Cari uang di internet

HUBUNGI, KAMI SIAP ANTAR!

Sehat-Sinergis secara herbal, membangun kesehatan dan kesejahteraan bersama secara sehat sinergis. Bekerjasama dengan Synergy WordWide (Independent Distributor from United State of America) untuk selengkapnya untuk pembelian atau pemesanan dengan perjanjian hubungi Ibu Liong di nomor: 021-33431704 Hubungi kami di email: sehat.sinergis@gmail.com. Ada uang baru barang diantar. Carilah lebih dulu kesehatan, baru yang lainnya.

Jumat, 29 Juli 2016

PSIKOLOGI ”This Too, Shall Pass...” (KRISTI POERWANDARI)

Entah siapa yang mengirim pertama kali, saya pernah memperoleh pesan indah dalam grup Whatsapp (WA): "This too, shall pass". Dengan sebuah cerita atau perumpamaan, mengenai seorang tukang cincin yang diminta untuk mengukir sebuah kalimat bijak yang paling bijak. Ia bingung, tetapi akhirnya memilih frase "This too, shall pass", "Yang ini pun, akan berlalu".

Bila ditelusuri, pepatah ini lahir dari kaum sufi Persia abad pertengahan, yang kemudian diadopsi dalam pidato kenegaraan Abraham Lincoln pada tahun 1859. "This too, shall pass" sering dinasihatkan oleh orang yang menyayangi kita saat kita mengeluh karena berada dalam masalah berat. Tetapi, sesungguhnya, "This too, shall pass", "yang ini pun, akan berlalu", mengandung pesan yang jauh lebih dalam, dan akan sangat membantu menguatkan kesejahteraan psikologis kita, bila dapat diingat kapan pun, saat sedih ataupun saat senang.

Manusia memiliki kapasitas sangat unik, dalam hal dapat secara mental menjelajahi hidup tanpa terbatasi oleh waktu. Kita dapat bertransendensi melampaui "sekarang" dan "hari ini" dengan membayangkan masa lalu dan masa depan. Mengenang masa lalu seolah masih hidup di masa sekarang, membayangkan yang belum terjadi seolah itu sudah dan sedang terjadi. Dan, itu dapat kita manfaatkan untuk memaksimalkan kesehatan mental kita dan mendewasakan diri.

Ketika di bawah

Ada saat di mana kita merasa "sangat di bawah": orang yang disayangi meninggal, pasangan berselingkuh dan membohongi, anak yang sangat dibanggakan ternyata kecanduan narkoba, harta habis karena ditipu orang, sakit parah, dan lain sebagainya.

Bruehlman-Senecal dan Ayduk (2015) menulis "This Too Shall Pass: Temporal Distance and the Regulation of Emotional Distress". Dalam artikel tersebut, mereka melaporkan rangkaian penelitian eksperimental yang menyimpulkan mengenai bagaimana orang mampu mengambil jarak untuk memahami kesementaraan waktu, untuk dapat meregulasi (mengatur, mengelola) emosi yang sedang terganggu atau kacau akibat peristiwa yang sangat menyedihkan atau menyakitkan.

Temuan mereka menjelaskan bahwa manusia dapat dan memang efektif menggunakan perspektif jarak temporal dalam menyeimbangkan kembali kekacauan emosinya, dengan memfokuskan perhatian bukan pada kejadian buruk yang sedang dialami. Yang dilakukan adalah menyadarkan diri dan mengarahkan perhatian pada aspek "sementara" atau "tidak permanen", dari kejadian atau perasaan buruk yang dihayati.

Penelitian lebih jauh menunjukkan bahwa kemampuan untuk mengambil jarak dan melihat peristiwa buruk sebagai "tidak permanen" atau "sementara" membantu meningkatkan kesejahteraan psikologis manusia. Baik untuk jangka pendek (mengurangi stres atau afek negatif), maupun jangka panjang (membantu lebih stabilnya emosi positif dalam jangka panjang, memfasilitasi kemampuan mengendalikan diri).

Ketika di atas

Sekarang memang menghadapi masalah berat, tetapi besok kondisi akan berubah. Saat ini memang sedang merasa sangat sedih dan terpuruk, tetapi nanti akan mengalami perasaan bahagia lagi.

Bukan saja kemampuan menjaga jarak ini penting saat kita dalam kondisi buruk, tetapi sebenarnya juga sangat penting saat kita dalam kondisi baik atau "di atas". Saya mencari-cari artikel internasional mengenai ini, tetapi belum menemukan yang komprehensif. Beruntung kita memiliki acuan dari budaya kita sendiri, misalnya dalam konsep "eling".

Ketika sedang di atas, dalam kebahagiaan luar biasa, memiliki uang banyak, dirubung orang karena berkuasa, menjadi orang terkenal, didengar suaranya, dianggap sebagai sosok penting, dan dapat mengambil keputusan mengenai nasib orang lain, menjadi lebih mudah bagi kita untuk lupa. Kita lupa bahwa kondisi "di atas" sangat berbahagia, atau dalam puncak keberhasilan, adalah juga, sementara saja.

Lupanya manusia, sering bukan karena sengaja. Penjelasannya dapat dicari dalam konsep-konsep dasar psikologi: pembiasaan, persepsi, motivasi, emosi, dan konsep-konsep terkait lainnya, yang akan beroperasi dalam diri dengan tidak bisa dilepaskan dari peran sosial yang ada.

Isi persepsi, motivasi, dan emosi dapat dikonstruksi. Dalam berhubungan dengan pemimpin, lingkungan atau orang dekat mungkin saja mengatur perilaku dan cerita mereka dengan motivasi berbeda-beda. Misalnya, agar pemimpin tidak kecewa, tidak marah, terus merasa senang, juga untuk menciptakan kesan baik tentang diri sendiri, untuk mengendalikan pemimpin, dan sebagainya. Cerita atau informasi diatur sedemikian rupa untuk membangun persepsi atau penyimpulan tertentu, evaluasi tertentu, emosi tertentu, motivasi tertentu, hingga perilaku tertentu.

Jadi, "berada di atas" itu memang membuat kita mudah untuk lupa.

Berada "di atas" bukan terkait uang atau kekuasaan saja. Kita mungkin juga menghayati kebahagiaan luar biasa atas kehidupan yang terasa sungguh sempurna. Barangkali karena semua berjalan lancar, anak berhasil dan jadi juara sangat hebat, atau sedang memiliki hubungan cinta yang sangat indah atau menggairahkan. Kita menyangka itu akan abadi. Lupa, bahwa segala yang terjadi itu mungkin sementara saja.

Konsep "eling" atau "ingat", dalam pemahaman saya pribadi, punya kelebihan dibandingkan konsep "jarak temporal" karena "eling" bicara mengenai konteks waktu, kesementaraan, tetapi juga mengenai esensi situasi atau posisi.

