Cari uang di internet

HUBUNGI, KAMI SIAP ANTAR!

Sehat-Sinergis secara herbal, membangun kesehatan dan kesejahteraan bersama secara sehat sinergis. Bekerjasama dengan Synergy WordWide (Independent Distributor from United State of America) untuk selengkapnya untuk pembelian atau pemesanan dengan perjanjian hubungi Ibu Liong di nomor: 021-33431704 Hubungi kami di email: sehat.sinergis@gmail.com. Ada uang baru barang diantar. Carilah lebih dulu kesehatan, baru yang lainnya.

Sabtu, 18 Februari 2017

PSIKOLOGI: Menemukan Suara Hati yang Otentik, Apa Itu? (SAWITRI SUPARDI SADARJOEN)

Tugas dari seorang psikoterapis dilaksanakan dengan berlandaskan dorongan dan keinginan tulus untuk membantu orang lain agar orang tersebut mampu berbicara dengan bijak dan baik sehingga orang yang diajak bicara mau mendengar dan kemudian memahami dengan baik tentang apa isi pembicaraan tersebut dengan benar.

Berbagai aktivitas yang terkait dengan upaya pertolongan tersebut, seperti memberikan teknik bertanya, membantu pembicara mengerti betul-betul inti pembicaraan yang akan dikemukakan serta kemampuan dan keterampilan dalam menjabarkan keinginan-keinginan, keyakinan, dan nilai-nilai yang dianut terkait dengan isi pembicaraan dan batasan isi pembicaraannya, tetapi upaya-upaya tersebut ternyata keberhasilannya masih sangat kurang. Mengapa? Karena kemampuan mengendalikan percakapan bergantung pada sekuat apa kita sebagai pembicara akan bertahan dalam situasi yang kurang nyaman oleh respons pendengar yang kita terima, tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan.

Masalah komunikasi memang bukan masalah sederhana sehingga memang membutuhkan keikutsertaan dalam pelatihan keterampilan komunikasi dan pelatihan bersikap asertif walaupun dalam hal ini dapat dikatakan bahwa sikap asertif yang pada dasarnya akan menjadi gagasan ideal baru efektif andai tidak menyertakan tatanan budaya setempat. Perlu diketahui bahwa pada umumnya lingkungan budaya Timur menganut pendapat umum yang menyatakan bahwa sikap asertif dinilai sebagai sikap yang "tidak sopan", apalagi apabila dikomunikasikan kepada orang yang lebih tua.

Jadi, peningkatan kemampuan dalam bersikap asertif dan keterampilan berkomunikasi yang telah diupayakan ternyata juga tidak menjamin hal yang kita sampaikan benar-benar didengar oleh lingkungan tertentu tempat kita berada. Contohnya, pengalaman dalam kehidupan keseharian, kita mengalami kesulitan untuk memengaruhi suami atau istri kita seperti halnya dilema yang kita hadapi saat kita mencoba memengaruhi ibu, kakak, atau paman kita melalui kemampuan kita berkomunikasi.

Batas efektivitas dari "komunikasi yang baik"

Kita semua pasti menginginkan kemampuan berkomunikasi yang baik dan yang membuat diri kita benar-benar merasa didengar. Ungkapan perasaan yang sering saya temukan dalam praktik psikoterapi antara lain, "dia tidak menangkap makna inti ungkapan saya", atau "dia adalah seorang yang selalu mengkritik apa pun yang dia dengar". Dasar pendapat negatif tersebut adalah perasaan tidak puas terhadap penerimaan orang lain tentang gagasan yang diutarakan. Jadi, pada dasarnya kita membutuhkan telinga untuk mendengarkan gagasan kita dan kita benar-benar merasa depresi apabila dalam kenyataannya kita merasa pernyataan kita tidak disimak dan dipahami pasangan berkomunikasi kita.

Melalui penulisan artikel ini, saya berharap dapat membuat diri kita meyakini bahwa kita mampu didengar. Artinya, saat menghadapi relasi yang sulit, kita seyogianya menguatkan suara hati kita, dengan harapan kita akan memperoleh kasih sekaligus dipahami lawan bicara kita, walaupun pada awalnya kita merasa kurang yakin orang akan memberikan respons sesuai dengan yang kita inginkan.

Pertimbangan lain yang perlu kita simak adalah kita tidak mampu menghindarkan diri dari keberadaan nilai ambang "ketulian" orang yang kita ajak berkomunikasi. Katakanlah, misalnya ternyata pasangan kita pada dasarnya tidak benar-benar mencintai kita, maka nilai ambang "ketuliannya" pasti sangat tinggi sehingga apa pun dan seberapa intensnya kita memberikan pengertian yang disertai inisiatif yang mendalam kepadanya dan kita lakukan dengan bersungguh-sungguh akhir dari komunikasi kita bisa saja menghasilkan rasa frustrasi, tidak nyaman, dan rasa "gagal" pada diri kita sendiri.

Untuk itu, kita harus meraih kemampuan untuk memiliki sesuatu yang disebut "suara hati yang otentik", apa itu?

Suara hati yang otentik

Suara hati yang otentik adalah suara yang dihasilkan kualitas pribadi yang manifest dalam tampilan pribadi yang mantap, penuh keyakinan akan kemampuan diri, sehingga ungkapan kita selalu akan bersumber dari kondisi mental yang prima, terutama saat kita harus menciptakan percakapan untuk masalah-masalah penting. Guna menuju pencapaian suara otentik seyogianya kita berupaya memiliki beberapa kualifikasi mental sebagai berikut:

. Kita mampu berbagi kompetensi secara terbuka tentang permasalahan yang akan kita ungkapkan dengan tetap mempertimbangkan aspek kepekaan sosial setempat.

. Kita mampu menghangatkan situasi komunikasi walaupun apabila diperlukan, kita pun mampu membuat suasana menjadi tenang pula.

. Kita mampu mendengar dan mengungkap pertanyaan, yang menyatakan bahwa kita benar-benar memahami persoalan dan mampu mengumpulkan informasi tentang hal-hal yang mungkin akan memengaruhi kita terkait dengan permasalahan yang akan dibicarakan.

. Kita mampu mengungkapkan apa yang kita pikirkan dan rasakan serta menyatakan perbedaan-perbedaan tertentu dan memberikan kesempatan bagi orang lain untuk melakukan hal yang sama.

. Kita mampu mendefinisikan nilai-nilai, prinsip-prinsip, dan prioritas-prioritas serta dapat menyikapinya sebaik mungkin tentang permasalahan yang dibicarakan.

. Kita mampu menjabarkan keterbatasan toleransi yang bisa kita berikan atau bahkan mampu menerima perbedaan perilaku orang lain sebagai respons terhadap pernyataan kita.

. Kita mampu segera meninggalkan lingkungan tersebut, dengan catatan kita memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan finansial dan emosional kita sendiri, tentu apabila memang situasi memaksa kita untuk segera meninggalkan lingkungan tersebut.

