Cari uang di internet

HUBUNGI, KAMI SIAP ANTAR!

Sehat-Sinergis secara herbal, membangun kesehatan dan kesejahteraan bersama secara sehat sinergis. Bekerjasama dengan Synergy WordWide (Independent Distributor from United State of America) untuk selengkapnya untuk pembelian atau pemesanan dengan perjanjian hubungi Ibu Liong di nomor: 021-33431704 Hubungi kami di email: sehat.sinergis@gmail.com. Ada uang baru barang diantar. Carilah lebih dulu kesehatan, baru yang lainnya.

Jumat, 19 Agustus 2016

INVESTASI: Meraih Kemerdekaan Finansial (PRITA HAPSARI GHOZIE)

Pekan ini, Indonesia merayakan kemerdekaan yang ke-71. Sebagai negara merdeka, banyak hal yang telah dapat kita nikmati sebagai warga negara. Bagaimana dengan keuangan Anda? Setelah bekerja selama belasan atau bahkan puluhan tahun, apakah kondisi keuangan Anda dan keluarga sudah merdeka?

Kemerdekaan finansial adalah sebuah kondisi kehidupan dimana untuk memenuhi kebutuhan hidup, seseorang mampu membiayai tanpa harus bekerja secara aktif. Penghasilan diperoleh dari aset yang dikelola secara aktif. Selain itu, seseorang yang merdeka secara finansial umumnya tahu kondisi aset dan utangnya, mampu untuk selalu membayar cicilan utang tepat waktu, dan tahu bagaimana cara menggunakan aset dan sisa arus kas untuk mencapai berbagai keinginan dalam hidup.

Setiap orang memiliki potensi untuk dapat meraih kemerdekaan finansial. Berapa pun jumlah penghasilan seseorang, bukan menjadi hambatan untuk meraih kemerdekaan finansial. Hambatan umumnya datang dari pola pengeluaran atau gaya hidup yang diadopsi oleh seseorang beserta keluarganya. Untuk dapat meraih kemerdekaan finansial, berikut langkah-langkah yang ditempuh.

Pertama, memiliki rencana keuangan. Tanpa rencana keuangan, penempatan dana di tabungan, pembelian aset investasi, serta pembelian barang bisa jadi tidak sesuai dengan kebutuhan dan keinginan optimal dari seseorang. Pembelian bisa saja didasarkan kepada dorongan impulsif semata, atau karena tren bahkan gengsi. Tatalah keuangan sedari sekarang, dimulai dengan menentukan tujuan-tujuan keuangan yang ingin dicapai, kapan, serta strategi untuk meraihnya.

Kedua, menghapus utang konsumtif. Jumlahkan semua pembayaran minimum tagihan utang konsumtif Anda. Komponennya termasuk kartu kredit, pinjaman koperasi, dan kredit dana tunai. Selama kehidupan harian Anda masih disokong oleh bantuan utang, maka sulit sekali untuk mencapai kemerdekaan finansial. Cobalah untuk hidup sesuai dengan kemampuan alias penghasilan yang diterima.

Ketiga, menghimpun dana darurat. Setiap orang wajib punya dana darurat setidaknya 3 kali pengeluaran rutin bulanan. Jadi, bilamana Anda perlu Rp 5 juta per bulan untuk hidup, maka jumlah dana darurat minimal menjadi Rp 15 juta. Meski demikian, saya sangat sarankan Anda untuk menargetkan jumlah dana darurat hingga 12 kali pengeluaran rutin bulanan, mengingat kondisi ekonomi global yang masih kurang menentu. Dana darurat ini sebaiknya berbentuk aset likuid dan nilainya tidak turun, seperti tabungan, deposito, dan reksa dana pasar uang. Jika saat ini tidak punya dana darurat, mulailah menyisihkan 10 persen dari penghasilan, sedikit demi sedikit hingga hasil ideal tercapai.

Keempat, berinvestasi untuk tujuan keuangan yang pasti. Ada dua pos investasi yang umumnya perlu dipersiapkan oleh setiap keluarga. Pundi-pundi pensiun dan pundi-pundi dana pendidikan. Siapkan masa depan Anda dengan mulai berinvestasi untuk dana pensiun.

Percaya atau tidak, Anda pasti akan mengalami masa penurunan produktivitas. Untuk Anda yangg karyawan, pasti akan pensiun. Untuk Anda yang punya bisnis, ada masanya meneruskan bisnis ke anak atau bahkan dijual. Merencanakan dana pensiun sangat vital untuk Anda yang tidak rela punya gaya hidup yang menurun di masa depan. Coba periksa berapa banyak dari penghasilan sekarang yang disisihkan untuk investasi pensiun. Anda yang karyawan, umumnya telah menyisihkan 8 persen dari gaji dalam bentuk jaminan hari tua BPJS Ketenagakerjaan dan produk dana pensiun lembaga keuangan. Namun, jumlah ini tidak cukup! Usahakan untuk menyisihkan 10 persen dari penghasilan ke produk investasi yang sesuai untuk dana pensiun. Jika ada bonus atau tunjangan hari raya, Anda bisa gunakan momen ini untuk menambal kekurangan investasi di bulan-bulan sebelumnya.

Akan halnya pundi-pundi pendidikan, orangtua sebaiknya mempersiapkan sejak anak masih kecil. Bagaimana tidak, dengan kenaikan biaya pendidikan yang rata-rata bisa melebihi 10 persen per tahun, jangan pertaruhkan masa depan anak dengan gagal mempersiapkan. Kebutuhan dana pendidikan anak sebaiknya dihitung dengan benar kemudian kebutuhan dana dipenuhi dengan berinvestasi. Ingat, saya minta Anda berinvestasi, bukan berasuransi untuk menambah saldo dana pendidikan.

Kelima, diversifikasi aset menjadi aktif. Pada tahapan tertentu memiliki aset investasi aktif sangat penting untuk meraih kemerdekaan finansial. Aset aktif akan memberikan penghasilan secara berkala untuk keuangan rumah tangga. Sebagai contoh, suku bunga deposito setiap bulan, kupon obligasi, hasil sewa properti, keuntungan usaha, dan lainnya, merupakan penghasilan-penghasilan yang dapat diperoleh tanpa harus bekerja secara aktif. Asetlah yang bekerja untuk Anda. Saat aset dapat memberikan penghasilan sebagai sandaran biaya hidup, maka Anda sudah meraih kondisi kemerdekaan finansial.

Memiliki kemerdekaan finansial adalah hak setiap orang. Namun, jika tidak diperjuangkan, jangan harap kemenangan di masa depan dapat tergenggam. Aturlah gaya hidup dan gengsimu, untuk meraih kemerdekaan finansialmu. Live a beautiful life!