"This too, shall pass" yang ini pun akan berlalu. Keterpurukan itu sementara saja, demikian pula kekuasaan, kehebatan, dan kondisi mabuk kebahagiaan. Konsep "eling" mengajarkan pemahaman mengenai kesementaraan waktu, dan ketidakabadian posisi dalam arti esensi dari eksistensi. Maka, tenang dan rendah hatilah manusia yang menghayatinya.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 30 Juli 2016, di halaman 25 dengan judul ""This Too, Shall Pass..."".

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

KESEHATAN Perlukah Panti Wreda? (DR SAMSURIDJAL DJAUZI)

Sejak ayah meninggal setahun yang lalu, ibu saya yang berumur 78 tahun tinggal dengan penjaga orang usia lanjut. Kami, tiga orang anak beliau, mengajak ibu untuk tinggal di rumah kami. Beliau boleh memilih di mana akan tinggal atau boleh juga berpindah sesuai keinginan beliau. Kakak saya sekarang berumur 55 tahun, laki-laki, masih bekerja dan tinggal di kota lain. Saya anak kedua, perempuan, bekerja sebagai pegawai di sebuah bank. Suami saya seorang dokter. Adik saya laki-laki, pengusaha yang cukup sibuk. Namun, atas berbagai alasan, terutama karena tidak ingin menyusahkan kami, ibu memilih tinggal sendiri. Kami amat khawatir dengan keadaan beliau karena beliau mempunyai penyakit kencing manis dan jantung koroner. Bahkan, dua tahun yang lalu dirawat di rumah sakit dengan stroke ringan.

Kami bergantian mengantar ibu kontrol ke dokter. Keadaan kesehatan ibu menurut dokter cukup baik bagi orang seusia beliau. Hanya saja, belakangan ini dokter mengatakan bahwa ibu mengalami depresi. Dia mulai enggan minum obat dan sering lupa. Kami percaya pada penjaga orang sakit yang menemani beliau. Penjaga tersebut telah menemani ibu sejak bapak meninggal. Tugas penjaga tersebut benar-benar hanya menjaga ibu karena untuk urusan rumah tangga ada asisten rumah tangga. Saya sering memancing apa penyebab depresi ibu dari penjaga ibu. Katanya, ibu sering bicara tentang bapak yang sudah tak ada. Ibu juga merasa sepi tak ada teman-teman untuk bicara. Memang kami anak-anak beliau bergantian datang pada hari libur sekitar 2 jam dari pukul sepuluh pagi sampai makan siang. Rupanya kedatangan kami masih belum dapat menghapus rasa kesepian beliau.

Belakangan ini ibu sering bertanya tentang panti wreda. Beliau ingin tinggal di panti wreda agar dapat berkumpul bersama orang lanjut usia. Dia merasa jika banyak teman tentu rasa sepinya berkurang. Kami dapat berkunjung pada hari libur membawa cucu beliau. Kami merundingkan keinginan ibu, sebenarnya kami tidak tega untuk membiarkan ibu tinggal di panti wreda. Hanya kami juga tak ingin ibu salah paham menyangka kami tidak bersedia membiayai beliau tinggal di panti wreda. Jadi, akhirnya diputuskan ibu boleh mencoba dulu, jika betah boleh tinggal lama.

Di kota saya hanya ada beberapa panti wreda. Bagaimana memilih panti wreda yang baik? Apakah perlu layanan dokter di panti wreda? Apakah keselamatan ibu dapat terjamin di panti wreda. Mungkinkah panti wreda juga memfasilitasi kontrol ibu sebulan sekali ke rumah sakit? Terima kasih atas jawaban dokter

M di J

Pada umumnya, keluarga di Indonesia ingin merawat orangtuanya di rumah. Kehangatan keluarga diharapkan dapat membahagiakan orangtua yang sudah berusia lanjut. Perasaan dianggap kurang mencintai orangtua jika orangtua dikirim ke panti wreda juga ada. Mungkin itulah yang menyebabkan jumlah panti wreda di Indonesia tak sebanyak di luar negeri. Saya pernah melihat panti wreda di Jepang. Jumlah panti wreda di Jepang mencapai ribuan, lagi pula panti wreda di Jepang mendapat subsidi pemerintah. Suami istri banyak yang bekerja. Biaya untuk mempunyai penjaga orang usia lanjut mahal, dan jika yang bersangkutan harus tinggal di rumah biasanya tak ada kamar karena rumah orang Jepang pada umumnya kecil. Jadi dapat dimaklumi mereka memilih agar orangtua mereka tinggal di panti wreda agar pemeliharaannya lebih terjamin.

Situasi keluarga Anda memang juga kurang mendukung untuk dapat merawat ibu Anda dengan baik. Anda, kakak, dan adik Anda sibuk. Jadi pilihan agar ibu tinggal di panti wreda dapat dimengerti. Saya anjurkan agar Anda berkunjung ke panti wreda yang diminati. Cobalah lihat dengan mata kepala sendiri apakah panti tersebut nyaman dan keamanan serta keselamatan ibu Anda akan terjamin. Cobalah berbincang dengan penghuni yang ada, bagaimana perasaan mereka tinggal di panti wreda. Jangan lupa pertimbangkan juga akses ke panti wreda tersebut, apakah mudah dicapai dari rumah Anda, apakah jika ibu sakit ada layanan kesehatan sementara atau layanan rujukan ke rumah sakit terdekat.

Tampaknya, ibu Anda masih mandiri, jadi jangan lupa perhatikan masalah kebersihan. Lingkungan, kegiatan yang ada termasuk rekreasi, makanan, fasilitas kamar mandi, dan sudah tentu juga biaya. Sebagian penghuni panti wreda mungkin memerlukan dukungan untuk ke kamar mandi, berpakaian, bahkan juga makan. Saya pernah melihat panti wreda yang ternyata sekitar 50 persen penghuninya memerlukan bantuan untuk berpakaian. Jumlah petugas untuk menemani dan memberikan dukungan harus cukup.

Fasilitas penunjang, seperti kursi roda, juga harus mencukupi. Agar penghuni dapat menikmati tinggal di panti wreda, harus ada acara bersama yang menjadi rekreasi bagi penghuni. Semua fasilitas di panti wreda, baik lantai maupun kamar mandi, harus didesain sedemikian rupa agar penghuni tidak mengalami kecelakaan, termasuk jatuh. Tanda panggilan segera, baik dengan lonceng maupun bel, harus dapat mendatangkan petugas dengan cepat untuk menolong penghuni.

Biaya tinggal di panti wreda sampai saat ini belum dijamin oleh asuransi. Jadi, keluarga Anda harus menanggung biaya tinggal di panti wreda. Ini juga harus dipertimbangkan baik-baik karena ibu Anda akan tinggal di panti wreda dalam jangka waktu lama. Kesinambungan pengobatan ibu juga harus terjamin. Daftar obat serta ketersediaan obat harus mencukupi. Petugas panti wreda harus membantu ibu agar tak ada obat yang lupa diminum atau obat habis. Ibu Anda juga mempunyai penyakit kencing manis. Ini harus diinformasikan kepada pengurus panti wreda sehingga pengaturan makan, aktivitas, serta obat pengatur gula diminum dengan teratur sesuai dengan nasihat dokter. Secara berkala pengukuran kadar gula juga perlu dilakukan.