Beberapa persyaratan untuk memiliki suara hati yang otentik tersebut memang terasa sederhana, tetapi tentu saja apabila permasalahan yang diungkapkan sulit dan kompleks sifatnya, upaya untuk membangun iklim relasi yang kondusif tentu saja tidak sesederhana itu.***

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 18 Februari 2017, di halaman 25 dengan judul "Menemukan Suara Hati yang Otentik, Apa Itu?".

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

KESEHATAN: Ingin Jadi Perawat (DR SAMSURIDJAL DJAUZI)

Anak perempuan saya sejak kecil ingin jadi perawat. Semula saya mengira dia tertarik pada seragam perawat dan nanti setelah dewasa akan dapat menilai ulang cita-citanya. Sekarang dia kelas III SMU dan ketika saya tanyakan cita-citanya ternyata dia tetap ingin menjadi perawat. Dia adalah anak pertama saya, adiknya laki-laki kelas I SMU dan anak saya yang bungsu kelas III SMP. Sekarang saya mulai sungguh-sungguh menanggapi cita-cita anak saya.

Dalam benak saya timbul pertanyaan, apakah jika dia menjadi perawat dia akan hidup cukup? Apakah pekerjaan perawat itu menarik? Bagaimana dengan jaga malam? Apakah dia akan dapat menyediakan waktu untuk keluarga dan anaknya nanti? Latar belakang pendidikan saya ekonomi jadi saya banyak memandang persoalan dari segi ekonomi. Saya tidak tahu bagaimana dengan kesejahteraan perawat, tetapi sepintas tampaknya penghasilan perawat belumlah mencukupi, terbukti dengan adanya berita-berita mengenai keluhan rendahnya pendapatan perawat.

Selain itu, bagi saya, perawat adalah orang yang sering kita jumpai di rumah sakit, mendampingi dokter dalam melayani orang sakit. Saya mungkin sudah tertinggal karena, menurut anak saya, seorang perawat sekarang ini dapat menjadi sarjana, master, dan doktor. Dia juga menginformasikan bahkan perawat juga dapat menjadi profesor. Namun, anak saya ingin berkecimpung di profesi keperawatan. Dia ingin menjadi perawat profesional dan cita-cita dia adalah menjadi spesialis perawat anak.

Sebagai seorang ayah, tentu saya akan mendukung cita-cita anak saya meski terus terang bagi saya profesi keperawatan saat ini belum merupakan profesi yang menjanjikan. Bagaimana dengan keterampilan perawat kita jika dibandingkan dengan perawat-perawat lain di ASEAN? Apakah keterampilan perawat kita dapat diandalkan? Benarkan banyak perawat kita yang bekerja di Timur Tengah dan mereka mendapat penghasilan yang jauh lebih tinggi daripada di Tanah Air? Apakah dengan adanya pasar bebas ASEAN, dokter dan perawat kita akan terdesak oleh kedatangan dokter dan perawat dari luar negeri? Terima kasih atas penjelasan dokter.

P di J

Saya mungkin bukan orang yang tepat untuk menjawab sejumlah pertanyaan Anda. Namun, saya bergaul cukup lama dengan teman-teman saya perawat dan sekaligus juga ikut dalam suka-duka kehidupan mereka. Seperti kita ketahui pelopor profesi keperawatan adalah Florence Nightingale yang juga dikenal dengan bidadari berlampu (the lady with the lamp). Beliau dengan sukarela tak kenal lelah menolong tentara yang luka pada perang di Semenanjung Krimea, Rusia. Pada perkembangannya, pendidikan keperawatan semula dilaksanakan rumah sakit yang amat memerlukan tenaga perawat. Namun, sekarang pendidikan keperawatan umumnya dilaksanakan perguruan tinggi berupa pendidikan vokasi, profesi, ataupun akademis.

Seorang yang menjalani pendidikan keperawatan dapat menjalani pendidikan profesi seperti yang dicita-citakan anak Anda, tetapi juga dapat menempuh pendidikan akademis, sarjana keperawatan, master, ataupun doktor keperawatan. Universitas Indonesia, misalnya, telah meluluskan banyak sarjana keperawatan dan juga sudah cukup banyak meluluskan master dan doktor di bidang keperawatan. Anak Anda benar, di beberapa universitas tenaga pengajar keperawatan sudah bergelar profesor.

Jadi, cita-cita menjadi perawat merupakan cita-cita mulia. Bekerja di bidang kemanusiaan, menjaga kesehatan perseorangan ataupun rumah sakit. Masyarakat lebih mengenal dokter, tetapi kurang mengenal ilmu keperawatan. Ilmu keperawatan sudah berkembang sedemikian rupa sehingga merupakan disiplin tersendiri yang berbeda dengan disiplin ilmu kedokteran. Ilmu keperawatan berkembang bersama ilmu kedokteran dan masing-masing dapat menyumbangkan ilmunya untuk meningkatkan mutu layanan kesehatan.

Pendapatan perawat di Indonesia memang masih rendah dibandingkan dengan sejawatnya di negara lain. Pekerjaan perawat memerlukan kesungguhan dan tanggung jawab. Seorang yang ingin menjadi perawat baik hendaklah senang menolong orang, terutama orang yang sedang sakit. Penderita jauh lebih banyak berkontak dengan perawat dibandingkan dengan dokter. Keluh kesah penderita sering disampaikan kepada perawat. Seorang perawat profesional mampu mengenal masalah-masalah yang dihadapi penderita dan mampu pula merencanakan asuhan keperawatan yang perlu dilakukan. Seorang perawat perlu menguasai keterampilan, mulai dari yang sederhana sampai keterampilan mengendalikan peralatan medis yang canggih. Teman-teman saya yang mempunyai jiwa perawat melaksanakan tugasnya dengan bersemangat. Kebahagiaan perawat ketika dia melepas pasien pulang ke rumah dalam keadaan baik, padahal sewaktu masuk rumah sakit, pasien dalam keadaan sakit berat. Senyum dan rasa terima kasih pasien dan keluarga merupakan obat jerih payah perawat.

Pendapatan dokter dan perawat memang masih berbeda bermakna, terutama karena dokter dapat berpraktik dan menerima honorarium di luar gaji dari hasil praktiknya. Pada umumnya, di rumah sakit sekarang telah diberlakukan remunerasi. Jika dulu jasa medis diartikan sebagai jasa dokter, sekarang jasa medis adalah jasa beragam petugas kesehatan dan juga petugas administratif. Uang jasa tersebut dibagikan kepada dokter, perawat, tenaga laboratorium, pemeriksaan penunjang, serta tenaga administrasi rumah sakit. Meski tambahan remunerasi yang diterima perawat belum banyak, ini merupakan salah satu bentuk penghargaan terhadap jasa perawat.