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 20 Agustus 2016, di halaman 25 dengan judul "Meraih Kemerdekaan Finansial".

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

KESEHATAN: Terapi Hepatitis C Gagal (Kompas)

Sekitar tiga tahun yang lalu, saya terdeteksi menderita hepatitis C. Waktu itu saya mengikuti pemeriksaan kesehatan dalam rangka melamar pekerjaan di suatu perusahaan. Saya diberi tahu bahwa saya positif menderita hepatitis C, tetapi untungnya saya boleh bekerja kontrak selama satu tahun.

Pada waktu itu, terapi hepatitis C di Indonesia sudah ada, yaitu menggunakan terapi interferon suntikan. Biaya terapi cukup mahal, sekitar Rp 100 juta. Setelah berdiskusi dengan dokter spesialis, saya mengikuti terapi tersebut.

Untuk mengikuti terapi tersebut perlu dilakukan pemeriksaan jumlah virus hepatitis C, genotipenya, juga pemeriksaan fungsi hati dan biopsi hati. Saya tidak ingin menjalani biopsi hati dan sebagai alternatifnya saya menjalani pemeriksaan fibroscan untuk menilai kepadatan hati. Ternyata hepatitis C saya sudah lanjut dan memang perlu segera diobati.

Dokter telah menyampaikan bahwa keberhasilan pengobatan sekitar 60 persen. Meski keberhasilan terapi rendah, saya khawatir keadaan hati saya akan memburuk jadi saya putuskan untuk mengikuti terapi tersebut. Saya juga bertanya pada teman-teman yang pernah menjalani terapi interferon dan mereka menceritakan pengalaman efek samping yang terjadi. Saya memahami bahwa efek samping akan bergantung pada masing-masing orang, jadi saya bersedia menghadapinya.

Saya sudah menikah setahun. Saya beserta istri merencanakan untuk punya anak. Dokter menganjurkan agar rencana punya anak ditunda sampai saya selesai menjalani terapi interferon. Sesuai dengan genotipe hepatitis C serta lanjutnya keadaan hati saya, maka saya harus menjalani terapi selama sekitar satu tahun. Istri saya juga menjalani pemeriksaan untuk deteksi hepatitis C dan syukurlah hasilnya negatif.

Minggu pertama menjalani terapi, badan saya mengalami pegal-pegal dan sedikit demam. Saya menjalani suntikan satu kali seminggu serta minum ribavirin 5 kapsul sehari. Efek samping yang saya alami lumayan berat selama dua minggu pertama. Untunglah saya dapat mengatasinya dan meneruskan terapi.

Setelah satu bulan terapi, saya mengalami anemia, menurut dokter keadaan ini disebabkan oleh ribavirin. Anemia cukup berat, hemoglobin saya dari 14 turun menjadi 9. Dokter menyuntik obat yang cukup mahal untuk mengatasi anemia dan tindakan ini berhasil mengatasi anemia saya.

Pada bulan pertama, tiga bulan, serta enam bulan, terapi menunjukkan hasil yang menggembirakan. Bahkan, setelah menjalani terapi setahun, virus hepatitis C saya berhasil tak terdeteksi. Namun, dokter mengatakan harus tetap dipantau dan ternyata memang pada 3 bulan setelah selesai terapi, virus hepatitis C saya muncul kembali dan dokter mengatakan terapi yang saya jalani gagal.

Waktu itu terbuka kesempatan untuk penambahan obat yang harganya amat mahal. Saya memutuskan untuk menunda terapi sambil menabung. Saya juga ingin punya anak dulu, sekarang istri saya sudah hamil empat bulan. Saya mendengar ada terapi baru hepatitis C yang keberhasilannya tinggi. Mohon penjelasan dokter apakah obat tersebut sudah tersedia di Indonesia dan apa efek sampingnya. Berapa kira-kira harganya? Apakah istri saya perlu juga minum obat pencegah hepatitis C? Terima kasih atas penjelasan dokter.

M di J

Pertama-tama saya ingin mengucapkan selamat atas kehamilan istri Anda. Saya percaya dia telah menjalani pemeriksaan asuhan kehamilan. Pemeriksaan asuhan kehamilan amat penting untuk kesehatan ibu serta janin yang dikandungnya. Pemeriksaan tersebut mencakup pemeriksaan fisik, laboratorium, dan juga pemeriksaan ultrasonografi. Melalui pemantauan tersebut berbagai penyakit yang memengaruhi kehamilan dapat dideteksi sehingga, jika ada, dapat diobati.

Memang benar sekarang tersedia obat baru untuk hepatitis C kronik dan obat itu sudah tersedia di Indonesia. Pemerintah menyatakan hepatitis C sebagai masalah kesehatan yang harus diperhatikan karena kekerapan hepatitis C di negeri kita cukup tinggi.

Hepatitis C menular melalui cairan tubuh, namun di negeri kita hepatitis C paling sering menular melalui pemakaian jarum suntik bersama. Penularan melalui hubungan seksual dapat terjadi, tetapi risikonya tak sebesar penularan HIV. Begitu pula penularan dari ibu hamil yang hepatitis C positif pada bayinya juga jarang. Terapi hepatitis C menggunakan suntikan interferon dan ribavirin masih tetap dipakai. Hasil terapi memang belum menggembirakan meski interferon yang digunakan sudah merupakan obat interferon baru yang penyuntikannya hanya satu kali seminggu.

Obat hepatitis C kronik lainnya adalah obat yang digolongkan dalam direct acting antiviral (DAA) yang merupakan obat hepatitis dalam bentuk kapsul. Obat ini dapat digunakan bersama interferon untuk meningkatkan hasil terapi interferon. Gabungan terapi interferon dengan obat DAA hanya memerlukan waktu terapi tiga bulan, paling lama enam bulan. Bahkan, yang menggembirakan keberhasilan terapi dapat mencapai 90 persen.

Sudah cukup banyak pasien di Indonesia yang menjalani terapi ini, dan hasilnya hampir sama dengan di luar negeri. Bagi mereka yang tak dapat menggunakan interferon karena efek samping yang berat, tersedia gabungan obat DAA yang merupakan terapi oral bukan suntikan dan juga lama terapi hanya sekitar 3 bulan paling lama enam bulan. Jadi, terdapat kemajuan menggembirakan dalam terapi hepatitis C kronik karena obat yang digunakan amat efektif dengan efek samping yang ringan.

Kendalanya, obat ini harganya mahal. Di negara maju, biaya terapi tiga bulan dapat mencapai Rp 800 juta (60.000 dollar Amerika). Untunglah untuk negara-negara yang sedang berkembang, obat ini disediakan dalam bentuk generik dan harganya berhasil diturunkan menjadi hanya sekitar 1.500 dollar (sekitar Rp 20 juta). Pemerintah menyediakan obat ini dan Anda dapat menghubungi dokter spesialis penyakit dalam (atau dokter konsultan hepatologi) untuk meminta penjelasan lebih lanjut.