Panti wreda harus mencegah penularan penyakit di antara para penghuni. Karena itu, ventilasi udara, serta kebersihan makan dan minum harus dijaga. Jika ada penghuni yang mempunyai penyakit menular harus dijamin agar dia tak menulari penghuni lain. Keadaan kesehatan penghuni perlu dipantau secara berkala. Jika kesehatan menurun, keluarga harus diberitahu, mungkin diperlukan perawatan di rumah sakit.

Penyakit yang sering menular di panti wreda adalah penyakit yang dapat menular melalui udara, seperti influenza, pneumonia, dan tuberkulosis. Keluarga Indonesia yang mempunyai anggota keluarga yang berusia lanjut sudah banyak. Jumlah orang yang berusia lanjut sudah melebihi 20 juta. Meski sebagian besar keluarga ingin merawat sendiri orang usia lanjut di rumah mereka, pada masa depan keberadaan panti wreda akan dibutuhkan. Saya harap ibu Anda tetap sehat dan berbahagia. Begitu pula Anda sekeluarga tetap menjaga kesehatan.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 30 Juli 2016, di halaman 25 dengan judul "Perlukah Panti Wreda?".


Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

INVESTASI Apakah Dividen? (ADLER HAYMANS MANURUNG)

Baru-baru ini datang pertanyaan kepada penulis, apakah dividen itu? Apakah ada jenis dividen yang dibagikan? Sinyal apa yang disampaikan perusahaan atas pembagian dividen? Apakah harga saham harus turun setelah ex-dividen date?

Dividen adalah sesuatu yang diberikan perusahaan atau pengembalian perusahaan kepada pemilik saham atas investasinya di perusahaan dalam bentuk saham. Dividen tersebut dapat dibedakan ke dalam tiga jenis dividen, yaitu dividen tunai, dividen saham, dan dividen in-kind(bukan tunai dan saham). Dividen tunai adalah dividen secara tunai yang dibayarkan perusahaan kepada investor tergantung besaran yang ditentukan oleh pemegang saham pada saat rapat umum pemegang saham (RUPS).

Bila perusahaan membagikan dividen sebelum ada keputusan RUPS, lebih dikenal dengan dividen interim. Dividen interim ini merupakan keputusan direksi melalui sebuah rapat direksi baik diikuti komisaris maupun tidak di mana pemegang saham di banyak perusahaan selalu membuat representasinya dalam komisaris perusahaan. Artinya, bisa jadi keputusan direksi merupakan usulan dari komisaris ketika mereka melakukan rapat baik rapat komisaris bergabung dengan direksi.

Bila pada RUPS ditentukan besaran dividen oleh pemegang saham, perusahaan akan membayar tambahan dividen jika dividen interim lebih kecil dari dividen yang dibayarkan atas keputusan RUPS. Sangat jarang besarnya dividen yang dibayarkan lebih kecil dari dividen interim karena akan meminta kembali atas yang dibayarkan. Oleh karenanya, dividen interim selalu kecil dan memperhatikan laba bersih dari perusahaan. Biasanya, dividen interim dibayarkan setelah bulan Juli karena sudah kelihatan kinerja enam bulan tahun berjalan. Akibat pembayaran dividen ini, rincian tunai (kas) di perusahaan akan mengalami penurunan dan lawannya menurunkan laba ditahan. Biasanya, laba ditahan ini tidak mempunyai biaya sehingga sering kali direksi tidak mau membagikan dividen agar ada dana untuk investasi dalam rangka kelanjutan operasi perusahaan (going concern).

Jika investor memiliki saham preferen, pemegang saham preferen akan mendapatkan dividen tunai setiap tahun secara konstan, terkecuali perusahaan mengalami kerugian yang bersangkutan. Tetapi, bila perusahaan mengalami kerugian pada tahun berjalan, perusahaan tidak membagikan dividen preferen kepada pemegang saham preferen pada tahun berjalan akan dilakukan pada tahun berikutnya ketika perusahaan sudah mengalami keuntungan. Pembagian dividen preferen tidak memerlukan keputusan RUPS karena sudah menjadi karakteristik dari saham preferen.

Dividen saham adalah pemilik saham mendapatkan saham tambahan atas adanya pembagian dividen yang diberikan secara saham. Artinya, laba ditahan yang dimiliki perusahaan dikonversikan menjadi saham. Oleh karena itu, secara akuntansi laba ditahan perusahaan mengalami penurunan dan jumlah modal setor meningkat. Artinya, jumlah saham yang dikeluarkan perusahaan mengalami peningkatan. Pembagian saham dividen ini juga memerlukan keputusan RUPS dan sedikit jarang perusahaan membagi dividen saham sebelum ada keputusan RUPS, seperti diuraikan sebelumnya yaitu dividen interim.

Dividen bukan tunai dan saham yang lebih dikenal dengan dividen in-kindadalah dividen yang diberikan perusahaan dalam bentuk barang. Biasanya, perusahaan yang bukan mencari laba sering melakukan ini. Bisa diperhatikan, PT Bursa Efek Indonesia, PT KSEI, dan PT KPEI yang bergerak dalam bursa saham tidak pernah membagikan dividen kepada pemegang sahamnya. Direksi ketiga perusahaan tersebut membagikan barang, seperti laptop dan pelatihan untuk pegawai perusahaan pemilik saham ketiga perusahaan. Ketiga perusahaan sering disebut perusahaan yang tidak mencari laba dan bisa juga disebut perusahaan publik walaupun ketiga perusahaan tidak memiliki pemegang saham lebih dari 300 pihak. Ini yang disebut dengan dividen in-kind.Voucher menginap di hotel, vouchermakan di restoran, dan bentuk voucherlainnya merupakan bentuk dividen in-kind. Perusahaan yang nirlaba sering kali menggunakan cara ini untuk memberikan pelayanan kepada pemegang sahamnya.

Pemegang saham yang mendapatkan dividen harus membayar pajak kepada pemerintah atas pendapatan ini. Kalau diperhatikan secara saksama, pemerintah melakukan pajak berganda dalam dividen ini. Laba bersih perusahaan sudah dikenai pajak, dan laba bersih tersebut diberikan kepada pemegang saham dikenai pajak lagi. Bila dividen tunai yang dikenai pajak, maka perusahaan memotong pajak dividen tersebut sehingga yang dibayarkan perusahaan dividen yang telah dipotong pajak. Demikian juga untuk dividen in-kind yang dalam bentuk voucher yang diberikan kepada pemegang saham sudah dipotong pajak.

Sementara untuk dividen saham, perusahaan akan menyatakan kepada pemegang saham harus membayar pajak atas dividen saham yang diterimanya. Sering kali, perusahaan mengumumkan kepada pemegang saham untuk membayar pajak lebih dulu dan menyerahkan bukti pembayaran baru pemegang saham menerima saham atas pembagian dividen saham tersebut. Jika pemegang saham belum membayar, perusahaan tidak akan membagikan dividennya.