Para perawat Indonesia, seperti juga dokter, mempunyai perhimpunan profesi dan mereka bergaul dengan teman-teman profesi mereka pada tingkat ASEAN ataupun global. Jadi, sedikit banyak pendidikan keperawatan di Indonesia juga dipengaruhi pendidikan keperawatan ASEAN sehingga lulusan keperawatan di Indonesia dapat bersaing dengan koleganya di ASEAN atau kawasan lain. Perawat kita cukup banyak bekerja di Timur Tengah, perawat kita juga ada yang bekerja Jepang, Australia, dan Eropa. Perawat kita di Timur Tengah, menurut kabar yang saya terima, disukai masyarakat di sana karena terampil dan ramah. Saya juga mengenal seorang perawat yang dulu bekerja di RS Harapan Kita sekarang menjadi perawat senior di Australia. Kariernya menanjak cepat karena memang dia terampil dan mempunyai jiwa pemimpin. Kelemahan kita biasanya adalah dalam penguasaan bahasa asing (bahasa Inggris).

Pasar bebas ASEAN merupakan ancaman, tetapi juga kesempatan. Jika kalangan profesi kita mempersiapkan diri dengan baik dan kebijakan pemerintah mendukung profesional kita, kita tak perlu takut pada pasar bebas ASEAN. Pasien yang sedang sakit akan tetap merasa nyaman ditolong dokter atau perawat Indonesia yang mengenal budaya Indonesia dengan baik. Sudah tentu dokter dan perawat harus mengikuti perkembangan ilmu sehingga mereka tak ketinggalan dari koleganya di negara lain.

Nah, kembali ke cita-cita anak Anda, menjadi perawat adalah cita-cita mulia. Dengan dukungan orangtua, mudah-mudahan anak Anda akan menjadi perawat seperti yang dicita-citakannya. Jumlah perawat di Indonesia sekarang sekitar 250.000 orang tersebar di seluruh Tanah Air. Merekalah yang kita harapkan ikut meningkatkan taraf kesehatan masyarakat kita bersama profesi kesehatan lainnya.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 18 Februari 2017, di halaman 25 dengan judul "Ingin Jadi Perawat".

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

INVESTASI: Siapakah Investor di Keuangan dan Bank (ADLER HAYMANS MANURUNG)

Ketika berbicara tentang produk keuangan, akan ditemukan istilah yang sangat berbeda dan perbedaan tersebut sangat signifikan. Produk keuangan ini ditawarkan secara privat dan secara publik.

Jika seseorang membeli produk yang dijual kepada publik, seperti saham, obligasi (obligasi biasa dan obligasi konversi), waran, rights, dan derivatif, dikenal sebagai investor. Jika membeli produk secara privat yang umumnya ditawarkan bank, pemilik dana akan disebut klien atau konsumen perbankan. Inilah sebuah persoalan mendasar yang perlu dijelaskan kepada semua pihak.

Pemilik dana membeli atau menempatkan deposito, rekening koran, tabungan, ada juga negotiable certificate deposit (NCD) dan produk lain. Pemilik dana yang melakukan pembelian atas produk perbankan akan ada jaminan pokok dari produk keuangan (bank) yang dibeli pemilik dana tersebut akan terjamin kembali dan juga pengembalian produk tersebut juga ada kepastian.

Sementara pihak yang memiliki dana melakukan pembelian produk keuangan yang ditawarkan secara publik akan menghadapi risiko atas principal atau pokok investasinya akan bisa berkurang dan juga pengembaliannya tidak ada. Pada produk publik ini tidak memiliki jaminan sementara pada bank memiliki jaminan. Pada produk publik selalu menggunakan kepercayaan (trust), di mana pemilik dana percaya dananya akan kembali dan pihak memberikan kepercayaan kepada pemilik dana akan dikembalikan dananya.

Perbedaan sementara yang dijelaskan sebelumnya telah menjelaskan perbedaan bank dan selain bank, yaitu jaminan dan kepercayaan. Indonesia belum memiliki Undang-Undang Kepercayaan (Trust Law) karena kepercayaan di masyarakat baik bisnis dan bukan bisnis belum tercipta. Akibatnya, semua aktivitas yang ada tidak memakai undang-undang tersebut sementara di Inggris dan Amerika menggunakan kepercayaan (trust) tersebut dan juga telah mendarah daging bagi masyarakatnya.

Persoalan-persoalan investasi tidak bisa menggunakan dengan trust secara penuh, terutama setelah terjadi krisis pada tahun 1998. Hampir semua obligasi atau MTN atau produk yang lebih pendek seperti promissory notes (PN) dancommercial papers (CPs) sudah harus menggunakan jaminan saat ini. Jika seseorang ingin mengeluarkan surat utang, harus memiliki jaminan tersebut, dan sering jaminan tersebut dibuat-buat agar bisa berjalan seperti tagihan piutang, padahal sering kali tagihan piutang tersebut tidak diperhatikan.

Perbedaan penyebutan tersebut mempunyai implikasi atas penempatan dana tersebut. Pemilik dana yang melakukan penempatan pada bank tidak bisa meminta klasifikasi ke mana saja dana tersebut ditempatkan. Pemilik dana tersebut tidak bisa melarang bank untuk melakukan penempatan dana kepada perusahaan yang sedang mengalami persoalan. Sementara pemilik dana yang melakukan penempatan dana produk keuangan publik bisa meminta penjelasan atas penempatan dana tersebut.

Supaya pemilik dana memiliki kepercayaan penempatan dana pada bank-bank, bank-bank tersebut harus menerbitkan laporan keuangannya setiap tiga bulan sekali. Bahkan, direksi bank-bank melakukan public expose sekali tiga bulan sesuai laporan keuangan tiga bulanannya sudah bisa diterbitkan. Sering juga diperhatikan bahwa bank-bank mengundang analis- analis pasar modal untuk menjelaskan laporan keuangan selama tiga bulan sebelumnya untuk memberikan kepercayaan kepada investor yang membeli saham bank tersebut atau juga dana ditempatkan ke bank tersebut.

Sementara yang melakukan penempatan dana pada keuangan publik maka perusahaan yang mendapatkan dana mempunyai kewajiban memublikasikan laporan keuangan yang telah diaudit sekali enam bulan.

Kelompok investor

Jika diperhatikan secara saksama, investor yang melakukan pembelian produk keuangan bisa dikelompokkan menjadi dua kelompok besar, yaitu investor kelembagaan (wholesale investor) dan investor perseorangan (retail investor). Investor kelembagaan tersebut dapat ditunjukkan dengan lembaga tersebut, seperti asuransi dan dana pensiun serta juga lembaga- lembaga yang memiliki kelebihan dana. Lembaga-lembaga tersebut sering juga disebut unit yang surplus (surplus unit). Apabila yang melakukan investasi adalah perseorangan, disebut dengan investor ritel.