Obat ini sementara hanya tersedia di rumah sakit pendidikan di Indonesia karena penggunaannya memerlukan pemantauan. Dalam waktu yang tak lama, obat ini akan tersedia secara luas. Bagi mereka yang mengalami kegagalan terapi dengan interferon, dapat dipertimbangkan penambahan obat DAA atau bahkan dapat menggunakan kombinasi obat DAA tanpa menggunakan interferon.

Dewasa ini, obat hepatitis C yang sudah ditanggung pemerintah adalah obat interferon suntikan, tetapi kita berharap agar pada masa depan obat DAA ini juga akan ditanggung pemerintah. Obat ini memang masih relatif mahal, namun dapat menyembuhkan hepatitis C. Dengan demikian, risiko penderita hepatitis C kronik menjadi sirosis hati atau kanker hati yang jumlahnya di negeri kita mencapai jutaan orang dapat dicegah. Istri Anda tak perlu minum obat ini karena dia tak tertular hepatitis C.

Mesir mempunyai program penanggulangan hepatitis C yang komprehensif. Di sana sudah ada peta jalan penanggulangan hepatitis C yang pencapaiannya adalah tidak ada lagi penderita hepatitis C baru dan pengobatan semua penderita hepatitis C kronik. Mesir merupakan negara yang kekerapan hepatitis C-nya amat tinggi sehingga mereka membuat program yang komprehensif.

Di Indonesia, pemerintah juga sudah merencanakan untuk melakukan penanggulangan hepatitis C, mulai dari penyuluhan, deteksi, serta terapi. Program ini akan memerlukan sumber daya yang tak sedikit, namun jika berhasil, kita dapat menghentikan penularan hepatitis C dan menyelamatkan jutaan nyawa. Mari kita bersama pemerintah menanggulangi hepatitis C dengan cara mengamalkan gaya hidup sehat serta memeriksakan diri terhadap kemungkinan tertular hepatitis C. Semoga terapi Anda selanjutnya akan berhasil baik.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 20 Agustus 2016, di halaman 25 dengan judul "Terapi Hepatitis C Gagal".

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

PSIKOLOGI: Negosiasi (KRISTI POERWANDARI)

Rasa sedih melihat negosiasi yang berakhir dengan menyakitkan yang dialami oleh seorang teman membuat saya ingat kejadian bertahun-tahun lalu. Saat itu saya harus mewakili kelompok saya untuk bernegosiasi dengan kelompok lain. Pengalaman kerja yang tidak menyenangkan memunculkan rasa marah dan keinginan melepaskan diri dari kerja sama dengan kelompok tersebut. Kami kemudian bersikap kukuh tanpa kompromi, dan akhirnya, kerja sama tidak berlanjut. Kelompok tersebut memang kehilangan mitra dengan keahlian khusus yang dibutuhkannya dari kami. Namun, kami juga kehilangan sumber dana yang lumayan dan kesempatan untuk meningkatkan portofolio.

Hampir setiap saat kita melakukan negosiasi. Mungkin bernegosiasi dengan diri sendiri, tetapi yang lebih sering bernegosiasi dengan orang lain. Mungkin dengan anak tentang bagaimana satu mobil dipakai bersama-sama, dan harus berkompromi mengatur jadwal kegiatan. Sering bernegosiasi di tempat kerja, tentang pembagian tugas, tenggat, atau penggunaan anggaran. Sebagian dari kita mungkin mengalami persoalan serius dalam perkawinan, bimbang tentang apa yang harus dilakukan, dengan banyak sekali hal yang harus dipertimbangkan.

"Win-win"

Negosiasi adalah komunikasi timbal balik di antara pihak-pihak, dengan tujuan untuk menemukan penyelesaian masalah atau titik temu. Mengingat hidup ini kompleks dan tidak lepas dari konflik, kemampuan bernegosiasi menjadi hal penting untuk dimiliki.

Negosiasi dapat dilakukan langsung dengan pihak lain, atau meminta bantuan orang lain sebagai mediator. Di tempat kerja, mungkin kita harus menghadirkan sosok yang mampu berkomunikasi dengan baik dengan kedua unit untuk membantu mengurai persoalan. Dalam persoalan rumah tangga, mediator bisa teman atau anggota keluarga yang dianggap dapat bersikap netral dan mengayomi kedua belah pihak, atau kuasa hukum (pengacara).

Dari awal tampaknya perlu disadari dan terus dibawa dalam pikiran kita, bahwa yang diperlukan adalah perspektif win-win. Wajar bahwa manusia ingin keputusan yang maksimal menguntungkan dirinya, tetapi cara berpikir "saya harus menang dan dia kalah" serta sikap tidak bersedia berkompromi justru dapat merugikan.

Tidak adanya perspektif "menang-menang" mungkin akan menyebabkan kedua belah pihak sama-sama kehilangan. Lebih sial, bila sikap ingin mengalahkan justru menyebabkan kita kehilangan banyak hal, dan pihak lain malah memperoleh kemenangannya. Terkait hal di atas, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yakni (a) tujuan ataugoal dari negosiasi, (b) memahami cara berpikir pihak lain, serta (c) awas mengenai cara atau pendekatan kita dalam berkomunikasi.

Mengingat kedua belah pihak akan sama-sama berjuang memperoleh yang diinginkan, dari awal perlu lengkap direnungkan atau didiskusikan secara internal, berbagai pilihan yang mungkin, apa yang dianggap sangat penting dan harus diperjuangkan, dan apa yang dapat dikompromikan. Misal, karena proyek yang sedang diperjuangkan merupakan proyek penting untuk memastikan kelangsungan hidup perusahaan, apa yang dapat dikompromikan? Apakah harga/nilai proyek? Ataukah cakupan kerjanya? Apa yang tidak dapat dikompromikan? Bahwa proyek itu harus diperoleh dengan kualitas hasil kerja yang cukup baik?

Dalam persoalan rumah tangga, situasinya menjadi lebih kompleks, karena kita sering sulit mengambil sikap sepenuhnya obyektif dan rasional. Ada banyak emosi dan luka batin yang berperan mempengaruhi proses negosiasi. Misal, sudah telanjur ada perasaan marah sekaligus takut akan terjadinya kembali penyelewengan dan peristiwa menyakitkan. Atau sebaliknya, si A terlalu takut untuk mengambil keputusan berpisah karena desakan keluarga besar untuk mempertahankan perkawinan, meskipun sesungguhnya pasangannya orang yang sama sekali tidak peduli dan tidak bertanggung jawab. Bila telah hadir anak, bagaimana pula memastikan keputusan diambil dengan mempertimbangkan kepentingan terbaik anak?