Perusahaan membagikan dividen dengan memberikan sinyal kepada pemegang saham, yaitu perusahaan menyatakan bahwa perusahaan tidak mempunyai investasi yang menarik di masa mendatang sehingga uang pemegang saham tidak bisa dikembangbiakkan. Artinya, pengembangan uang investor bisa dilakukannya sendiri dengan cara perusahaan membagikannya dan melakukan investasi atas uang tersebut. Padahal, investor memandang pembagian dividen tersebut merupakan sinyal bahwa perusahaan mempunyai uang yang banyak sehingga banyak pihak yang membeli saham karena perusahaan dianggap mempunyai kinerja baik.

Biasanya, harga saham di bursa saham akan mengalami penurunan sebesar nilai dividen tersebut karena pihak yang membeli saham tidak mendapatkan dividen. Oleh karena tidak mendapatkan dividen, pembeli saham tidak mau membayar lebih mahal atas pembelian saham tersebut.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 30 Juli 2016, di halaman 25 dengan judul "Apakah Dividen?".

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Jumat, 22 Juli 2016

KESEHATAN Remaja Sukar Tidur (DR SAMSURIDJAL DJAUZI)

Saya siswi SMA berumur 17 tahun, sekarang baru naik ke kelas III. Tinggi badan saya 167 sentimeter dan berat badan 62 kilogram. Saya merasa sehat saja dan termasuk rajin main basket. Saya ingin menanyakan beberapa hal tentang kesehatan.

Saya enggan membicarakannya dengan ibu dan malu bertanya kepada guru di sekolah. Ayah dan ibu bekerja. Saya anak kedua dari tiga bersaudara. Kakak saya perempuan, sudah semester VI di suatu fakultas dan tinggal di kota lain. Adik saya laki-laki berumur 14 tahun, kelas II SMP.

Saya hampir tak pernah ke dokter kecuali ke dokter gigi. Saya pernah mengalami gangguan jerawat yang cukup banyak, namun ibu tidak sempat mengantar ke dokter. Akhirnya saya menggunakan obat jerawat teman saya. Untunglah hasilnya baik. Saya menstruasi setiap bulan tak teratur. Saat menstruasi, sakitnya lumayan hebat dan konsentrasi belajar saya menurun, terutama pada hari pertama menstruasi. Saya tanyakan kepada ibu dan beliau mengatakan dulu beliau juga mengalami hal yang sama. Jadi, saya biarkan saja karena menurut ibu nanti juga hilang.

Ada hal yang mengganggu saya belakangan ini. Saya sukar tidur. Saya baru tertidur sekitar pukul 01.00 dini hari. Akibatnya, pagi hari saya bangun masih mengantuk sehingga sering terlambat sekolah.

Saya merasakan hal ini setelah bertengkar hebat dengan ayah. Ayah saya punya sikap keras. Saya merasa gerak saya terlalu dibatasi. Saya tak boleh ikut pesta ulang tahun teman jika diadakan malam hari dan saya menurut. Saya juga tidak boleh keluar rumah selain ke sekolah. Ini mengganggu kegiatan saya. Saya senang ke toko buku dan berolahraga basket. Saya harus melakukannya tanpa sepengetahuan ayah.

Satu hari ayah pulang kerja lebih cepat dari biasa. Pulang sekolah saya latihan basket. Mendapati saya tak di rumah, ayah menelepon sambil marah agar saya segera pulang. Saya pulang dan dimarahi habis-habisan. Semula saya diam saja, namun kemudian berusaha untuk menjelaskan apa yang saya lakukan. Namun, beliau bertambah marah. Saya menangis masuk kamar dan tak mau ketemu ayah hampir tiga hari.

Ibu membujuk saya agar saya minta maaf kepada ayah. Saya merasa tak bersalah, namun pada akhirnya saya merasa sebagai anak harus menghormati orangtua. Saya minta maaf kepada ayah, namun ayah menyambutnya secara dingin. Sejak itu saya sering gelisah. Saya menyayangi ayah saya, namun saya tak suka pada sikap pemarahnya. Saya iri kepada teman-teman putri saya yang disayangi oleh ayahnya. Meski ibu amat peduli kepada saya, saya merasa ayah tak mengacuhkan saya. Bahkan, dia pernah lupa ulang tahun saya.

Bagaimana cara agar saya bisa tenang kembali dan dapat mempunyai hubungan yang baik dengan ayah? Apakah saya membutuhkan psikolog atau psikiater? Teman saya menganjurkan agar saya membeli obat tidur, tetapi saya tak mau karena takut kecanduan. Apakah sering remaja seusia saya mengalami sukar tidur? Apakah dapat disembuhkan? Terima kasih atas jawaban dokter.

N di J

Saya merasa gembira Anda mau mengirimkan surat untuk ruang konsultasi ini. Cukup banyak remaja yang mengalami kesulitan tidur. Sebagian mencari jalan keluar sendiri. Ada yang bertanya kepada teman dan terbanyak adalah mencari informasi di media sosial. Hanya, dalam mencari informasi, kita harus mencari sumber yang berwenang dan dapat dipercaya.

Masalah kesehatan remaja seperti yang Anda sampaikan banyak menyangkut pertumbuhan (tinggi dan berat badan), penampilan (jerawat, rambut rontok), atau kesehatan reproduksi (menstruasi, dan lain-lain). Dan sebenarnya yang juga sering dialami adalah masalah psikis, termasuk hubungan dengan orangtua dan teman.

Pada umumnya orangtua sekarang sibuk bekerja. Mereka ingin mempunyai pendapatan yang cukup untuk membiayai keluarga. Dalam kesibukannya, sering orangtua tak menyadari bahwa anak-anak mereka telah tumbuh, bahkan sudah menjadi remaja dengan berbagai suka dukanya. Beruntunglah keluarga yang masih mampu menjalin komunikasi keluarga dengan baik. Waktu bertemu yang tak seberapa, misalnya di meja makan atau pada malam hari, masih dapat dimanfaatkan untuk berkomunikasi antar-anggota keluarga.

Namun, banyak juga keluarga yang tak dapat memanfaatkan kesempatan tersebut. Anak sibuk dengan gawai di kamarnya. Orangtua pun sering membawa pekerjaan ke rumah dan sibuk dengan pekerjaannya. Bukan hanya komunikasi orangtua dan anak yang terganggu, komunikasi suami istri juga dapat mengalami gangguan. Keadaan ini merupakan tantangan yang harus dihadapi keluarga masa kini.

Tumbuh kembang anak memerlukan bimbingan orangtua. Sering kali karena kesibukan, orangtua tak sempat memperhatikan anaknya. Mereka tak mengetahui masalah yang dihadapi anak mereka. Sering kali kesadaran timbul terlambat, anak sudah terjebak narkoba atau kriminalitas.