Investor lembaga lebih dilayani penerbit produk keuangan dibandingkan dengan investor ritel. Walaupun secara hukum kedua investor ini dianggap mempunyai hak yang sama. Investor ritel ini lemah sekali karena akses yang dimiliki sangat sedikit.

Penerbit produk keuangan juga sudah menganggap investor ritel tidak banyak gunanya diperhatikan. Tindakan ini dikarenakan investor ritel melakukan investasi dengan dana yang sangat terbatas, padahal ada juga investor ritel yang melakukan penempatan dana yang cukup besar, mendekati penempatan dana investor lembaga.

Investor kelembagaan sangat dilayani dengan berbagai informasi yang dimiliki perusahaan penerbit produk keuangan atau juga lembaga perantara yang menjual produk keuangan. Sebagai contoh, perusahaan sekuritas selalu mendatangi investor lembaga dengan membawa informasi yang banyak baik yang sudah dianalisis atau juga informasi yang baru diterima (belum dianalisis). Bahkan sering investor ritel mendapatkan informasi tersebut telat dibandingkan dengan investor lembaga. Akibatnya, banyak investor ritel bisa mendapatkan kerugian yang besar dibandingkan dengan investor kecil.

Faktor lain adalah dalam hitungan dana, misalkan jika investor ritel melakukan investasi dengan dana Rp 25 juta dan terjadi kerugian Rp 5 juta, kerugian sudah cukup besar sekitar 20 persen. Apabila investor lembaga mendapatkan kerugian Rp 5 juta, kerugiannya juga kecil mengingat dana yang dimilikinya sangat besar.

Investor yang melakukan penempatan dana bisa juga dikelompokkan menjadi investor yang memiliki informasi dan investor yang tidak memiliki informasi. Umumnya, investor yang memiliki informasi ini sering disebut investor yang telah malang melintang dalam dunia investasi tersebut. Sementara investor yang tidak memiliki informasi adalah investor yang masih berumur pendek pada dunia investasi tersebut. Akibatnya, investor yang tidak memiliki informasi ini sering kali mengalami kerugian pada awal investasi yang dilakukannya. Pengawas bidang investasi di Indonesia perlu memperhatikan atau mengawasi agar semua informasi tersedia kepada semua investor sehingga investor tidak melakukan atau mencari keuntungan dari kelemahan investor yang lain,

Pengawas pasar sangat diperlukan hadir untuk mengatasi persoalan yang saat ini sedang dialami pemilik dana.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 18 Februari 2017, di halaman 25 dengan judul "Siapakah Investor di Keuangan dan Bank".

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Minggu, 12 Februari 2017

PSIKOLOGI: Gaduh di Media (KRISTI POERWANDARI)

Sejak 1970-an, Jean Baudrillard bicara mengenai betapa dunia akan sangat berubah dengan hadirnya industri teknologi informasi. Entah apakah ia telah membayangkan keadaan bakal seperti sekarang, atau situasi saat ini baginya juga mencengangkan.

Muncul kebiasaan atau budaya baru, yang didominasi oleh berbagai simulasi atau tiruan dalam media. Foto, cerita, wacana diproduksi sering tanpa suatu asal mula atau referensi yang dapat jelas ditelusuri, diubah dengan mudah dan diotak-atik dengan canggihnya. Wajah dapat dipoles menjadi sangat berbeda, surat atau dokumen diubah satu-dua katanya, diunggah, menghadirkan pemahaman yang sama sekali baru dari fakta aslinya.

Perilaku mekanis

Lalu dengan sekali klik menyebarlah semua dalam hitungan detik hingga ke pelosok-pelosok, bahkan juga ke individu-individu yang tidak beranjak dari kamarnya, karena mereka berinteraksi hanya lewat dunia maya.

Adakah relevansinya dengan psikologi? Banyak sekali. Teknologi media menghadirkan budaya baru, perilaku baru, cara berpikir dan cara berelasi yang baru. Terjadi reproduksi mekanis yang memengaruhi semua aspek kehidupan.

Contoh soal adalah kegaduhan menjelang Pilkada DKI Jakarta. Dengan orang dihadapkan pada visualisasi yang masif tentang calon A, B, dan C melalui Facebook, Twitter, atau Whatsapp, dapat dimobilisasilah persepsi, kesimpulan tertentu, hingga gerakan tertentu yang membawa demikian banyak massa. Orang tidak peduli lagi apakah berita dan gambar yang diterimanya benar atau salah, direkayasa atau tidak. Orang tidak memiliki kesabaran lagi untuk menelusuri dan mengecek seperti apa dokumen otentiknya.

Baudrillard menyebutnya sebagai'hyperreality', realitas yang ditandai oleh ketidakmampuan manusia atau kesadaran untuk membedakan yang riil dengan simulasinya. Yang otentik mungkin tidak ada, semua tercampur-aduk. Makin lama orang makin tidak peduli lagi, mana yang asli, mana yang tidak. Semua dipindah ke dalam bentuk virtual atau softcopy. Tugas menyusun makalah mudah diselesaikan melaluicopy-paste tulisan-tulisan lain, tak peduli isinya. Banyak perguruan tinggi tidak lagi menyimpan dokumen asli skripsi atau disertasi karena menyita terlalu banyak tempat. Jadilah cukup lulusan mengunggah di internet, dengan lembar pengesahan dan tanda tangan pembimbing yang dipindai (scan).

Dampaknya luar biasa ke psikologi manusia. Berbagai teori psikologi dan teori kepribadian tampaknya jadi tidak memadai untuk menjelaskan manusia. Individu menjadi lebih dekat ke hal artifisial atau virtual, memenuhi kebutuhan lewat model tiruan yang tidak ada kenyataannya. Atau, yang virtual dan simulasi itu- lah yang kemudian menjadi realitasnya.

Kebutuhan dasar manusia

Meski mulai lebih banyak berinteraksi secara virtual, manusia tetaplah manusia, yang memiliki kognisi dan emosinya, dan akan berhadapan secara nyata dengan manusia-manusia lain. Manusia tetaplah manusia, yang kata Erich Fromm memiliki kebutuhan akan identitas, hubungan, keberakaran, kerangka orientasi dan transendensi. Bahkan, dugaan saya, di alam digital ini, kebutuhan-kebutuhan dasar tersebut terasa makin mengemuka.

Sesuai dengan kerangka referensinya, orang meneruskan cerita yang ingin dibagikannya agar orang lain percaya. Mungkin membubuhi atau mengubah, sedikit atau banyak. Maka, orang mudah dimobilisasi melalui politik identitas dan politik SARA melalui media sosial. Kubu yang berbeda-beda merasa diserang, dihina, dan saling balas kemarahan, makian, hinaan. Persoalan kecil dapat dengan mudah berubah wujud menjadi persoalan besar karena kegaduhan dalam media.