Relasi kuasa

Bagaimanapun situasinya, penting bagi kita untuk tidak lupa mencoba menempatkan diri dalam posisi pihak lain, untuk memahami cara berpikirnya, mengantisipasi apa yang diinginkannya, dan membayangkan langkah-langkah yang akan dilakukannya.

Hal penting adalah cara kita berkomunikasi. Secara umum orang akan kurang nyaman dan mudah kesal berkomunikasi dengan pihak yang kurang bersedia mendengar, bersikap menyalah-nyalahkan atau tidak bersedia berkompromi. Kesediaan mencoba memahami perspektif pihak lain dan kesadaran akan peran penting dari cara berkomunikasi akan membantu kita berjuang tetap menampilkan ekspresi tenang dan positif, saat kekesalan, rasa marah, dan emosi negatif lain bergerak meninggi.

Kita perlu mengecek diri sendiri: apakah selama ini kita ternyata (menurut teman-teman yang berani jujur kepada kita) adalah orang yang mudah tersulut emosi dan kurang mampu mendengar? Atau sebaliknya, jangan-jangan kita terlalu mengalah, tidak berani memperjuangkan hak dasar kita? Sebelum pertemuan negosiasi, mungkin diperlukan latihan-latihan untuk dapat berkomunikasi secara luwes, asertif, dan strategis.

Realitas hidup ini menyadarkan kita bahwa manusia memiliki kedudukan sosial dan kekuasaan yang sering tidak setara. Beruntunglah ia yang ada di posisi lebih kuat, misalnya atasan di tempat kerja, atau orang yang memegang uang dan kendali dalam rumah tangga. Ia yang posisinya lebih lemah memang mau tidak mau, perlu berjuang lebih keras, bersikap lebih sabar, lebih luwes, dan menyiapkan diri dengan pendekatan-pendekatan lebih strategis untuk memperjuangkan tujuannya.

Yang indah adalah bila semua pihak sampai kepada kesepakatan atau titik temu yang win-win dalam kebesaran jiwa. Bila demikian halnya, konflik dan kesulitan hidup menjadi hal yang mendewasakan dan membentuk kita menjadi pribadi lebih bijaksana.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 20 Agustus 2016, di halaman 25 dengan judul "Negosiasi".

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Jumat, 29 Juli 2016

PSIKOLOGI ”This Too, Shall Pass...” (KRISTI POERWANDARI)

Entah siapa yang mengirim pertama kali, saya pernah memperoleh pesan indah dalam grup Whatsapp (WA): "This too, shall pass". Dengan sebuah cerita atau perumpamaan, mengenai seorang tukang cincin yang diminta untuk mengukir sebuah kalimat bijak yang paling bijak. Ia bingung, tetapi akhirnya memilih frase "This too, shall pass", "Yang ini pun, akan berlalu".

Bila ditelusuri, pepatah ini lahir dari kaum sufi Persia abad pertengahan, yang kemudian diadopsi dalam pidato kenegaraan Abraham Lincoln pada tahun 1859. "This too, shall pass" sering dinasihatkan oleh orang yang menyayangi kita saat kita mengeluh karena berada dalam masalah berat. Tetapi, sesungguhnya, "This too, shall pass", "yang ini pun, akan berlalu", mengandung pesan yang jauh lebih dalam, dan akan sangat membantu menguatkan kesejahteraan psikologis kita, bila dapat diingat kapan pun, saat sedih ataupun saat senang.

Manusia memiliki kapasitas sangat unik, dalam hal dapat secara mental menjelajahi hidup tanpa terbatasi oleh waktu. Kita dapat bertransendensi melampaui "sekarang" dan "hari ini" dengan membayangkan masa lalu dan masa depan. Mengenang masa lalu seolah masih hidup di masa sekarang, membayangkan yang belum terjadi seolah itu sudah dan sedang terjadi. Dan, itu dapat kita manfaatkan untuk memaksimalkan kesehatan mental kita dan mendewasakan diri.

Ketika di bawah

Ada saat di mana kita merasa "sangat di bawah": orang yang disayangi meninggal, pasangan berselingkuh dan membohongi, anak yang sangat dibanggakan ternyata kecanduan narkoba, harta habis karena ditipu orang, sakit parah, dan lain sebagainya.

Bruehlman-Senecal dan Ayduk (2015) menulis "This Too Shall Pass: Temporal Distance and the Regulation of Emotional Distress". Dalam artikel tersebut, mereka melaporkan rangkaian penelitian eksperimental yang menyimpulkan mengenai bagaimana orang mampu mengambil jarak untuk memahami kesementaraan waktu, untuk dapat meregulasi (mengatur, mengelola) emosi yang sedang terganggu atau kacau akibat peristiwa yang sangat menyedihkan atau menyakitkan.

Temuan mereka menjelaskan bahwa manusia dapat dan memang efektif menggunakan perspektif jarak temporal dalam menyeimbangkan kembali kekacauan emosinya, dengan memfokuskan perhatian bukan pada kejadian buruk yang sedang dialami. Yang dilakukan adalah menyadarkan diri dan mengarahkan perhatian pada aspek "sementara" atau "tidak permanen", dari kejadian atau perasaan buruk yang dihayati.

Penelitian lebih jauh menunjukkan bahwa kemampuan untuk mengambil jarak dan melihat peristiwa buruk sebagai "tidak permanen" atau "sementara" membantu meningkatkan kesejahteraan psikologis manusia. Baik untuk jangka pendek (mengurangi stres atau afek negatif), maupun jangka panjang (membantu lebih stabilnya emosi positif dalam jangka panjang, memfasilitasi kemampuan mengendalikan diri).

Ketika di atas

Sekarang memang menghadapi masalah berat, tetapi besok kondisi akan berubah. Saat ini memang sedang merasa sangat sedih dan terpuruk, tetapi nanti akan mengalami perasaan bahagia lagi.

Bukan saja kemampuan menjaga jarak ini penting saat kita dalam kondisi buruk, tetapi sebenarnya juga sangat penting saat kita dalam kondisi baik atau "di atas". Saya mencari-cari artikel internasional mengenai ini, tetapi belum menemukan yang komprehensif. Beruntung kita memiliki acuan dari budaya kita sendiri, misalnya dalam konsep "eling".

Ketika sedang di atas, dalam kebahagiaan luar biasa, memiliki uang banyak, dirubung orang karena berkuasa, menjadi orang terkenal, didengar suaranya, dianggap sebagai sosok penting, dan dapat mengambil keputusan mengenai nasib orang lain, menjadi lebih mudah bagi kita untuk lupa. Kita lupa bahwa kondisi "di atas" sangat berbahagia, atau dalam puncak keberhasilan, adalah juga, sementara saja.

