

Skincare: The Revolution in Anti-Aging

Skincare: The Revolution in Anti-Aging
Dokumen Sehat Sinergis

Pilihan Investasi

Pilihan Investasi
Ada dua pilihan: jika Ikut Menjadi Member Bisnis Synergy

Produk Synergy WorldWide

Loading...
Word of the Day

Article of the Day

This Day in History

Today's Birthday

In the News

Quote of the Day

Spelling Bee
difficulty level:
score: -
please wait...
 
spell the word:

Match Up
Match each word in the left column with its synonym on the right. When finished, click Answer to see the results. Good luck!

 

Hangman

Hubungi, kami siap melayani anda:

Untuk info lanjut
hubungi:

Ibu Liong (021-33431704)


Sertifikasi Produk Synergy WorldWide

Produk -produk Synergy / NSP di Indonesia telah terdaftar pada Departemen Kesehatan RI dan memiliki izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM), serta memperoleh sertifikat Halal dari IFANCA (The Islamic Food and Nutrition Council of America) yang disahkan oleh LP POM MUI.