Ada esensi penting yang hilang ketika komunikasi dipindahkan melalui perantaraan media: orang kehilangan kemampuan dan keterampilan sosial, serta sensitivitas dan empati, yang dapat diperolehnya hanya lewat tatap muka dan interaksi riil dengan sesama.

Ketika merasa sangat marah dengan seseorang, berhadapan muka dengannya membuat kita lebih mengerti dirinya sebagai sesama manusia: ekspresi wajahnya, pengalaman hidupnya, penghayatannya akan persoalan yang dihadapi. Berhadapan dengannya menjadi seperti cermin bagi kita: bagaimana dengan ekspresi wajahku, mengapa aku sedemikian marah tentang apa yang terjadi, adakah yang harus ku mengerti tentang diriku sendiri?

Dalam dunia yang serba simulasi, kepedulian yang otentik dan keterampilan sosial hilang. Orang sudah merasa hebat cuma mengeklik 'mengutuk terjadinya kekerasan seksual', tanpa pernah turun tangan langsung dan mengetahui kompleksitas persoalannya. Orangtua lupa untuk bertatap muka dan sungguh mendampingi anaknya, merasa cukup mengunggah di akunnya: "Sedih nak, melihatmu sakit. Cepat sembuh ya."

Anak sedari usia sangat dini sibuk dengan gawainya: belajar memasak, memecahkan masalah, merawat binatang, semua cukup melalui simulasi. Orang muda, terlebih yang gagap dengan relasi di dunia nyata, mundur ke dunia maya memainkan simulasi kehidupan, berkompetisi di dunia virtual, dan mungkin bercinta dengan ilusinya.

Teknologi itu hal yang niscaya dan tak terhindarkan. Mengisi ruang kerja dan seluruh hidup kita dalam cara yang tak terbayangkan sama sekali sebelumnya. Karena itu, kita juga akan kalah dalam perjalanan kehidupan bila bersikeras menolak teknologi.

Satu-satunya cara adalah perlu lebih awas dan antisipatif mengenai kekacauan yang mungkin ditimbulkannya, dan mencari cara untuk meminimalkan berbagai persoalan yang mungkin terjadi.

Menjadi pe-er besar bagi kita semua: bagaimana dapat mempertahankan kejujuran, otentisitas, dan tetap berjejak pada yang nyata dalam era teknologi media? Bagaimana pula memastikan generasi muda tetap memiliki kepedulian otentik, keterampilan sosial, dan menjunjung tinggi nilai-nilai luhur kemanusiaan agar mereka siap memimpin bangsa?

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 11 Februari 2017, di halaman 25 dengan judul "Gaduh di Media".

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

INVESTASI: Perlukah Asuransi Kesehatan (PRITA HAPSARI GHOZIE)

Dana kesehatan adalah salah satu kebutuhan utama dalam perencanaan keuangan keluarga. Biaya kesehatan pada umumnya akan semakin meningkat seiring dengan pertambahan usia manusia. Peningkatan kebutuhan biaya kesehatan juga ternyata sejalan dengan peningkatan biaya untuk membayar berbagai obat dan fasilitas kesehatan. Oleh karena itu, diperlukan strategi khusus agar kesejahteraan keluarga dapat tetap terjaga hingga hari tua kelak.

Asuransi kesehatan adalah jenis asuransi yang dapat membantu pengelolaan risiko terjadinya kerugian finansial akibat terjadinya sakit. Saat ini, ada dua jenis manfaat dari asuransi kesehatan yang dapat dipilih. Alternatif pertama adalah asuransi kesehatan yang memberikan penggantian atas biaya rawat inap ataupun biaya pengobatan. Alternatif kedua adalah asuransi kesehatan yang memberikan santunan tunai harian. Perbedaan di antara keduanya adalah untuk alternatif kedua, penggantian tidak mempertimbangkan tindakan ataupun penyakit, tetapi akan memberikan penggantian sesuai dengan durasi rawat inap. Adapun alternatif pertama akan memberikan penggantian, bisa penuh ataupun tidak penuh, atas tagihan biaya kesehatan. Sayangnya, asuransi kesehatan belum menjangkau seluruh lapisan masyarakat, disebabkan mereka belum paham mengenai asuransi dan juga kondisi premi yang belum terjangkau.

Sejak 2014, salah satu strategi mengelola dana kesehatan adalah dengan memiliki kepesertaan jaminan kesehatan melalui program BPJS Kesehatan. Program ini dapat diakses oleh seluruh masyarakat Indonesia, dari yang bekerja sebagai karyawan hingga yang tidak bekerja. Peserta akan mendapatkan jaminan fasilitas kesehatan, tetapi tentunya diwajibkan membayar iuran kepesertaan. Jika sudah menjadi peserta BPJS Kesehatan, apakah masih diperlukan untuk memiliki polis asuransi kesehatan? Berikut ini adalah hal-hal yang sebaiknya menjadi pertimbangan sebelum Anda membeli asuransi kesehatan tambahan.

Pertama, evaluasi kebutuhan proteksi keluarga. Setiap rumah tangga memiliki kondisi umum dan khusus yang berbeda-beda. Sebagai contoh, ada keluarga yang memiliki riwayat penyakit khusus, ada juga yang tinggal di daerah yang layanan fasilitas kesehatannya tidak sesuai dengan keinginan peserta, ataupun kebiasaan berobat dalam keluarga.

Patut dipahami bahwa BPJS Kesehatan memiliki tiga program kelas dan tentunya peserta harus patuh terhadap aturan dan tata laksana pelayanan. Sebagai contoh jika Anda adalah peserta BPJS Kesehatan kelas 1, tetapi menginginkan layanan kelas VIP, kelebihan biaya ini tentu saja harus ditanggung sendiri. Jika ternyata hal ini merupakan gaya hidup di keluarga Anda, tidak ada salahnya untuk mempertimbangkan tambahan asuransi kesehatan.

Kedua, kemampuan membayar premi asuransi. Kebutuhan pengeluaran bulanan harus direncanakan dengan saksama. Idealnya, batasan pos pengeluaran untuk membayar iuran BPJS Kesehatan dan asuransi adalah sebesar 5 persen dari penghasilan bulanan Anda. Oleh karena itu, pastikan dahulu bahwa Anda sanggup untuk membayar biaya premi tanpa mengorbankan porsi pengeluaran lain, seperti tabungan dan investasi.

Ketiga, ketersediaan asuransi kesehatan dari kantor tempat bekerja. Jika Anda sudah memiliki tunjangan kesehatan dari kantor tempat bekerja, ada beberapa evaluasi yang dapat dilakukan untuk memutuskan apakah Anda membutuhkan asuransi kesehatan tambahan. Coba lihat checklist berikut untuk membantu Anda.