Lupanya manusia, sering bukan karena sengaja. Penjelasannya dapat dicari dalam konsep-konsep dasar psikologi: pembiasaan, persepsi, motivasi, emosi, dan konsep-konsep terkait lainnya, yang akan beroperasi dalam diri dengan tidak bisa dilepaskan dari peran sosial yang ada.

Isi persepsi, motivasi, dan emosi dapat dikonstruksi. Dalam berhubungan dengan pemimpin, lingkungan atau orang dekat mungkin saja mengatur perilaku dan cerita mereka dengan motivasi berbeda-beda. Misalnya, agar pemimpin tidak kecewa, tidak marah, terus merasa senang, juga untuk menciptakan kesan baik tentang diri sendiri, untuk mengendalikan pemimpin, dan sebagainya. Cerita atau informasi diatur sedemikian rupa untuk membangun persepsi atau penyimpulan tertentu, evaluasi tertentu, emosi tertentu, motivasi tertentu, hingga perilaku tertentu.

Jadi, "berada di atas" itu memang membuat kita mudah untuk lupa.

Berada "di atas" bukan terkait uang atau kekuasaan saja. Kita mungkin juga menghayati kebahagiaan luar biasa atas kehidupan yang terasa sungguh sempurna. Barangkali karena semua berjalan lancar, anak berhasil dan jadi juara sangat hebat, atau sedang memiliki hubungan cinta yang sangat indah atau menggairahkan. Kita menyangka itu akan abadi. Lupa, bahwa segala yang terjadi itu mungkin sementara saja.

Konsep "eling" atau "ingat", dalam pemahaman saya pribadi, punya kelebihan dibandingkan konsep "jarak temporal" karena "eling" bicara mengenai konteks waktu, kesementaraan, tetapi juga mengenai esensi situasi atau posisi.

"This too, shall pass" yang ini pun akan berlalu. Keterpurukan itu sementara saja, demikian pula kekuasaan, kehebatan, dan kondisi mabuk kebahagiaan. Konsep "eling" mengajarkan pemahaman mengenai kesementaraan waktu, dan ketidakabadian posisi dalam arti esensi dari eksistensi. Maka, tenang dan rendah hatilah manusia yang menghayatinya.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 30 Juli 2016, di halaman 25 dengan judul ""This Too, Shall Pass..."".

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

KESEHATAN Perlukah Panti Wreda? (DR SAMSURIDJAL DJAUZI)

Sejak ayah meninggal setahun yang lalu, ibu saya yang berumur 78 tahun tinggal dengan penjaga orang usia lanjut. Kami, tiga orang anak beliau, mengajak ibu untuk tinggal di rumah kami. Beliau boleh memilih di mana akan tinggal atau boleh juga berpindah sesuai keinginan beliau. Kakak saya sekarang berumur 55 tahun, laki-laki, masih bekerja dan tinggal di kota lain. Saya anak kedua, perempuan, bekerja sebagai pegawai di sebuah bank. Suami saya seorang dokter. Adik saya laki-laki, pengusaha yang cukup sibuk. Namun, atas berbagai alasan, terutama karena tidak ingin menyusahkan kami, ibu memilih tinggal sendiri. Kami amat khawatir dengan keadaan beliau karena beliau mempunyai penyakit kencing manis dan jantung koroner. Bahkan, dua tahun yang lalu dirawat di rumah sakit dengan stroke ringan.

Kami bergantian mengantar ibu kontrol ke dokter. Keadaan kesehatan ibu menurut dokter cukup baik bagi orang seusia beliau. Hanya saja, belakangan ini dokter mengatakan bahwa ibu mengalami depresi. Dia mulai enggan minum obat dan sering lupa. Kami percaya pada penjaga orang sakit yang menemani beliau. Penjaga tersebut telah menemani ibu sejak bapak meninggal. Tugas penjaga tersebut benar-benar hanya menjaga ibu karena untuk urusan rumah tangga ada asisten rumah tangga. Saya sering memancing apa penyebab depresi ibu dari penjaga ibu. Katanya, ibu sering bicara tentang bapak yang sudah tak ada. Ibu juga merasa sepi tak ada teman-teman untuk bicara. Memang kami anak-anak beliau bergantian datang pada hari libur sekitar 2 jam dari pukul sepuluh pagi sampai makan siang. Rupanya kedatangan kami masih belum dapat menghapus rasa kesepian beliau.

Belakangan ini ibu sering bertanya tentang panti wreda. Beliau ingin tinggal di panti wreda agar dapat berkumpul bersama orang lanjut usia. Dia merasa jika banyak teman tentu rasa sepinya berkurang. Kami dapat berkunjung pada hari libur membawa cucu beliau. Kami merundingkan keinginan ibu, sebenarnya kami tidak tega untuk membiarkan ibu tinggal di panti wreda. Hanya kami juga tak ingin ibu salah paham menyangka kami tidak bersedia membiayai beliau tinggal di panti wreda. Jadi, akhirnya diputuskan ibu boleh mencoba dulu, jika betah boleh tinggal lama.

Di kota saya hanya ada beberapa panti wreda. Bagaimana memilih panti wreda yang baik? Apakah perlu layanan dokter di panti wreda? Apakah keselamatan ibu dapat terjamin di panti wreda. Mungkinkah panti wreda juga memfasilitasi kontrol ibu sebulan sekali ke rumah sakit? Terima kasih atas jawaban dokter

M di J

Pada umumnya, keluarga di Indonesia ingin merawat orangtuanya di rumah. Kehangatan keluarga diharapkan dapat membahagiakan orangtua yang sudah berusia lanjut. Perasaan dianggap kurang mencintai orangtua jika orangtua dikirim ke panti wreda juga ada. Mungkin itulah yang menyebabkan jumlah panti wreda di Indonesia tak sebanyak di luar negeri. Saya pernah melihat panti wreda di Jepang. Jumlah panti wreda di Jepang mencapai ribuan, lagi pula panti wreda di Jepang mendapat subsidi pemerintah. Suami istri banyak yang bekerja. Biaya untuk mempunyai penjaga orang usia lanjut mahal, dan jika yang bersangkutan harus tinggal di rumah biasanya tak ada kamar karena rumah orang Jepang pada umumnya kecil. Jadi dapat dimaklumi mereka memilih agar orangtua mereka tinggal di panti wreda agar pemeliharaannya lebih terjamin.