Saya senang hubungan Anda dengan ibu cukup baik. Peliharalah hubungan tersebut. Anda dapat mengemukakan kepada ibu apa yang Anda rasakan terhadap ayah. Ibu mungkin secara perlahan dapat menyampaikannya kepada ayah. Saya percaya ayah Anda amat menyayangi Anda. Namun, rasa sayangnya itu dimanifestasikan dalam bentuk perlindungan berlebihan.

Ayah Anda tak ingin Anda mendapat kecelakaan sehingga Anda tak boleh keluar rumah kecuali sekolah. Padahal, remaja seumur Anda membutuhkan kegiatan dan pergaulan. Ayah Anda takut Anda terpengaruh oleh teman-teman yang mempunyai kebiasaan tidak baik. Jadi, rasa sayangnya mengakibatkan Anda terkungkung. Cobalah pada waktu kumpul bersama pada hari libur Anda menjelaskan keinginan Anda. Tunjukkan Anda adalah gadis yang bertanggung jawab dan sudah mampu menjaga diri. Mungkin ayah Anda masih merasa Anda adalah gadis kecilnya dulu yang selalu harus dilindungi. Karena setiap hari berjumpa, dia tak menyadari perubahan yang telah terjadi pada diri Anda.

Psikolog atau psikiater dapat membantu memperbaiki komunikasi dalam keluarga. Mungkin sukar tidur yang Anda alami dapat diatasi dengan berkonsultasi kepada psikiater. Untuk berkonsultasi kepada dokter, Anda mungkin masih ditemani orangtua. Namun, dokter biasanya akan memberi kesempatan kepada remaja untuk berkonsultasi sendiri sehingga remaja dapat mengemukakan perasaannya tanpa kehadiran orangtua.

Orangtua juga harus memahami bahwa remaja perlu lebih bebas untuk menceritakan apa yang dirasakannya kepada dokter. Orangtua biasanya cepat tanggap jika anaknya demam tinggi. Mereka akan segera membawanya ke dokter. Gangguan emosi, seperti juga demam, perlu mendapat perhatian. Jika berjalan lama, gangguan emosi dapat mengganggu kesehatan jiwa. Gangguan tidur (insomnia) pada umumnya dapat disembuhkan.

Saya berharap hubungan Anda dengan ayah akan membaik kembali. Anda mencintai ayah Anda dan beliau pun mencintai Anda. Hanya, yang harus diperbaiki adalah komunikasi antara Anda dan ayah. Saya berharap komunikasi tersebut dapat terbina dengan baik. Saya juga berharap insomnia Anda segera sembuh.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 23 Juli 2016, di halaman 25 dengan judul "Remaja Sukar Tidur".

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

PSIKOLOGI Mengatasi Kekhawatiran (AGUSTINE DWIPUTRI)


PSIKOLOGI

Mengatasi Kekhawatiran

"Saya deg-degan menghadapi ujian bulan depan", "Bisa tidak, ya, saya melunasi cicilan rumah selama 10 tahun, kok, saya ragu", "Kalau saya periksakan benjolan di leher ke dokter, jangan-jangan malah ketahuan ada kanker pada diri saya...".

Ungkapan di atas sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari, intinya menunjukkan adanya rasa khawatir, sebagai kondisi kecemasan dan ketidakpastian mengenai masalah-masalah nyata ataupun yang masih bersifat potensial. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah kalau sering khawatir seperti ini, kita juga bisa disebut mengalami gangguan jiwa?

Positif dan negatif dari khawatir

Kekhawatiran tidak selalu bersifat negatif jika kondisi ini justru mendorong kita untuk mengambil langkah dan memecahkan masalah yang ada. Misalnya, kita kemudian belajar dan mempersiapkan ujian dengan lebih sungguh-sungguh atau selalu mengendalikan diri dalam berbelanja barang yang tak perlu sehingga pembayaran angsuran rumah selalu tepat waktu.

Namun, jika kita kemudian terlalu terpaku dengan pemikiran seperti, "Bagaimana kalau nanti tidak lulus", "Bagaimana jika... ini itu…", dan berbagai skenario buruk lain, kekhawatiran bisa menjadi masalah. Kondisi ini bisa sangat menyerap energi emosional dan menghancurkan diri. Bahkan, jika semua aspek dalam kehidupan kemudian dikhawatirkan dan menimbulkan kegelisahan, sehingga orang yang bersangkutan bahkan tidak lagi menyadari apa yang sesungguhnya membuat khawatir terus-menerus dan mengganggu fungsi kehidupannya sehari-hari, kondisi semacam ini dapat masuk ke dalam kelompok gangguan cemas menyeluruh.

Ciri utama dari kekhawatiran menurut para ilmuwan yang mempelajarinya adalah tidak adanya stres yang sebenarnya, kita khawatir jika pada kenyataannya tak ada sesuatu yang konkret yang perlu dikhawatirkan. Kekhawatiran semacam ini—merenungkan kemungkinan buruk yang mungkin terjadi pada kita atau orang yang kita cintai—sama sekali berbeda dari pemecahan masalah yang konkret.

Mengatasi kekhawatiran

Apabila kekhawatiran sudah dirasa mengganggu, sebaiknya kita pergi ke psikolog atau psikiater untuk membantu secara lebih profesional. Namun, ada situasi ketika kita masih dapat mengubah kebiasaan buruk yang mengurangi ketenteraman hidup.

Karl Pillemer, PhD (2011) dalam bukunya yang berjudul Thirty Lessons for Livingmengumpulkan hasil wawancaranya terhadap beberapa warga lansia di Amerika yang dipandang arif dalam melihat suatu persoalan dan menuliskan beberapa cara praktis untuk mengurangi rasa khawatir.

Tips 1: jangka pendek

Berfokus pada jangka pendek. Disarankan untuk menghindari bayangan yang panjang ke masa depan ketika Anda berhadapan dengan hal-hal yang mengkhawatirkan dan lebih baik berfokus pada hari atau saat ini saja. Jika merasakan banyak kekhawatiran, Anda harus menghentikannya dengan berkata kepada diri sendiri bahwa hal tersebut nantinya akan berlalu juga. Anda tidak bisa terus khawatir sepanjang waktu karena kondisi semacam ini benar-benar merusak kesehatan, diri, dan kehidupan Anda.

Memang ada saat-saat ketika Anda mengkhawatirkan sesuatu dan tidak dapat melakukan apa-apa lagi. Maka, cobalah berdiam sejenak dan berpikir bahwa hal itu tidak ada gunanya. Anda harus mengeluarkan semua itu dari pikiran Anda sebanyak yang Anda bisa pada saat itu juga. Anda hanya perlu mengambil satu hari pada suatu waktu. Jika memungkinkan, temukan ide yang baik untuk rencana ke depan meskipun Anda tidak dapat selalu melakukan hal itu karena segala sesuatu tidak selalu terjadi seperti yang Anda harapkan. Jadi, hal yang paling penting adalah satu hari pada suatu waktu.