No "checklist" ya/tidak

1 Penggantian atas biaya kesehatan 100 persen.

2 Perlindungan untuk seluruh anggota keluarga yang menjadi tanggungan.

3 Perlindungan kesehatan untuk fasilitas kesehatan yang biasa digunakan, termasuk di luar negeri.

4 Kemudahan klaim termasuk penggunaan fasilitas cash-less.

Apabila Anda menjawab tidak untuk dua dari empat pertanyaan di atas, Anda dapat mempertimbangkan untuk membeli asuransi kesehatan tambahan. Fokuskan penambahan manfaat untuk klausul yang tidak dilindungi oleh asuransi kesehatan dari kantor. Misalnya, apabila penggantian kamar rawat inap hanya 80 persen dari biaya aktual, Anda dapat mempertimbangkan pengambilan asuransi kesehatan dengan penggantian manfaat tunjangan harian.

Keempat, kemudahan klaim asuransi kesehatan. Salah satu pertimbangan penting dalam memilih asuransi kesehatan adalah kemudahan untuk mendapatkan penggantian. Saat ini, asuransi kesehatan menawarkan dua opsi penggantian biaya kesehatan, yaitu sistem kartu dan sistem reimbursement. Secara umum, sistem kartu atau cash-less akan lebih menguntungkan karena Anda tidak perlu membayar biaya pengobatan terlebih dahulu. Adapun sistem reimbursement, Anda harus membayar biaya pengobatan terlebih dahulu, setelah itu mengajukan penggantian kepada perusahaan asuransi. Anda juga dapat mencari tahu kantor pelayanan pelanggan yang dimiliki perusahaan asuransi untuk menentukan kemudahan klaim di masa mendatang.

Apabila setelah melalui berbagai pertimbangan di atas Anda dan keluarga membutuhkan asuransi kesehatan tambahan, pahami dengan betul polisnya. Jika ternyata belum perlu, setidaknya pastikan Anda dan keluarga adalah peserta program BPJS Kesehatan.Live a Beautiful Life!

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 11 Februari 2017, di halaman 25 dengan judul "Perlukah Asuransi Kesehatan".

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

KESEHATAN: Bahaya Pneumonia (DR SAMSURIDJAL DJAUZI)

Ayah saya berusia 76 tahun, dan tiga bulan terakhir ini dia dua kali dirawat di rumah sakit. Pertama, dirawat karena nyeri dada, diduga karena serangan jantung. Namun, setelah dipantau di unit gawat darurat sekitar 24 jam, ayah saya diperbolehkan pulang. Sebulan kemudian, ayah demam dan batuk-batuk. Saya menyangka ia terkena influenza. Saya anjurkan minum banyak dan beristirahat. 

Demamnya tidak terlalu tinggi, tetapi batuknya bertambah, bahkan kemudian disertai sesak. Saya amat khawatir sehingga saya bawa dia ke rumah sakit.

Di rumah sakit, selain diberi oksigen dan antibiotika, juga diperiksa rontgen dada serta pemeriksaan laboratorium. Setelah diobati di UGD, sesaknya bertambah sehingga dokter menganjurkan ayah saya dirawat di ruang perawatan intensif. Kami semua mematuhi anjuran dokter karena kami amat khawatir dengan keadaan ayah.

Di samping sesak, ia juga mulai sukar berkomunikasi. Ayah dirawat sekitar tiga hari di ruang perawatan intensif, dan untunglah keadaannya membaik sehingga boleh dirawat di ruang perawatan biasa. Selama di rawat di ruang perawatan intensif, saya yang selalu menunggu ayah sehingga saya yang paling sering berkomunikasi dengan dokter dan perawat.

Menurut dokter, ayah terserang pneumonia berat. Pneumonia disebabkan oleh kuman, dan ayah selama di ruang perawatan intensif telah mendapat antibiotik yang adekuat, bahkan gabungan dua macam antibiotik. Dokter juga menyampaikan pneumonia pada orang lanjut usia dapat berbahaya, dapat menimbulkan kematian. Sudah tentu kami semua terkejut dengan penjelasan dokter. Kami semua berdoa untuk kesehatan ayah, syukurlah kemudian ayah sembuh dan boleh pulang ke rumah.

Sebagai anak laki-laki tertua dan orang nonmedis, saya baru mendengar penyakit pneumonia. Saya ingin mendapat penjelasan lebih lanjut. Apakah pneumonia hanya mengenai orang lanjut usia? Apakah anak-anak juga dapat terkena pneumonia? Apakah pneumonia pada anak-anak atau orang dewasa yang masih muda juga berbahaya? Bagaimana pencegahan agar anggota keluarga saya tak tertular pneumonia? Cukup sudah seorang anggota keluarga saya yang dirawat di ruang perawatan intensif, perawatan yang cukup memberi pengalaman bagi saya yang menunggu ayah. Apakah ada hubungan influenza dengan pneumonia? Terima kasih atas penjelasan dokter.

M di J

Saya ikut bersyukur ayah Anda telah pulang ke rumah dan dapat berkumpul kembali dengan anak dan cucu dalam keadaan sehat. Pneumonia merupakan penyakit yang sering dijumpai di negeri kita. Pneumonia disebabkan oleh berbagai kuman, salah satunya yang merupakan penyebab tersering adalah kuman Streptococcus pneumoniae yang kadang-kadang populer dengan sebutan kuman pneumokok saja. Kuman ini terdapat di tenggorok. Jika dilakukan usap tenggorok pada anak-anak dan orang lanjut usia, dapat ditemukan kuman ini meski anak atau orang lanjut usia tersebut dalam keadaan sehat.

Penelitian di beberapa kota di Indonesia, anak sehat ternyata sekitar 20 persen mempunyai kuman ini di tenggoroknya. Kuman tersebut tidak menimbulkan penyakit, disebut hidup secara komensal. Namun, kuman tersebut bila terhambur ke udara pada waktu batuk atau bernapas, jika terhirup oleh orang lain, dapat menular dan juga dapat menimbulkan pneumonia.

Risiko pneumonia meningkat pada perokok, anak yang berusia di bawah dua tahun, orang lanjut usia, serta orang dewasa muda yang menderita penyakit kronis, seperti penyakit jantung koroner, diabetes melitus, asma, penyakit gagal ginjal kronik, sirosis hati, penyakit kanker, yang dapat menurunkan kekebalan tubuh.

Pada anak, di samping diare, pneumonia merupakan penyebab kematian yang sering. Adapun pada manula, di samping penyakit kardiovaskular, pneumonia juga merupakan penyebab kematian utama. Pada orang lanjut usia serta mereka yang mempunyai penyakit kronik, influenza yang biasanya cepat sembuh dapat berkomplikasi menjadi pneumonia.

Kuman pneumokok yang terdapat di tenggorok dapat menimbulkan infeksi pada sinus, telinga tengah, serta paru-paru. Bahkan, kuman ini juga dapat menimbulkan infeksi pada selaput otak serta kuman ini apabila masuk ke sirkulasi darah menimbulkan keadaan yang gawat yang disebut sepsis. Pneumonia, meningitis, ataupun sepsis merupakan penyakit berat yang dapat menimbulkan kematian. Karena itulah, pneumonia harus diobati segera serta dipantau secara baik.