Situasi keluarga Anda memang juga kurang mendukung untuk dapat merawat ibu Anda dengan baik. Anda, kakak, dan adik Anda sibuk. Jadi pilihan agar ibu tinggal di panti wreda dapat dimengerti. Saya anjurkan agar Anda berkunjung ke panti wreda yang diminati. Cobalah lihat dengan mata kepala sendiri apakah panti tersebut nyaman dan keamanan serta keselamatan ibu Anda akan terjamin. Cobalah berbincang dengan penghuni yang ada, bagaimana perasaan mereka tinggal di panti wreda. Jangan lupa pertimbangkan juga akses ke panti wreda tersebut, apakah mudah dicapai dari rumah Anda, apakah jika ibu sakit ada layanan kesehatan sementara atau layanan rujukan ke rumah sakit terdekat.

Tampaknya, ibu Anda masih mandiri, jadi jangan lupa perhatikan masalah kebersihan. Lingkungan, kegiatan yang ada termasuk rekreasi, makanan, fasilitas kamar mandi, dan sudah tentu juga biaya. Sebagian penghuni panti wreda mungkin memerlukan dukungan untuk ke kamar mandi, berpakaian, bahkan juga makan. Saya pernah melihat panti wreda yang ternyata sekitar 50 persen penghuninya memerlukan bantuan untuk berpakaian. Jumlah petugas untuk menemani dan memberikan dukungan harus cukup.

Fasilitas penunjang, seperti kursi roda, juga harus mencukupi. Agar penghuni dapat menikmati tinggal di panti wreda, harus ada acara bersama yang menjadi rekreasi bagi penghuni. Semua fasilitas di panti wreda, baik lantai maupun kamar mandi, harus didesain sedemikian rupa agar penghuni tidak mengalami kecelakaan, termasuk jatuh. Tanda panggilan segera, baik dengan lonceng maupun bel, harus dapat mendatangkan petugas dengan cepat untuk menolong penghuni.

Biaya tinggal di panti wreda sampai saat ini belum dijamin oleh asuransi. Jadi, keluarga Anda harus menanggung biaya tinggal di panti wreda. Ini juga harus dipertimbangkan baik-baik karena ibu Anda akan tinggal di panti wreda dalam jangka waktu lama. Kesinambungan pengobatan ibu juga harus terjamin. Daftar obat serta ketersediaan obat harus mencukupi. Petugas panti wreda harus membantu ibu agar tak ada obat yang lupa diminum atau obat habis. Ibu Anda juga mempunyai penyakit kencing manis. Ini harus diinformasikan kepada pengurus panti wreda sehingga pengaturan makan, aktivitas, serta obat pengatur gula diminum dengan teratur sesuai dengan nasihat dokter. Secara berkala pengukuran kadar gula juga perlu dilakukan.

Panti wreda harus mencegah penularan penyakit di antara para penghuni. Karena itu, ventilasi udara, serta kebersihan makan dan minum harus dijaga. Jika ada penghuni yang mempunyai penyakit menular harus dijamin agar dia tak menulari penghuni lain. Keadaan kesehatan penghuni perlu dipantau secara berkala. Jika kesehatan menurun, keluarga harus diberitahu, mungkin diperlukan perawatan di rumah sakit.

Penyakit yang sering menular di panti wreda adalah penyakit yang dapat menular melalui udara, seperti influenza, pneumonia, dan tuberkulosis. Keluarga Indonesia yang mempunyai anggota keluarga yang berusia lanjut sudah banyak. Jumlah orang yang berusia lanjut sudah melebihi 20 juta. Meski sebagian besar keluarga ingin merawat sendiri orang usia lanjut di rumah mereka, pada masa depan keberadaan panti wreda akan dibutuhkan. Saya harap ibu Anda tetap sehat dan berbahagia. Begitu pula Anda sekeluarga tetap menjaga kesehatan.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 30 Juli 2016, di halaman 25 dengan judul "Perlukah Panti Wreda?".


Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

INVESTASI Apakah Dividen? (ADLER HAYMANS MANURUNG)

Baru-baru ini datang pertanyaan kepada penulis, apakah dividen itu? Apakah ada jenis dividen yang dibagikan? Sinyal apa yang disampaikan perusahaan atas pembagian dividen? Apakah harga saham harus turun setelah ex-dividen date?

Dividen adalah sesuatu yang diberikan perusahaan atau pengembalian perusahaan kepada pemilik saham atas investasinya di perusahaan dalam bentuk saham. Dividen tersebut dapat dibedakan ke dalam tiga jenis dividen, yaitu dividen tunai, dividen saham, dan dividen in-kind(bukan tunai dan saham). Dividen tunai adalah dividen secara tunai yang dibayarkan perusahaan kepada investor tergantung besaran yang ditentukan oleh pemegang saham pada saat rapat umum pemegang saham (RUPS).

Bila perusahaan membagikan dividen sebelum ada keputusan RUPS, lebih dikenal dengan dividen interim. Dividen interim ini merupakan keputusan direksi melalui sebuah rapat direksi baik diikuti komisaris maupun tidak di mana pemegang saham di banyak perusahaan selalu membuat representasinya dalam komisaris perusahaan. Artinya, bisa jadi keputusan direksi merupakan usulan dari komisaris ketika mereka melakukan rapat baik rapat komisaris bergabung dengan direksi.

Bila pada RUPS ditentukan besaran dividen oleh pemegang saham, perusahaan akan membayar tambahan dividen jika dividen interim lebih kecil dari dividen yang dibayarkan atas keputusan RUPS. Sangat jarang besarnya dividen yang dibayarkan lebih kecil dari dividen interim karena akan meminta kembali atas yang dibayarkan. Oleh karenanya, dividen interim selalu kecil dan memperhatikan laba bersih dari perusahaan. Biasanya, dividen interim dibayarkan setelah bulan Juli karena sudah kelihatan kinerja enam bulan tahun berjalan. Akibat pembayaran dividen ini, rincian tunai (kas) di perusahaan akan mengalami penurunan dan lawannya menurunkan laba ditahan. Biasanya, laba ditahan ini tidak mempunyai biaya sehingga sering kali direksi tidak mau membagikan dividen agar ada dana untuk investasi dalam rangka kelanjutan operasi perusahaan (going concern).

Jika investor memiliki saham preferen, pemegang saham preferen akan mendapatkan dividen tunai setiap tahun secara konstan, terkecuali perusahaan mengalami kerugian yang bersangkutan. Tetapi, bila perusahaan mengalami kerugian pada tahun berjalan, perusahaan tidak membagikan dividen preferen kepada pemegang saham preferen pada tahun berjalan akan dilakukan pada tahun berikutnya ketika perusahaan sudah mengalami keuntungan. Pembagian dividen preferen tidak memerlukan keputusan RUPS karena sudah menjadi karakteristik dari saham preferen.