Tips 2: mempersiapkan

Daripada khawatir, lebih baik mempersiapkan. Penangkal dari rasa khawatir adalah persiapan secara berhati-hati untuk berbagai situasi yang membuat seseorang merasa cemas.

Lucy Rowan, salah seorang lansia bijak, dalam buku Karl Pillemer memberikan pendapat sebagai berikut. "Saya telah belajar untuk mempersiapkan segala sesuatu yang saya khawatirkan. Setiap kali saya harus berpidato atau memberikan ceramah, saya pasti menuliskannya terlebih dahulu. Saya kadang-kadang bermain piano di gereja saya dan saya berlatih sampai merasa dapat bermain dengan sempurna. Hal ini menghilangkan atau mengurangi rasa khawatir saya. Sama halnya dengan bedah operasi yang akan saya jalani. Saya menyiapkan semua hal tentang itu—saya sudah bicara dengan semua orang tentang semua hal. Saya pikir saya telah siap. Saya menyerahkan diri ke tangan Tuhan dan saya mempunyai orang-orang hebat yang memahami pekerjaan mereka. Saya tidak akan khawatir, tidak akan membuang waktu. Jika Anda ingin menjaga kesehatan yang baik, gunakan waktu Anda untuk membuat perencanaan."

Lansia lain, Bateman, mengatakan, jika Anda menjadi takut akan sesuatu, Anda benar-benar harus tahu apa yang menakutkan itu. Setidaknya mengerti mengapa takut. Identifikasi hal itu, saya takut pada X, misalnya. Kadang-kadang Anda mungkin memiliki alasan yang baik dan itu merupakan sesuatu yang sah. Barulah Anda dapat merencanakan, bukan terus mengkhawatirkan, hal tersebut.

Tips 3: penerimaan

Penerimaan adalah penangkal khawatir. Para lansia yang arif telah melalui seluruh proses berkali-kali, seperti mengkhawatirkan suatu acara, terjadinya suatu peristiwa, dan mengalami akibatnya. Berdasarkan pengalaman tersebut, mereka merekomendasikan sikap penerimaan sebagai salah satu solusi untuk masalah rasa khawatir. Bagaimanapun, kita cenderung melihat penerimaan sebagai murni pasif, bukan sesuatu yang dapat kita lakukan secara aktif. Selain fokus pada hari ini dan membuat persiapan sebagai obat untuk khawatir, banyak dari para sesepuh juga menyarankan agar secara aktif menuju pada penerimaan.

Suster Clare belajar teknik untuk mengurangi kekhawatiran melalui sikap penerimaan. Begitu banyak hal memasuki pikiran Anda. Seseorang mungkin menyakiti perasaan Anda. Pastikan Anda akan mendapatkan pemulihan perasaan kembali. Buang jauh-jauh perasaan sakit hati itu dan biarkan menghilang atau berkurang.

Hannah Wrobel melihat bahwa kehidupan adalah sesuatu yang baik. Ia belajar banyak tentang kehidupan dan tidak satu pun akan mengganggunya lagi. Jika Anda tidak menerimanya, buang ke "saluran pembuangan". Tetaplah tenang, mengikuti arus. Jadilah seorang yang santai, terima kehidupan seperti apa adanya. Hidup ini singkat, kita harus berpikiran terbuka. Belajar menerima, bukannya mengkhawatirkan. Maka, kita akan baik-baik saja.

Beberapa tambahan saran yang dapat saya sampaikan adalah hendaknya menjauh dari orang-orang yang berpengaruh negatif sehingga justru menaikkan kadar kekhawatiran Anda. Kurangi waktu dalam berhubungan dengan mereka. Juga pilih dengan cermat kepada siapa Anda menceritakan hal-hal pribadi yang bersifat rahasia. Mereka seyogianya dapat membuat Anda merasa lebih lega dan tidak menimbulkan kekhawatiran baru. Selamat berlatih.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 23 Juli 2016, di halaman 25 dengan judul "Mengatasi Kekhawatiran".

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Sabtu, 16 Juli 2016

KESEHATAN: Menerapkan Terapi Baru (DR SAMSURIDJAL DJAUZI)

Saya rajin mengikuti kemajuan ilmu kedokteran, terutama kemajuan terapi, melalui berbagai media, termasuk dari media elektronik dan media sosial. Sepengetahuan saya, banyak hasil penelitian yang belum dilaksanakan di negara kita. Ini tentu merugikan masyarakat. Jika ada obat baru atau cara pengobatan baru tidak segera diterapkan, hal itu tentu akan merugikan para penderita penyakit yang mungkin dapat disembuhkan dengan obat baru tersebut.

Saya memang tak punya latar belakang pendidikan dokter atau kesehatan. Latar belakang pendidikan saya adalah teknik. Bidang kedokteran seharusnya meniru kecepatan penerapan teknologi di bidang elektronik dan komunikasi. Setiap tahun terjadi perubahan yang bermanfaat bagi masyarakat.

Saya berumur 56 tahun dan penderita hipertensi. Sudah tiga tahun ini saya harus meminum obat darah tinggi. Praktis obatnya tak berubah. Saya juga harus menjaga berat badan, berolahraga, dan mengukur sendiri tekanan darah saya secara teratur. Penyakit darah tinggi sudah dikenal lama, namun sampai sekarang belum dapat disembuhkan. Sebagai pasien, saya sering bertanya kapan saya bisa bebas minum obat dan juga bebas makan yang saya sukai. Kapan saya tidak lagi harus peduli dengan berat badan saya?

Saya ingin mendapat penjelasan dokter bagaimana informasi terapi baru dimanfaatkan oleh pihak berwenang di negara kita. Mengapa obat baru yang ditemukan dan terbukti hasilnya baik di luar negeri tak dapat segera diimpor dan digunakan untuk masyarakat yang memerlukan?

Saya juga mendengar obat baru yang akan beredar di Indonesia harus mendapat izin pemerintah. Benarkah demikian? Bukankah obat tersebut sudah terbukti bermanfaat di banyak negara? Prosedur apa lagi yang diperlukan agar obat tersebut segera dapat dimanfaatkan untuk kepentingan orang sakit yang memerlukan? Apakah layanan kedokteran kita tidak terlalu lambat dalam memanfaatkan penemuan-penemuan baru? Sementara itu, masyarakat merasa penemuan di dalam negeri amat sulit untuk segera diterapkan, harus melalui berbagai macam prosedur. Pertanyaan saya, dapatkah masyarakat kedokteran Indonesia lebih cepat tanggap? Harapan ini terutama saya tujukan kepada pihak yang berwenang. Bagaimana pendapat dokter?

M di J

Saya setuju dengan pendapat Anda. Hasil penelitian yang bermanfaat harus segera kita manfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat. Penemuan obat baru dan cara terapi baru juga harus kita manfaatkan. Di seluruh dunia sekarang ini dianut praktik kedokteran yang berdasarkan bukti (evidence-based medicine). Kalangan kedokteran perlu memanfaatkan bukti mutakhir dari penelitian yang sahih dalam tata laksana pasien.