Sering, penderita harus dirawat di rumah sakit. Pada keadaan gagal napas, penderita memerlukan alat bantu napas serta perlu dirawat di ruang perawatan intensif. Pada keadaan ini, pneumonia amat berbahaya. Untunglah ayah Anda dapat mencapai kesembuhan.

Pencegahan pneumonia dengan mengamalkan gaya hidup sehat, makan yang baik, tidur cukup, berolahraga, serta berhenti merokok. Sering cuci tangan untuk menjaga kebersihan. Pencegahan yang lebih spesifik adalah dengan imunisasi. Ada dua macam vaksin, yaitu vaksin konyugat yang mengandung 13 macam tipe kuman pneumokok serta vaksin polisakarida yang mengandung 23 tipe kuman pneumokok. Kedua macam vaksin ini tersedia di Indonesia.

Indikasi imunisasi pneumokok adalah pada bayi, orang lanjut usia, serta orang dewasa muda yang mempunyai penyakit kronik dan kekebalan tubuh menurun, misalnya pada kanker dan HIV. Mereka yang akan dioperasi limpanya juga perlu mendapat imunisasi pneumokok. Para pakar penyakit jantung, paru, diabetes, dan penyakit kronik lain sepakat bahwa imunisasi pneumokok perlu dilaksanakan pada penderita penyakit-penyakit tersebut.

Dalam waktu yang tak lama lagi, pemerintah akan melakukan imunisasi pneumokok pada anak. Imunisasi pneumokok ini pada tahap awal akan dimulai di Pulau Lombok dan selanjutnya nanti akan diperluas ke daerah lain. Jika keadaan memungkinkan, mudah-mudahan nantinya di seluruh Indonesia. Melalui imunisasi pneumokok ini, diharapkan anak-anak akan terlindung dari penularan pneumokok dan sudah tentu kita berharap angka kematian pada anak Indonesia akan dapat diturunkan.

Penelitian di luar negeri menunjukkan imunisasi yang dilakukan pada anak bukan menurunkan kejadian pneumonia pada anak saja, melainkan juga menurunkan kejadian pneumonia pada orang lanjut usia meski penurunannya tak setajam pada anak. Kenapa dapat terjadi keadaan seperti itu? Rupanya imunisasi pneumokok berhasil menurunkan angka keberadaan kuman pneumokok di tenggorok anak sehingga anak-anak tidak berisiko menularkan pneumokok kepada anggota keluarga lain, termasuk kakek atau neneknya.

Imunisasi pneumokok untuk orang lanjut usia di luar negeri sudah menjadi program pemerintah, artinya dibiayai oleh pemerintah. Di Indonesia, sesuai dana yang tersedia, kita baru pada tahap imunisasi pneumokok di Pulau Lombok, kemudian akan diperluas ke daerah lain. Program imunisasi pneumokok pada manula tentu kita harapkan, tetapi sementara ini sebelum ada program pemerintah, setiap orang lanjut usia dapat menjalani imunisasi pneumokok meski atas biaya sendiri.

Imunisasi menggunakan vaksin pneumokok konyugat biasanya pada orang dewasa dan orang lanjut usia cukup sekali karena antibodinya bertahan seumur hidup. Sementara jika menggunakan vaksin pneumokok polisakarida, perlu diulang lima tahun sekali, kecuali bila diberikan kepada orang yang berusia ?60 tahun tidak perlu diulang.

Nah, mudah-mudahan informasi mengenai pneumonia ini dapat menyadarkan kita semua tentang bahaya penyakit ini serta kita akan berusaha agar kita terhindar dari pneumonia.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 11 Februari 2017, di halaman 25 dengan judul "Bahaya Pneumonia".

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

PSIKOLOGI: Bertahan dari Krisis Setengah Baya (AGUSTINE DWIPUTRI)

Sebagai ibu rumah tangga dengan dua anak remaja, saya punya masalah dengan suami. Setelah pernikahan selama lebih dari dua puluh tahun yang diwarnai oleh kesetiaan dan kesabarannya, dia kok merasa tidak bahagia dengan pekerjaan, rumah, diri saya, anak-anak, dan kehidupan pada umumnya. Perilakunya menjadi berubah aneh, suka bersungut-sungut pada saya, dan di rumah lebih sibuk dengan telepon selulernya saja.

Dia menghabiskan waktu luang dengan teman-temannya, membeli kemeja dan parfum baru sendiri, mengecat rambutnya yang mulai memutih, genitlah pokoknya. Bahkan, sepertinya ia menemukan wanita lain yang bisa meyakinkannya bahwa dia masih muda, tampan, dan sukses. Itu saya tahu dari Whatsapp-nya. Saya sudah berulang kali mencoba mengingatkan bahwa ia berubah, bukan seperti yang biasanya, tetapi kami malah sering bertengkar, rasanya saya sudah mau putus asa juga. Apakah perkawinan kami akan berakhir sampai sini?

Ibu W di S.

Apa yang sedang terjadi? Suami Anda memasuki krisis kehidupan setengah baya dan Anda sebagai istri perlu memahami dan mengupayakan sesuatu.

Michele Weiner Davis (2001) dalam bukunya, The Divorce Remedy,mengatakan bahwa banyak (tidak semua) pria pada usia paruh baya (40-50 tahun) untuk pertama kalinya menyadari bahwa mereka tidak akan dapat hidup selamanya. Mereka melihat tubuh mereka mengalami penuaan. Tiba-tiba ada rasa takut. Ia telah melewati hidupnya hingga secara perlahan mengalami penurunan dalam banyak hal dan ia berpikir, penyebab satu- satunya adalah Anda sebagai istrinya. Semua yang Anda tampilkan adalah belenggu emosional baginya. Dia merasa lelah telah bertanggung jawab untuk menghidupi keluarga, menyekolahkan anak-anak, dan harus muncul di tempat kerja setiap hari.

Karena lelaki acapkali mendefinisikan diri melalui pekerjaan mereka, jika dia kurang berhasil atau kurang puas dengan kariernya akan mudah merasa seolah-olah telah gagal. Dia menjadi tertekan dan demi keselamatannya, dia kemudian meyakinkan dirinya sendiri untuk membebaskan diri dari Anda.

Berdasarkan hal itu, pertama perlu diketahui bahwa Anda sebagai istri bukan penyebab dari semua ketidakbahagiaan yang dirasakan. Mungkin ada hal-hal dalam pernikahan Anda yang perlu diperbaiki dan Anda tidak sempurna, tetapi emosionalitas yang akhir- akhir ini dia arahkan pada Anda memang banyak yang perlu diluruskan.