Dividen saham adalah pemilik saham mendapatkan saham tambahan atas adanya pembagian dividen yang diberikan secara saham. Artinya, laba ditahan yang dimiliki perusahaan dikonversikan menjadi saham. Oleh karena itu, secara akuntansi laba ditahan perusahaan mengalami penurunan dan jumlah modal setor meningkat. Artinya, jumlah saham yang dikeluarkan perusahaan mengalami peningkatan. Pembagian saham dividen ini juga memerlukan keputusan RUPS dan sedikit jarang perusahaan membagi dividen saham sebelum ada keputusan RUPS, seperti diuraikan sebelumnya yaitu dividen interim.

Dividen bukan tunai dan saham yang lebih dikenal dengan dividen in-kindadalah dividen yang diberikan perusahaan dalam bentuk barang. Biasanya, perusahaan yang bukan mencari laba sering melakukan ini. Bisa diperhatikan, PT Bursa Efek Indonesia, PT KSEI, dan PT KPEI yang bergerak dalam bursa saham tidak pernah membagikan dividen kepada pemegang sahamnya. Direksi ketiga perusahaan tersebut membagikan barang, seperti laptop dan pelatihan untuk pegawai perusahaan pemilik saham ketiga perusahaan. Ketiga perusahaan sering disebut perusahaan yang tidak mencari laba dan bisa juga disebut perusahaan publik walaupun ketiga perusahaan tidak memiliki pemegang saham lebih dari 300 pihak. Ini yang disebut dengan dividen in-kind.Voucher menginap di hotel, vouchermakan di restoran, dan bentuk voucherlainnya merupakan bentuk dividen in-kind. Perusahaan yang nirlaba sering kali menggunakan cara ini untuk memberikan pelayanan kepada pemegang sahamnya.

Pemegang saham yang mendapatkan dividen harus membayar pajak kepada pemerintah atas pendapatan ini. Kalau diperhatikan secara saksama, pemerintah melakukan pajak berganda dalam dividen ini. Laba bersih perusahaan sudah dikenai pajak, dan laba bersih tersebut diberikan kepada pemegang saham dikenai pajak lagi. Bila dividen tunai yang dikenai pajak, maka perusahaan memotong pajak dividen tersebut sehingga yang dibayarkan perusahaan dividen yang telah dipotong pajak. Demikian juga untuk dividen in-kind yang dalam bentuk voucher yang diberikan kepada pemegang saham sudah dipotong pajak.

Sementara untuk dividen saham, perusahaan akan menyatakan kepada pemegang saham harus membayar pajak atas dividen saham yang diterimanya. Sering kali, perusahaan mengumumkan kepada pemegang saham untuk membayar pajak lebih dulu dan menyerahkan bukti pembayaran baru pemegang saham menerima saham atas pembagian dividen saham tersebut. Jika pemegang saham belum membayar, perusahaan tidak akan membagikan dividennya.

Perusahaan membagikan dividen dengan memberikan sinyal kepada pemegang saham, yaitu perusahaan menyatakan bahwa perusahaan tidak mempunyai investasi yang menarik di masa mendatang sehingga uang pemegang saham tidak bisa dikembangbiakkan. Artinya, pengembangan uang investor bisa dilakukannya sendiri dengan cara perusahaan membagikannya dan melakukan investasi atas uang tersebut. Padahal, investor memandang pembagian dividen tersebut merupakan sinyal bahwa perusahaan mempunyai uang yang banyak sehingga banyak pihak yang membeli saham karena perusahaan dianggap mempunyai kinerja baik.

Biasanya, harga saham di bursa saham akan mengalami penurunan sebesar nilai dividen tersebut karena pihak yang membeli saham tidak mendapatkan dividen. Oleh karena tidak mendapatkan dividen, pembeli saham tidak mau membayar lebih mahal atas pembelian saham tersebut.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 30 Juli 2016, di halaman 25 dengan judul "Apakah Dividen?".

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Jumat, 22 Juli 2016

KESEHATAN Remaja Sukar Tidur (DR SAMSURIDJAL DJAUZI)

Saya siswi SMA berumur 17 tahun, sekarang baru naik ke kelas III. Tinggi badan saya 167 sentimeter dan berat badan 62 kilogram. Saya merasa sehat saja dan termasuk rajin main basket. Saya ingin menanyakan beberapa hal tentang kesehatan.

Saya enggan membicarakannya dengan ibu dan malu bertanya kepada guru di sekolah. Ayah dan ibu bekerja. Saya anak kedua dari tiga bersaudara. Kakak saya perempuan, sudah semester VI di suatu fakultas dan tinggal di kota lain. Adik saya laki-laki berumur 14 tahun, kelas II SMP.

Saya hampir tak pernah ke dokter kecuali ke dokter gigi. Saya pernah mengalami gangguan jerawat yang cukup banyak, namun ibu tidak sempat mengantar ke dokter. Akhirnya saya menggunakan obat jerawat teman saya. Untunglah hasilnya baik. Saya menstruasi setiap bulan tak teratur. Saat menstruasi, sakitnya lumayan hebat dan konsentrasi belajar saya menurun, terutama pada hari pertama menstruasi. Saya tanyakan kepada ibu dan beliau mengatakan dulu beliau juga mengalami hal yang sama. Jadi, saya biarkan saja karena menurut ibu nanti juga hilang.

Ada hal yang mengganggu saya belakangan ini. Saya sukar tidur. Saya baru tertidur sekitar pukul 01.00 dini hari. Akibatnya, pagi hari saya bangun masih mengantuk sehingga sering terlambat sekolah.

Saya merasakan hal ini setelah bertengkar hebat dengan ayah. Ayah saya punya sikap keras. Saya merasa gerak saya terlalu dibatasi. Saya tak boleh ikut pesta ulang tahun teman jika diadakan malam hari dan saya menurut. Saya juga tidak boleh keluar rumah selain ke sekolah. Ini mengganggu kegiatan saya. Saya senang ke toko buku dan berolahraga basket. Saya harus melakukannya tanpa sepengetahuan ayah.

Satu hari ayah pulang kerja lebih cepat dari biasa. Pulang sekolah saya latihan basket. Mendapati saya tak di rumah, ayah menelepon sambil marah agar saya segera pulang. Saya pulang dan dimarahi habis-habisan. Semula saya diam saja, namun kemudian berusaha untuk menjelaskan apa yang saya lakukan. Namun, beliau bertambah marah. Saya menangis masuk kamar dan tak mau ketemu ayah hampir tiga hari.

Ibu membujuk saya agar saya minta maaf kepada ayah. Saya merasa tak bersalah, namun pada akhirnya saya merasa sebagai anak harus menghormati orangtua. Saya minta maaf kepada ayah, namun ayah menyambutnya secara dingin. Sejak itu saya sering gelisah. Saya menyayangi ayah saya, namun saya tak suka pada sikap pemarahnya. Saya iri kepada teman-teman putri saya yang disayangi oleh ayahnya. Meski ibu amat peduli kepada saya, saya merasa ayah tak mengacuhkan saya. Bahkan, dia pernah lupa ulang tahun saya.