Banyak informasi yang beredar di masyarakat tentang obat baru atau cara pengobatan baru. Namun, disayangkan informasi tersebut tidak didukung oleh bukti berdasarkan penelitian yang sahih. Setiap hari kita dijejali dengan testimoni orang-orang yang bersaksi penyakit kencing manisnya sembuh karena minum obat tertentu. Kesaksian tersebut tak dapat dimasukkan ke dalam bukti yang sahih. Mungkin saja pengalamannya benar, namun harus dilakukan penelitian melalui uji klinik yang baik jika obat tersebut digunakan pada banyak orang. Apakah benar bermanfaat dan efek sampingnya tak membahayakan.

Berbagai uji klinik telah dilakukan dewasa ini untuk terapi kencing manis di seluruh dunia dan belum ada yang terbukti dapat menyembuhkan diabetes melitus tipe 2 yang banyak terdapat di negeri kita. Pakar kencing manis Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof Dr dr Pradana Soewondo, SpPD-KEMD, menyimpulkan, sampai saat ini belum ada jalan pintas untuk penyembuhan diabetes melitus. Untuk sementara pemahaman penyakit, pengaturan makan, olahraga, dan obat masih menjadi tulang punggung pengendalian diabetes melitus.

Instansi yang bertanggung jawab dalam peredaran obat di Indonesia adalah Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Kita patut merasa bangga bahwa BPOM termasuk badan POM yang diakui baik oleh WHO. Cukup banyak badan POM dari negara lain yang magang dan dilatih di Indonesia. Artinya, masyarakat kita dilindungi sehingga hanya mengonsumsi obat yang bermanfaat dan terhindar dari obat yang berbahaya. Untuk itu diperlukan sejumlah peraturan. Obat yang akan diedarkan di Indonesia, baik obat buatan dalam negeri maupun obat impor, harus diregistrasikan (didaftarkan agar mendapat izin edar). Dalam proses registrasi harus ditunjukkan bukti penelitian.

Penelitian harus memenuhi persyaratan penelitian (uji klinik) yang baik. Jika semuanya memenuhi syarat dan para pakar di bidang yang bersangkutan sepakat obat tersebut baik, obat itu akan mendapat izin edar dan dapat digunakan masyarakat. Bagaimana jika penelitian dilakukan di luar negeri atau di negara maju? Apakah masih harus dibahas lagi? Ya, tetap harus dibahas karena harus disesuaikan dengan keadaan masyarakat.

Populasi kita berbeda dengan populasi negara maju sehingga harus dipertimbangkan jika obat tersebut dipakai di Indonesia apakah akan menimbulkan efek samping yang tak diinginkan. Salah satu yang juga menjadi pertimbangan sekarang ini, harus jelas apakah obat tersebut mengandung atau tidak mengandung bahan yang tidak halal. Jadi, BPOM menjaga agar masyarakat dapat memperoleh obat yang bermanfaat, minimal efek samping, serta jelas apakah obat tersebut halal atau tidak. Obat yang tidak halal hanya boleh dipakai oleh umat Islam dalam keadaan darurat (misalnya tak ada obat lain sebagai pengganti obat tersebut).

Bagaimana jika kebutuhan obat amat mendesak, seperti dulu obat AIDS dan sekarang obat hepatitis C? Jika amat diperlukan dapat diizinkan digunakan sementara menunggu registrasi. Izin tersebut dalam rangka skema akses khusus (special access scheme).

Dewasa ini obat hepatitis C masih dalam proses registrasi, namun sudah dapat dimanfaatkan oleh pasien yang memerlukan karena obat tersebut digunakan dalam rangka skema akses khusus ini. Obat sudah dapat digunakan, namun harus dalam pengawasan, terbatas, dan dipantau efek sampingnya.

Untuk itu, Kementerian Kesehatan menugaskan instansinya untuk melaksanakan skema akses khusus ini. Untuk obat hepatitis C ini ditunjuk RSUP Nasional Dr Cipto Mangunkusumo. Jika sudah teregistrasi dapat dipakai secara luas sebagaimana obat lain.

Dalam era informasi bebas dewasa ini, masyarakat dibanjiri oleh informasi baik yang berasal dari sumber berwenang maupun tidak. Setiap orang meski tidak berwenang dapat saja memberikan informasi kepada masyarakat. Masyarakat perlu memilih informasi yang dapat dipercaya. Perlu dibedakan mana informasi ilmiah dan mana iklan obat. Informasi ilmiah kedokteran dapat kita peroleh melalui majalah ilmiah, panduan WHO, atau panduan profesi kedokteran.

Dalam membaca artikel ilmiah sekalipun, kita harus bersikap kritis. Dalam pendidikan kedokteran diajarkan untuk melakukan critical thinking. Jika kita terburu-buru menggunakan obat atau cara pengobatan baru tanpa melalui prosedur pengaman ini, dapat terjadi kecelakaan yang merugikan masyarakat. Kita masih ingat akibat penggunaan obatthalidomide pada perempuan hamil yang mengakibatkan ribuan bayi lahir dalam keadaan cacat tanpa tangan atau kaki. Pengalaman tersebut menjadi pelajaran bagi kita agar bersikap menghargai penelitian baru, namun tetap hati-hati dalam menerapkannya.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 16 Juli 2016, di halaman 27 dengan judul "Menerapkan Terapi Baru".

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

INVESTASI Biaya Modal Perusahaan (ADLER HAYMANS MANURUNG)

Biaya modal perusahaan menjadi sebuah pertanyaan bagi pengusaha yang menjalankan usaha sehingga timbul pertanyaan apakah itu biaya modal. Bagaimana menghitungnya dan komponen biaya modal itu? Biaya modal mana dari komponen tersebut yang paling besar?

Biaya modal perusahaan adalah biaya yang dikeluarkan perusahaan atas pembiayaan dalam mengoperasikan perusahaan agar beroperasi sesuai dengan waktu (going concern). Jika pembiayaan perusahaan tidak mempunyai biaya, pembiayaan tersebut tidak dimasukkan dalam perhitungan pembiayaan. Biasanya pembiayaan ini dimaksudkan sebagai pembiayaan yang harus dibayar secara berkala kepada pihak pemberi pembiayaan. Artinya, pembiayaan tersebut sudah direncanakan perusahaan atau pinjaman yang memakai bunga dan sering disebut dalam bahasa Inggris intended financing.

Pembiayaan yang direncanakan tersebut bukan saja bunga yang dibayar secara reguler, melainkan juga termasuk biaya administrasi dan provisi jika pinjaman kepada bank. Jika pembiayaan menggunakan dana publik, biaya yang dibayarkan kepada perusahaan sekuritas yang ikut mencari dana, bahkan biaya pengacara dan notaris serta seluruh biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan dana publik itu seharusnya dimasukkan.