Anda mungkin telah mencoba meyakinkan bahwa dia salah menilai, salah mengerti, dan bereaksi berlebihan. Anda mengatakan kepadanya bahwa banyak hal tidak seburuk seperti yang dipikirkannya. Tapi biasanya semakin Anda mencoba untuk meyakinkan bahwa dia bereaksi berlebihan atau merendahkan hal-hal yang telah berlangsung dengan baik dalam pernikahan Anda, semakin dia akan menarik diri, menjauh dan menyalahkan Anda. Kemudian Anda merasa ditinggalkan, dikhianati, dan kosong, segala perasaan bercampur aduk.

Sebelum memutuskan kelanjutan perkawinan, Davis (2001) menjelaskan bahwa Anda perlu menyadari beberapa hal berikut:

Tidak ada jaminan apa pun

Meskipun kebanyakan pria pada akhirnya sadar mengenai kondisinya, tidak semua mau mengakui dan melakukan perbaikan diri. Anda bisa melakukan semua kerja keras, tetapi pada akhirnya tetap berpisah. Setidaknya, Anda akan dapat dengan jujur mengatakan kepada diri sendiri bahwa Anda telah mencoba segalanya. Jika Anda memiliki anak, Anda mengajarkan pelajaran yang amat sangat penting, yaitu bahwa kita harus melakukan apa pun yang kita mampu agar pernikahan dapat berfungsi.

Masa yang berjangka panjang

Krisis paruh baya tidak berakhir dengan cepat, kondisi ini bisa berlangsung berbulan-bulan atau tahunan, dan Anda perlu menahan diri selama masa ini. Memang mengarungi krisis paruh baya merupakan proses yang hanya membutuhkan waktu. Tapi Anda tidak bisa terburu-buru. Anda hanya perlu mengingatkan diri terus-menerus bahwa tidak ada perbaikan yang cepat. Satu hal yang harus diingat sepanjang perjalanan ini adalah bahwa suami Anda harus mencari jawabannya sendiri. Tidak peduli seberapa besar Anda ingin membantu dia, dia tidak akan menemukan kenyamanan dengan bantuan yang Anda paksakan padanya, karena ini adalah sebuah proses.

Kesabaran yang sangat tinggi

Anda akan belajar bahwa kondisi ini merupakan salah satu pelajaran yang paling sulit dalam hidup Anda. Anda tidak dapat mengendalikan atau memberikan pengaruh pada pasangan Anda untuk mempercepat proses ini. Anda hanya perlu membiarkan sesuatu terjadi, mengikuti arus saja. Jawaban atas teka-teki krisis paruh baya ini harus berasal dari dia. Anda tidak akan dapat membimbing atau memfasilitasi prosesnya. Hal ini membutuhkan sejumlah besar kesabaran dan pengendalian diri.

Dalam menggunakan sisa kesabaran, selain mencari dan memahami semua informasi sebanyak yang Anda bisa tentang krisis paruh baya pasangan, cobalah juga berbicara dengan orang- orang yang telah mengatasi tahap ini dalam hidup mereka. Setelah Anda menjadi teredukasi tentang apa yang pasangan Anda rasakan dan pikirkan, akan lebih mudah bagi Anda untuk tidak bertindak menuruti pandangan Anda pribadi. Jangan mengandalkan pasangan Anda untuk membantu Anda memahami perasaannya, karena dia mungkin tidak memahami diri mereka sendiri. Bahkan jika dia paham pun, mungkin tidak ingin berbicara dengan Anda mengenai hal tersebut.

Jangan membela diri

Jadilah pendengar yang baik ketika pasangan Anda berbagi perasaan negatif tentang pernikahan, kehidupannya, atau bahkan tentang Anda. Akui saja apa yang dia katakan. Katakan padanya bahwa Anda merasa tidak enak bahwa dia begitu marah tentang sesuatu hal. Katakan padanya bahwa Anda berharap segalanya bisa berbeda. Meminta maaf atas hal-hal yang benar-benar memang telah terjadi. Biarkan dia tahu bahwa Anda betul mendengar dan menghayati suatu hal yang tidak ia senangi. Ini akan menjadi suatu tantangan. Bahkan jika Anda berada dalam posisi yang "benar", memaksakan masalah ini akan membuatnya makin menjauh.

Jangan bertanya atau menuntut

Sangat penting untuk memberikan ruang/kesempatan bagi suami Anda. Dia perlu waktu untuk berpikir, merasa dan mencoba. Jika Anda mulai membuat tuntutan, Anda mungkin akan kehilangan dia. Mungkin tidak banyak yang dapat Anda lakukan sekarang untuk membuat hal-hal yang lebih baik, tetapi ada pula sejumlah hal yang Anda lakukan untuk membuat hal-hal lebih buruk, seperti menginterogasi dan menuntut. Anda perlu mengembangkan berbagai strategi untuk berhenti menuduh atau memojokkan dirinya. Temukan apa yang dapat membantu agar Anda tetap berada di jalur yang tepat, seperti menelepon teman, membuka komputer, membaca buku. Anda perlu mengembangkan dan menemukan cara-cara untuk menemukan kedamaian hati tanpa dia selama periode transisi. Beberapa contoh adalah dengan menghabiskan lebih banyak waktu bersama anak-anak, kembali berinvestasi dalam kegiatan spiritual, bergabung dengan kelompok pendukung ataupun klub kesehatan, memulai hobi baru, menulis catatan harian, atau menjalani terapi psikologis.

Semoga suami Anda mendapatkan pemulihan, dan pernikahan Anda berlangsung langgeng.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 4 Februari 2017, di halaman 25 dengan judul "Bertahan dari Krisis Setengah Baya".

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.
Related Posts with Thumbnails

Synergy Worldwide, Andalkan Vital 3!

Synergy Worldwide, Andalkan Vital 3!
Synergy Worldwide, Andalkan Vital 3!

Skincare: The Revolution in Anti-Aging

Skincare: The Revolution in Anti-Aging
Dokumen Sehat Sinergis

Pilihan Investasi

Pilihan Investasi
Ada dua pilihan: jika Ikut Menjadi Member Bisnis Synergy
Word of the Day

Article of the Day

This Day in History

Today's Birthday

In the News

Quote of the Day

Spelling Bee
difficulty level:
score: -
please wait...
 
spell the word:

Match Up
Match each word in the left column with its synonym on the right. When finished, click Answer to see the results. Good luck!

 

Hangman

Hubungi, kami siap melayani anda:

Untuk info lanjut
hubungi:

Ibu Liong (021-33431704)


Sertifikasi Produk Synergy WorldWide

Produk -produk Synergy / NSP di Indonesia telah terdaftar pada Departemen Kesehatan RI dan memiliki izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM), serta memperoleh sertifikat Halal dari IFANCA (The Islamic Food and Nutrition Council of America) yang disahkan oleh LP POM MUI.