Bagaimana cara agar saya bisa tenang kembali dan dapat mempunyai hubungan yang baik dengan ayah? Apakah saya membutuhkan psikolog atau psikiater? Teman saya menganjurkan agar saya membeli obat tidur, tetapi saya tak mau karena takut kecanduan. Apakah sering remaja seusia saya mengalami sukar tidur? Apakah dapat disembuhkan? Terima kasih atas jawaban dokter.

N di J

Saya merasa gembira Anda mau mengirimkan surat untuk ruang konsultasi ini. Cukup banyak remaja yang mengalami kesulitan tidur. Sebagian mencari jalan keluar sendiri. Ada yang bertanya kepada teman dan terbanyak adalah mencari informasi di media sosial. Hanya, dalam mencari informasi, kita harus mencari sumber yang berwenang dan dapat dipercaya.

Masalah kesehatan remaja seperti yang Anda sampaikan banyak menyangkut pertumbuhan (tinggi dan berat badan), penampilan (jerawat, rambut rontok), atau kesehatan reproduksi (menstruasi, dan lain-lain). Dan sebenarnya yang juga sering dialami adalah masalah psikis, termasuk hubungan dengan orangtua dan teman.

Pada umumnya orangtua sekarang sibuk bekerja. Mereka ingin mempunyai pendapatan yang cukup untuk membiayai keluarga. Dalam kesibukannya, sering orangtua tak menyadari bahwa anak-anak mereka telah tumbuh, bahkan sudah menjadi remaja dengan berbagai suka dukanya. Beruntunglah keluarga yang masih mampu menjalin komunikasi keluarga dengan baik. Waktu bertemu yang tak seberapa, misalnya di meja makan atau pada malam hari, masih dapat dimanfaatkan untuk berkomunikasi antar-anggota keluarga.

Namun, banyak juga keluarga yang tak dapat memanfaatkan kesempatan tersebut. Anak sibuk dengan gawai di kamarnya. Orangtua pun sering membawa pekerjaan ke rumah dan sibuk dengan pekerjaannya. Bukan hanya komunikasi orangtua dan anak yang terganggu, komunikasi suami istri juga dapat mengalami gangguan. Keadaan ini merupakan tantangan yang harus dihadapi keluarga masa kini.

Tumbuh kembang anak memerlukan bimbingan orangtua. Sering kali karena kesibukan, orangtua tak sempat memperhatikan anaknya. Mereka tak mengetahui masalah yang dihadapi anak mereka. Sering kali kesadaran timbul terlambat, anak sudah terjebak narkoba atau kriminalitas.

Saya senang hubungan Anda dengan ibu cukup baik. Peliharalah hubungan tersebut. Anda dapat mengemukakan kepada ibu apa yang Anda rasakan terhadap ayah. Ibu mungkin secara perlahan dapat menyampaikannya kepada ayah. Saya percaya ayah Anda amat menyayangi Anda. Namun, rasa sayangnya itu dimanifestasikan dalam bentuk perlindungan berlebihan.

Ayah Anda tak ingin Anda mendapat kecelakaan sehingga Anda tak boleh keluar rumah kecuali sekolah. Padahal, remaja seumur Anda membutuhkan kegiatan dan pergaulan. Ayah Anda takut Anda terpengaruh oleh teman-teman yang mempunyai kebiasaan tidak baik. Jadi, rasa sayangnya mengakibatkan Anda terkungkung. Cobalah pada waktu kumpul bersama pada hari libur Anda menjelaskan keinginan Anda. Tunjukkan Anda adalah gadis yang bertanggung jawab dan sudah mampu menjaga diri. Mungkin ayah Anda masih merasa Anda adalah gadis kecilnya dulu yang selalu harus dilindungi. Karena setiap hari berjumpa, dia tak menyadari perubahan yang telah terjadi pada diri Anda.

Psikolog atau psikiater dapat membantu memperbaiki komunikasi dalam keluarga. Mungkin sukar tidur yang Anda alami dapat diatasi dengan berkonsultasi kepada psikiater. Untuk berkonsultasi kepada dokter, Anda mungkin masih ditemani orangtua. Namun, dokter biasanya akan memberi kesempatan kepada remaja untuk berkonsultasi sendiri sehingga remaja dapat mengemukakan perasaannya tanpa kehadiran orangtua.

Orangtua juga harus memahami bahwa remaja perlu lebih bebas untuk menceritakan apa yang dirasakannya kepada dokter. Orangtua biasanya cepat tanggap jika anaknya demam tinggi. Mereka akan segera membawanya ke dokter. Gangguan emosi, seperti juga demam, perlu mendapat perhatian. Jika berjalan lama, gangguan emosi dapat mengganggu kesehatan jiwa. Gangguan tidur (insomnia) pada umumnya dapat disembuhkan.

Saya berharap hubungan Anda dengan ayah akan membaik kembali. Anda mencintai ayah Anda dan beliau pun mencintai Anda. Hanya, yang harus diperbaiki adalah komunikasi antara Anda dan ayah. Saya berharap komunikasi tersebut dapat terbina dengan baik. Saya juga berharap insomnia Anda segera sembuh.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 23 Juli 2016, di halaman 25 dengan judul "Remaja Sukar Tidur".

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.
Related Posts with Thumbnails

Synergy Worldwide, Andalkan Vital 3!

Synergy Worldwide, Andalkan Vital 3!
Synergy Worldwide, Andalkan Vital 3!

Skincare: The Revolution in Anti-Aging

Skincare: The Revolution in Anti-Aging
Dokumen Sehat Sinergis

Pilihan Investasi

Pilihan Investasi
Ada dua pilihan: jika Ikut Menjadi Member Bisnis Synergy

Produk Synergy WorldWide

Loading...
Word of the Day

Article of the Day

This Day in History

Today's Birthday

In the News

Quote of the Day

Spelling Bee
difficulty level:
score: -
please wait...
 
spell the word:

Match Up
Match each word in the left column with its synonym on the right. When finished, click Answer to see the results. Good luck!

 

Hangman

Hubungi, kami siap melayani anda:

Untuk info lanjut
hubungi:

Ibu Liong (021-33431704)


Sertifikasi Produk Synergy WorldWide

Produk -produk Synergy / NSP di Indonesia telah terdaftar pada Departemen Kesehatan RI dan memiliki izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM), serta memperoleh sertifikat Halal dari IFANCA (The Islamic Food and Nutrition Council of America) yang disahkan oleh LP POM MUI.