Sementara pembiayaan yang tidak direncanakan tidak pernah menghitung pembiayaan yang dikeluarkan. Padahal, pembiayaan yang tidak direncanakan itu juga mengeluarkan biaya administrasi dan umumnya dimasukkan ke dalam biaya administrasi umum perusahaan. Oleh karena itu, yang dimasukkan sebagai biaya modal ada biaya yang dibayar secara reguler, termasuk biaya di depan (up-front cost) ketika mendapatkan pembiayaan tersebut.

Pembiayaan yang diuraikan sebelumnya merupakan pembiayaan non-ekuitas, yaitu pembiayaan yang diuraikan pembiayaan dengan direncanakan dan pembiayaan spontan. Pembiayaan spontan tidak mempunyai biaya karena tidak ada biaya yang dibayarkan secara reguler.

Dividen

Sumber lain dari pembiayaan perusahaan adalah pembiayaan dengan ekuitas. Pembiayaan ini bersumber dari pemilik perusahaan dan perusahaan memberikan biaya tidak secara reguler, tetapi semua hasil yang diperoleh perusahaan menjadi milik dari pemegang ekuitas. Adapun biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk pemilik perusahaan sebagai pengembalian atas investasi dalam bentuk ekuitas ialah dividen. Dividen ini bisa dikelompokkan menjadi dividen tunai, dividen saham, dan dividenin-kind.

Pemberian dividen kepada pemegang saham berdasarkan hasil keputusan rapat umum pemegang saham yang sering terjadi atas usulan dari keputusan rapat direksi. Apabila direksi memandang perlu mempertahankan laba bersih atau tidak membagikan laba bersih sebagai dividen, ada kemungkinan tidak ada pembayaran dividen.

Semua direksi yang mengoperasikan perusahaan lebih menyukai pembiayaan dari ekuitas karena tidak dipusingkan oleh pengembalian biaya secara reguler dan jatuh tempo pokok ekuitas. Sementara pembiayaan dari pinjaman harus membayar bunga secara reguler dan pokoknya pada saat jatuh tempo. Oleh karena itu, pembiayaan dari pembiayaan yang memiliki bunga disebut instrumen pembiayaan berisiko dan pembiayaan ekuitas adalah pembiayaan berisiko rendah.

Berdasarkan uraian tersebut, dapat dijelaskan juga bahwa pembiayaan ekuitas mempunyai biaya lebih besar daripada pembiayaan dari pinjaman. Untuk dapat memahami pembiayaan dari pinjaman lebih tinggi daripada pembiayaan dari ekuitas harus dimulai dengan sebuah ilustrasi. Misalnya, seorang pengusaha mengoperasikan bisnis seluruhnya dengan ekuitas. Maka, seluruh laba bersih yang diperoleh akan menjadi milik ekuitas tersebut. Artinya, pemilik saham tidak berbagi dengan pihak lain atas laba bersih yang didapatkan perusahaan tersebut.

Ketika perusahaan mulai menggunakan pembiayaan dari pinjaman walaupun masih kecil sekali untuk mengoperasikan perusahaan, pemilik saham mulai merasakan adanya risiko yang meningkat dari investasi di saham tersebut. Perusahaan harus membayar bunga kepada pemberi pinjaman dan harus didahulukan dari pemegang saham. Akibatnya, pemegang saham akan meminta pembayaran biaya atas pembiayaan dari ekuitas semakin besar karena risiko adanya berbagi dengan pemberi pinjaman.

Semakin besar pinjaman yang dilakukan perusahaan, kian besar risiko yang dihadapi oleh pemegang ekuitas. Akibatnya, semakin besar pinjaman berbunga perusahaan, semakin besar biaya yang diminta oleh pemegang saham perusahaan. Artinya, biaya yang dikeluarkan terhadap pembiayaan ekuitas selalu lebih tinggi daripada pembiayaan dari pinjaman yang berbunga.

Sesuai uraian sebelumnya, biaya modal perusahaan dapat diperhitungkan sesuai dengan biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan atas pembiayaannya. Jadi, perhitungan dari biaya modal adalah hasil jumlah dari dua komponen, pertama proporsi pinjaman terhadap total aset dikalikan dengan biaya pinjaman dikalikan lagi dengan rasio non-pajak (1 – pajak). Komponen kedua adalah proporsi ekuitas dibagi dengan total aset yang dikalikan dengan biaya ekuitas.

Biaya ekuitas sebuah perusahaan dapat dihitung dengan tingkat bunga bebas risiko ditambah dengan risk premium. Konsep risk premium adalah besarnya tingkat pengembalian sebagai kompensasi atas risiko yang ditanggung untuk melakukan investasi pada aset berisiko tersebut. Risk premium ini dapat dihitung dengan besarnya beta (risiko yang telah dikaitkan dengan pasar) dikalikan dengan market premium(selisih tingkat pengembalian pasar dengan tingkat pengembalian bebas risiko Rm – Rf).

Apabila perusahaan tidak mempunyai utang, beta perusahaan yang tidak mempunyai utang berbeda dengan perusahaan yang mempunyai utang. Adanya risiko premium ini yang menjelaskan bahwa pembiayaan ekuitas lebih mahal dari pembiayaan dengan pinjaman yang berbunga.

Penjelasan perhitungan pembiayaan tersebut, dapat diperhitungkan bahwa biaya modal perusahaan selalu lebih besar dibandingkan biaya atas pembiayaan dari pinjaman dan lebih kecil dari pembiayaan ekuitas. Jika hasil perhitungannya tidak sesuai dengan kalimat sebelumnya, ada perhitungan yang salah sehingga perlu dilakukan perhitungan ulang agar mendapatkan hasil yang benar. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa biaya modal ini merupakan biaya rata-rata biaya pembiayaan perusahaan yang sering disebut weighted average cost of capital(WACC).

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 16 Juli 2016, di halaman 27 dengan judul "Biaya Modal Perusahaan".


Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.
Related Posts with Thumbnails

Synergy Worldwide, Andalkan Vital 3!

Synergy Worldwide, Andalkan Vital 3!
Synergy Worldwide, Andalkan Vital 3!

Skincare: The Revolution in Anti-Aging

Skincare: The Revolution in Anti-Aging
Dokumen Sehat Sinergis

Pilihan Investasi

Pilihan Investasi
Ada dua pilihan: jika Ikut Menjadi Member Bisnis Synergy

Produk Synergy WorldWide

Loading...
Word of the Day

Article of the Day

This Day in History

Today's Birthday

In the News

Quote of the Day

Spelling Bee
difficulty level:
score: -
please wait...
 
spell the word:

Match Up
Match each word in the left column with its synonym on the right. When finished, click Answer to see the results. Good luck!

 

Hangman

Hubungi, kami siap melayani anda:

Untuk info lanjut
hubungi:

Ibu Liong (021-33431704)


Sertifikasi Produk Synergy WorldWide

Produk -produk Synergy / NSP di Indonesia telah terdaftar pada Departemen Kesehatan RI dan memiliki izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM), serta memperoleh sertifikat Halal dari IFANCA (The Islamic Food and Nutrition Council of America) yang disahkan oleh LP POM MUI.